Dari Batik ke Wax, Dialog Budaya Indonesia dan Afrika Digelar di Paris
Paris, 10 Oktober 2026 – TOMO Media dan La Maison de l’Indonésie menggelar diskusi budaya bertajuk “Du Batik au Wax, itinéraires et symboles d’un tissu entre l’Asie et l’Afrique” atau “Dari Batik ke Wax: Perjalanan dan Simbolisme Kain antara Asia dan Afrika” di Paris, Sabtu (10/10).
Bertempat di La Maison de l’Indonésie, 5 rue Jean Zay, Paris, kegiatan ini dihadiri sekitar 30 peserta yang mengikuti diskusi mengenai sejarah tekstil, identitas budaya, serta pertukaran pengaruh antara Asia, Afrika, dan Eropa.

Diskusi ini menyoroti perjalanan Wax, tekstil yang kini menjadi bagian penting dari ekspresi budaya dan mode di berbagai wilayah Afrika, serta kaitan historisnya dengan teknik tekstil Indonesia, termasuk Batik. Melalui pertemuan lintas budaya ini, peserta diajak melihat kain bukan sekadar produk mode, tetapi juga sebagai cerminan sejarah, identitas, kreativitas, dan pertukaran budaya antarbenua.
Empat Pembicara dengan Perspektif Berbeda
Diskusi menghadirkan empat pembicara dari latar belakang yang beragam, yakni Suzanne Menyengue, Rosy Sambwa, Mickaël Nana, dan Aldrie Indrayana.Rosy Sambwa merupakan sejarawan mode Kongo-Belgia yang mendalami warisan tekstil Afrika serta hubungan antara politik, mode, dan kreativitas kontemporer. Pada 2026, ia bergabung dalam basis data pakar budaya Organisation internationale de la Francophonie (OIF).

Mickaël Nana adalah desainer mode Prancis berdarah Kamerun dan Guadeloupe, sekaligus pendiri merek MARLON NANA. Ia baru saja menyelesaikan residensi selama empat bulan di Indonesia melalui PINTU Residency Program untuk mengeksplorasi teknik tekstil tradisional Indonesia, khususnya Tenun dan Songket.

Sementara itu, Aldrie Indrayana merupakan desainer mode Indonesia dan pendiri merek ALDRIE. Karya-karyanya mengintegrasikan kekayaan warisan tekstil Indonesia, termasuk Batik dan Tenun, ke dalam desain kontemporer.
Keempat pembicara berbagi pandangan mengenai perjalanan tekstil lintas benua, pelestarian warisan budaya, serta perkembangan tradisi tekstil dalam dunia mode modern. Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang melibatkan para peserta.
Batik dan Wax, Jejak Pertukaran Budaya Antarbenua
Batik merupakan bagian penting dari identitas budaya Indonesia dan telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan sejak 2009. Sementara itu, Wax berkembang menjadi salah satu elemen penting dalam ekspresi budaya dan mode di berbagai masyarakat Afrika.
Kisah kedua tradisi tekstil tersebut memperlihatkan bagaimana perdagangan, perjalanan manusia, serta pertukaran teknik dan gagasan turut membentuk hubungan budaya yang melampaui batas geografis.

Melalui kegiatan ini, La Maison de l’Indonésie berupaya memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia di Paris sekaligus membangun jembatan dialog antara Indonesia, Prancis, Afrika, dan komunitas internasional.
Kolaborasi dengan TOMO Media juga menjadi ruang pertemuan untuk mendorong saling pengertian dan apresiasi terhadap keragaman budaya melalui pembahasan warisan tekstil yang memiliki perjalanan sejarah lintas negara dan benua.
Diskusi Budaya Berlanjut dengan Kuliner Indonesia
Setelah diskusi panel dan sesi tanya jawab, sekitar 30 peserta menikmati minuman dan sajian street food Indonesia yang disiapkan oleh La Maison de l’Indonésie.

Suasana tersebut memberikan kesempatan bagi para peserta untuk melanjutkan percakapan dan bertukar gagasan secara lebih akrab. Perpaduan diskusi budaya dan pengalaman gastronomi Indonesia menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan Indonesia melalui berbagai pendekatan.
Kegiatan ini menunjukkan bagaimana tekstil, mode, dan kuliner dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah serta tradisi masyarakat yang berbeda, sekaligus membuka ruang dialog dan kolaborasi lintas budaya.

