Ni Tanjung: Dari Sebuah Sudut Desa di Bali hingga Museum Seni Brut di Montpellier

Ada kisah tentang sebuah pertemuan yang bermula jauh dari museum, galeri, ataupun dunia seni internasional. Pertemuan itu terjadi di Bali, ketika seorang antropolog Swiss bernama Georges Breguet berjalan dan melihat seorang perempuan tua sedang bernyanyi dan menari di depan susunan batu yang dihiasi wajah-wajah. Perempuan itu adalah Ni Tanjung….

Lebih dari dua puluh tahun kemudian, wajah dan karya Ni Tanjung hadir di Montpellier, Prancis, dalam sebuah pameran di Musée d’Art Brut Montpellier. Pameran yang berlangsung sejak 2 September hingga 31 Desember 2026 ini menghadirkan assemblage, gambar dan karya-karya Ni Tanjung, termasuk karya dari koleksi pribadi Georges Breguet.

Pameran Ni Tanjung di Musée d’arts Brut

Pada Rabu, 16 September 2026, dalam sebuah kunjungan pers di museum tersebut, Georges Breguet kembali menceritakan perjalanan panjang yang menghubungkannya dengan Ni Tanjung.

Bagi yang mendengarkan ceritanya, sulit untuk melihat kisah ini hanya sebagai cerita tentang seorang kolektor yang menemukan seorang seniman.

Ada sesuatu yang jauh lebih personal di dalamnya.

Pertemuan yang mengubah sebuah kehidupan

Menurut materi pameran, Breguet bertemu Ni Tanjung pada 2004. Saat itu ia melihat seorang perempuan Bali yang sedang bernyanyi dan menari di depan sebuah susunan batu yang diberi bentuk seperti wajah-wajah.

Ni Tanjung memperlakukan tempat itu seolah-olah sebuah tempat suci. Ia menari, bernyanyi dan menjalankan ritualnya di hadapan susunan batu tersebut.

Bagi Breguet, pemandangan itu bukan sesuatu yang biasa.

Ni Tanjung bukan seniman yang datang dari sekolah seni. Ia tidak bekerja dengan aturan akademis, tidak mengikuti aliran seni tertentu dan tidak memiliki studio seperti yang dikenal dalam dunia seni modern.

Ia menciptakan dunianya sendiri.

Dan Breguet melihat sesuatu di dalam dunia tersebut.

Foto: Luciano Ferrero

Pada 2006, instalasi batu yang dibuat Ni Tanjung telah berkembang menjadi sangat besar, terdiri atas beberapa ratus batu. Namun kemudian instalasi itu dibongkar.

Ironisnya, kehancuran fisik karya tersebut justru menjadi salah satu titik yang membawa nama Ni Tanjung keluar dari lingkungannya dan masuk ke dalam perhatian dunia seni Indonesia maupun internasional.

Dari batu ke kertas

Setelah masa instalasi batu tersebut, kehidupan artistik Ni Tanjung berkembang dengan cara yang berbeda.

Di tempat tinggalnya, ia mulai membuat gambar, boneka dan assemblage dari bahan-bahan sederhana. Kertas, karton, bambu, tali dan material sehari-hari berubah menjadi manusia, wajah, binatang, tokoh dan figur-figur yang memenuhi dunianya.

Ia membuatnya dalam jumlah yang luar biasa.

Materi pameran Montpellier menyebut bahwa dalam waktu kurang dari sepuluh tahun Ni Tanjung menghasilkan lebih dari seribu assemblage.

Ia membuat karya-karya itu sambil menjalani kehidupannya sendiri, dikelilingi benda-benda yang ia ciptakan.

Georges Breguet tidak hanya melihat karya-karya tersebut.

Ia datang kembali.

Ia memotret Ni Tanjung. Ia mendokumentasikan kehidupannya. Ia membawa para peneliti untuk bertemu dengannya. Ia memperkenalkan karyanya kepada dunia seni dan membantu membuat karya-karya yang lahir di sebuah ruang sederhana di Bali itu dapat dilihat oleh institusi-institusi seni di Eropa.

Georges Bruguet. Foto: Aurelia

Georges Breguet sendiri memiliki latar belakang sebagai ilmuwan dan antropolog Swiss. Sejak tahun 1970-an ia melakukan berbagai penelitian dan misi ilmiah maupun kebudayaan di Indonesia, termasuk di Bali. Ia juga dikenal sebagai kolektor seni Indonesia.

Hubungan yang Lebih dari Sekadar Kolektor dan Seniman

Ada satu bagian dari percakapan saya dengan Georges Breguet di Montpellier yang membuat kisah ini terasa jauh lebih manusiawi.

Georges Breguet dan Dini Massabuau. Foto: Aurelia

Saya bertanya kepadanya mengenai siapa yang memegang hak atas karya-karya Ni Tanjung.

Breguet menjawab bahwa hak tersebut berada padanya.

Namun ia segera memberikan penjelasan agar hal itu tidak disalahpahami.

Menurut penuturannya, hubungan dirinya dengan Ni Tanjung tidak berhenti pada hubungan antara seorang kolektor dan seorang seniman.

Selama bertahun-tahun, telah terbentuk hubungan persahabatan yang dekat antara dirinya, Ni Tanjung dan anak-anaknya.

Ia mengenal keluarga Ni Tanjung. Ia datang berulang kali. Ia mengikuti perjalanan kehidupan perempuan tersebut dan terus meminta kepadanya untuk menciptakan karya.

Breguet juga mengatakan bahwa ketika ada karya Ni Tanjung yang terjual, ia juga memberikan bagian hasil penjualan tersebut kepada anak-anak Ni Tanjung.

Keterangan tersebut merupakan penuturan Breguet dalam konferensi pers dan menggambarkan bagaimana ia sendiri memahami hubungan tersebut.

Foto: Aurelia

Di luar persoalan kepemilikan dan hak secara hukum, ada fakta lain yang dapat dilihat dari perjalanan karya Ni Tanjung.

Sebagian karya yang berada dalam institusi seni Eropa memang berasal dari Breguet. Di beberapa institusi, karya-karya tersebut kemudian diberikan atau didonasikan kepada koleksi publik.

Dengan demikian, perjalanan karya Ni Tanjung tidak hanya bergerak dari Bali menuju museum-museum Eropa.

Di belakang perjalanan tersebut ada hubungan manusia yang berlangsung hampir dua dekade.

Sebuah Hubungan yang Menghidupkan Kembali Kreativitas

Mungkin kalimat paling menyentuh tentang hubungan mereka justru bukan berasal dari Breguet, melainkan dari Ni Tanjung sendiri.

Dalam materi pameran disebutkan bahwa Ni Tanjung pernah mengatakan kepada orang-orang di sekitarnya:

“Je ne vis que parce qu’il me rend visite et qu’il me demande de créer.”

“Saya hidup karena dia datang mengunjungi saya dan meminta saya untuk mencipta.”

Kalimat itu membuat hubungan mereka terasa berbeda.

Breguet bukan hanya seseorang yang melihat karya Ni Tanjung.

Ia adalah seseorang yang datang kembali.

Dan setiap kali ia datang, Ni Tanjung kembali menciptakan.

Dari pertemuan yang awalnya mungkin tampak sederhana itu lahirlah sebuah perjalanan panjang.

Breguet mendokumentasikan karya dan kehidupan Ni Tanjung, sementara Ni Tanjung terus menciptakan dunia yang hanya bisa lahir dari imajinasi dan pengalaman hidupnya sendiri.

Film L’Autel de l’aube de Ni Tanjung yang diterbitkan Collection de l’Art Brut Lausanne pada 2006 turut mendokumentasikan Ni Tanjung dan altar batu yang dibangunnya di pinggir jalan.

Dari Bali Menuju Dunia

Perjalanan Ni Tanjung akhirnya membawa karyanya jauh dari Bali.

Karyanya diperkenalkan kepada Collection de l’Art Brut di Lausanne dan kemudian masuk ke berbagai koleksi serta institusi seni.

Breguet menjadi salah satu figur penting dalam proses pengenalan tersebut.

Namun perjalanan ini juga menyimpan sebuah paradoks.

Karya-karya Ni Tanjung lahir dari dunia yang sangat personal dan sangat lokal.

Batu-batu yang ia susun berasal dari lingkungannya. Wajah-wajah yang ia gambar muncul dari dunianya. Bahan-bahan yang ia gunakan sederhana.

Tetapi dari kesederhanaan itulah muncul sesuatu yang kemudian menarik perhatian dunia seni internasional.

Pameran Ni Tanjung di Museum Seni Brut Montpellier

Hari ini, karya-karya tersebut berada di sebuah museum di Montpellier.

Di ruang pamer, pengunjung dapat melihat wajah-wajah Ni Tanjung yang penuh warna, figur-figur yang dipasang pada batang bambu, gambar-gambar dengan garis yang spontan, serta assemblage yang memperlihatkan bagaimana benda-benda sederhana dapat berubah menjadi sebuah dunia.

Namun mungkin yang paling menarik bukan hanya karya yang berada di dinding museum. Melainkan kisah manusia yang berada di belakangnya.

Seorang perempuan Bali yang selama bertahun-tahun menciptakan dunianya sendiri. Seorang antropolog Swiss yang berhenti ketika melihatnya. Sebuah persahabatan yang berlangsung bertahun-tahun.

Sebuah keluarga yang kemudian ikut terhubung dengan perjalanan karya-karya tersebut.

Dan sebuah perjalanan panjang dari sebuah sudut desa di Bali menuju ruang museum di Montpellier.

Sebuah warisan yang Terus Berjalan

Ni Tanjung meninggal pada 2020, tetapi karya-karyanya terus berbicara.

Di Bali, ia pernah berdiri di depan batu-batu yang ia susun sendiri, menari dan bernyanyi seolah-olah sedang berada di hadapan sebuah tempat suci.

Kini, bertahun-tahun kemudian, orang-orang yang tidak pernah mengenalnya dapat berdiri di depan karya-karyanya di sebuah museum di Prancis.

Mungkin di situlah letak keindahan terakhir dari kisah Ni Tanjung.

Ia tidak pernah harus meninggalkan Bali untuk membuat dunianya.

Dunianya yang kemudian melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang tidak pernah ia datangi.

Dan di balik perjalanan itu, ada seseorang yang selama bertahun-tahun memilih untuk kembali datang, melihat, mendengarkan dan meminta Ni Tanjung untuk terus mencipta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *