Budaya Jadi Jembatan Diplomasi, Indonesia Diperkenalkan di Sciences Po Paris

Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris, Assoc.Prof.Dr.oec.HSG Syarifa Hanoum, memberikan kuliah tamu bersama Dr. Fadhillah Sri Meutia, dosen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dalam sesi bertajuk “Culture as Soft Power: Understanding Indonesian Cultural Diplomacy through Politics, Identity, and Media” di Sciences Po Paris. Kuliah tersebut disampaikan kepada mahasiswa Master in International Governance and Diplomacy dalam mata kuliah Cultural Diplomacy, atas undangan Prof. Pierre Buhler.

Pemaparan materi oleh Atdikbud KBRI Paris

Kuliah tamu ini menghadirkan dua perspektif yang saling melengkapi: kajian akademik dari Indonesia dan praktik diplomasi langsung di lapangan. Tujuannya memperkaya wawasan mahasiswa mengenai kebudayaan sebagai instrumen Soft Power dalam hubungan internasional, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada mahasiswa internasional. Materi disampaikan lewat kerangka yang menghubungkan sumber daya budaya, keterlibatan, dan daya tarik, hingga terbentuknya pengaruh Indonesia di kancah global.

Dr. Fadhillah Sri Meutia membuka sesi dengan kerangka konseptual soft power, dilengkapi contoh warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia seperti Batik (diakui oleh UNESCO sejak 2009). Tak luput dari pembahasan, warisan budaya kuliner seperti Rendang, Nasi goreng, dan Sate, sebagai instrumen Gastrodiplomacy yang membangun rasa ingin tahu masyarakat internasional lewat makanan. Perfilman Indonesia turut disinggung sebagai media Narrative Diplomacy yang menampilkan identitas budaya populer Indonesia. Ia juga menyoroti Borobudur, Prambanan, dan Bali sebagai bukti kekayaan peradaban Indonesia yang diakui UNESCO.

Melanjutkan paparan tersebut, Atdikbud KBRI Paris Dr.oec.HSG Syarifa Hanoum menjelaskan praktik diplomasi budaya Indonesia dan Prancis yang berjalan dalam empat tingkatan. Di Tingkat Presiden, melalui kesepakatan kedua kepala negara yang menjadikan kebudayaan pilar kemitraan strategis. Di Tingkat Menteri, melalui pertemuan bilateral Menteri Kebudayaan dari Indonesia dan Prancis yang menghasilkan penandatanganan dokumen kerja sama warisan budaya dan permuseuman. Di Tingkat Atase Pendidikan dan Kebudayaan, KBRI Paris melalui Atase Pendidikan dan Kebudayaan memfasilitasi dan menjembatani kolaborasi akademik, seni, dan kebudayaan dengan berbagai institusi yang ada di Prancis. Sementara di Tingkat Masyarakat (people to people), kebudayaan Indonesia dihidupkan oleh komunitas diaspora seperti mahasiswa, seniman, dan akademisi, lewat berbagai macam bentuk kegiatan yang diselenggarakan oleh diaspora Indonesia di Prancis, yang menciptakan interaksi langsung dengan masyarakat lokal Prancis dan mempererat persahabatan jangka panjang di luar jalur pemerintah.

Pemberian souvenir dari Atdikbud KBRI Paris kepada Prof. Pierre Buhler

Kuliah berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa, antara lain mengenai strategi Indonesia memperkenalkan warisan budayanya di tingkat internasional serta peran diaspora dan komunitas dalam menjaga dan mempromosikan budaya Indonesia di Prancis. Diskusi tersebut menunjukkan tingginya ketertarikan mahasiswa terhadap hubungan antara budaya, identitas, diplomasi, dan soft power.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Atdikbud KBRI Paris untuk memperluas diplomasi pendidikan dan budaya Indonesia di lingkungan akademik Prancis, sekaligus memperkuat jejaring akademik dan hubungan people-to-people antara Indonesia dan Prancis. Melalui interaksi langsung dengan mahasiswa internasional, Indonesia diharapkan semakin dikenal tidak hanya melalui kekayaan budayanya, tetapi juga melalui nilai keberagaman, toleransi, dan keterbukaannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *