Angklung Bhineka Indonesia Resmi Diinaugurasi di Prancis, Simbol Persatuan Diaspora Indonesia
Suasana penuh kehangatan dan semangat kebudayaan mewarnai acara Journée Indonésienne di Kota Martres-de-Rivière, Prancis, yang menjadi momentum peresmian grup angklung Angklung Bhineka Indonesia (ABI), Sabtu 30 Mei 2026. Grup ini merupakan inisiatif diaspora Indonesia di Prancis, yang digagas oleh Dini Massabuau, sebagai wadah untuk memperkenalkan seni musik tradisional Indonesia sekaligus mempererat persatuan diaspora dari berbagai latar belakang.

Acara inaugurasi ABI diselenggarakan oleh Association Les Amis de l’Indonésie (AAI), di bawah kepemimpinan Présidente Jenny Boufette. Kegiatan ini juga bertujuan menggalang dana untuk mendukung pendidikan anak-anak di Indonesia.

Sejumlah organisasi diaspora turut bergabung dan berkolaborasi dalam kegiatan ini, di antaranya Kirana Budaya (KB), Association Couleurs d’Indonésie (ACI), Perhimpunan Pelajar Indonesia Toulouse (PPI Toulouse), Surat Dunia, AAI sendiri yang menjadi tuan rumah kegiatan dan tentunya dukungan KJRI Marseille.

Peresmian Angklung Bhineka Indonesia dilakukan oleh Konjen Dian Kusumaningsih, bersama Wali Kota Martres-de-Rivière, Sabrina De Rosso. Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota bahkan turut mencoba memainkan angklung dan ikut bernyanyi bersama para pemain, menambah suasana hangat dan interaktif dalam acara.

Penampilan ABI mendapatkan sambutan meriah dari masyarakat Prancis yang hadir. Mereka tampak terpukau oleh keindahan harmoni angklung, alat musik bambu yang dimainkan secara kolaboratif dan menghasilkan simfoni yang khas.
Konsul Jenderal RI di Marseille, Dian Kusumaningsih, yang juga sebagai Pembina ABI menyampaikan apresiasinya atas semangat dan kolaborasi para diaspora Indonesia yang telah mewujudkan lahirnya ABI.

“Merupakan suatu kehormatan bagi saya dan KJRI Marseille untuk meresmikan berdirinya Angklung Bhineka Indonesia. Hal ini dapat terwujud berkat kerja sama para diaspora Indonesia yang terus aktif mempromosikan seni dan budaya bangsa. Angklung merupakan warisan budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO. KJRI Marseille sangat mendukung kegiatan seperti ini dan berharap ABI dapat terus berkembang sehingga angklung menjadi salah satu sarana diplomasi budaya yang dapat menarik minat masyarakat Prancis untuk mengenal dan berkunjung ke Indonesia.”
Ketua ABI sekaligus pengajar angklung, Hadyan Fibrianto, menyampaikan,
“Dengan hadirnya ABI, semakin banyak masyarakat Prancis yang tertarik mempelajari angklung. Selain itu, berbagai asosiasi Indonesia kini dapat bersatu dalam satu wadah untuk memperkenalkan musik tradisional Indonesia. Hal ini menjadi semangat besar bagi kami,” ujarnya.

Sebagai penggagas, Dini Massabuau menegaskan bahwa ABI lahir dari semangat kebersamaan diaspora Indonesia.
“ABI hadir sebagai ruang bersama untuk menyatukan diaspora Indonesia melalui budaya. Angklung mengajarkan nilai harmoni dan kebersamaan yang ingin kami sebarkan di Prancis,” ungkapnya singkat.
Dari pihak penyelenggara, Jenny Boufette menyampaikan apresiasi atas suksesnya acara tersebut.

“Setiap tahun kami berupaya menghadirkan Indonesia lebih dekat kepada masyarakat Prancis melalui Journée Indonésienne. Kehadiran Angklung Bhineka Indonesia menjadi sesuatu yang sangat istimewa karena menunjukkan kekuatan budaya dalam menyatukan komunitas serta mempererat hubungan Indonesia dan Prancis,” ujarnya.
Christine dari AAI. turut menambahkan kesannya.
“Saya ikut mendukung sebagai pengiring nyanyian, di mana lagu-lagu yang dibawakan merupakan perpaduan lagu Indonesia dan Prancis. Kehadiran angklung memberi warna baru dan memperkaya pertunjukan budaya ini,” katanya.

Antusiasme juga datang dari para anggota ABI. Ninik Wiratno yang juga ketua KB bersama Ila Artama anggota ACI, menyampaikan pandangan mereka secara bersama.
“Musik angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang sudah lama kita kenal dan kini saatnya kita memperkenalkannya secara lebih aktif di Prancis. Kami sangat senang bisa menjadi bagian dari ABI,” ujar Ninik.

“Bermain angklung merupakan tantangan tersendiri bagi saya. Karena itu saya tertarik bergabung di ABI untuk ikut mempromosikan musik bambu Indonesia,” tambah Ila.

Dengan terbentuknya Angklung Bhineka Indonesia, para diaspora berharap angklung semakin dikenal luas di Prancis dan menjadi jembatan budaya antara Indonesia dan masyarakat internasional. Lebih dari sekadar kelompok musik, ABI hadir sebagai simbol persatuan dalam keberagaman yang menguatkan semangat diplomasi budaya Indonesia di kancah dunia.

