Rhythm of Indonesia: Indonesischer Kulturtag 2026 Memukau Frankfurt dengan Semarak Budaya Nusantara
Suara gamelan bergema, alunan angklung mengalun, dan hentakan pencak silat memukau puluhan pasang mata yang memenuhi Saalbau Bornheim, Frankfurt, pada Sabtu (18/7). Indonesischer Kulturtag 2026: “Rhythm of Indonesia” yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt, Permif e.V., dan PPI Frada menarik lebih dari 1.000 pengunjung.

Panggung utama diawali dengan parade pembukaan yang menampilkan para penari dan pemusik, diiringi alunan “Bindri” oleh Gamelan Wacana Budaya. Acara resmi dimulai dengan sambutan oleh Ibu Fanny Tjoa, Ketua Peurmif e.V., dilanjutkan dengan sambutan oleh Ibu Oktavia Maludin, Acting Konsul Jenderal RI Frankfurt. Dalam sambutannya, disampaikan bahwa Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki keberagaman yang menjadi sumber kekuatan sekaligus identitas bangsa.


“Melalui tema ‘Rhythm of Indonesia’, kami ingin mengajak kita semua melihat bahwa di balik keragaman budaya Indonesia terdapat semangat yang menyatukan seluruh elemen bangsa. Sebagaimana irama dalam sebuah musik, perbedaan dapat berpadu dan menciptakan
harmoni yang indah. Kami juga berharap Indonesischer Kulturtag dapat menjadi jembatan yang mempererat hubungan antara masyarakat Indonesia dan Jerman. Terdapat pepatah
Indonesia ‘tak kenal maka tak sayang’. Kami percaya bahwa kedekatan dan persahabatan tumbuh dari saling mengenal.”
Pertunjukan Budaya yang Memukau
Pertunjukan dibuka dengan sajian “Pangkur” oleh Gamelan Wacana Budaya yang mengalun syahdu. Audiens juga dibuat terpukau oleh pertunjukan pencak silat dari Dr. Patrick Keilbart, seorang praktisi berkebangsaan Jerman yang PPS Betako Merpati Putih Jerman yang
menampilkan atraksi bela diri spektakuler. Grup Tari Iramanda kemudian membawakan tarian “Jejer Gandrung” serta penampilan kolaborasi “Janger”, bersama Angklung Frankfurt Orchestra (AFO). Dipimpin oleh Sdr. Ocky
Herdian, AFO juga membawakan aransemen “Viva La Vida” yang mendapat tepuk meriah dari penonton. Setelah itu, digelar sesi angklung interaktif yang mengajak pengunjung untuk bermain bersama.



Memasuki siang, giliran peragaan busana adat oleh PPI Frada & Friend memanjakan mata dengan keindahan kostum adat Nusantara. Grup Tari Iramanda kembali tampil dengan “Topeng Jentrak Jentrik”, disusul tarian kontemporer “Nusantara” oleh Grup Kesenian Permif. Suasana
semakin semarak dengan penampilan oleh the Soulbrother Marcus yang membawa nuansa musik modern, sebelum Gamelan Wacana Budaya menutup segmen pertama dengan “Rujak Jeruk” dan “Witingklapa”.

Pada segmen kedua, panggung kembali hidup dengan sajian tari kontemporer “Mutiara” dari Grup Kesenian Permif, dilanjutkan dengan “Nyi Ronggeng” oleh Grup Tari Iramanda. Penampilan.

Sasando oleh Romo Vincent turut melengkapi rangkaian pertunjukan sore, memperkenalkan alat musik khas NTT yang dimainkan dengan cara dipetik lembut.

Angklung Frankfurt Orchestra kembali tampil membawakan “Bungong Jeumpa” dan aransemen “Mission Impossible” yang mendapat sambutan hangat. Penampilan tari “Cendrawasih” oleh Ibu Ketut turut menambah warna panggung, disusul tari “Tor Tor” oleh Grup Tari Iramanda yang
mengundang banyak peserta ikut menari di lantai dansa dan memeriahkan suasana.

Acara kemudian memasuki sesi peragaan busana batik modern oleh PPI Frada & Friends yang menampilkan busana-busana batik dengan sentuhan kontemporer, dengan iringan live music
oleh RnB+. Setelah itu, RnB+ tampil membawakan sejumlah lagu modern untuk dinyanyikan bersama audiens. Rangkaian pertunjukan ditutup dengan penampilan Ensemble Hamburg yang
membawakan medley lagu-lagu Indonesia dengan aransemen yang riang dan semarak.
Kuliner Nusantara yang Menggoda
Tak kalah meriah dari panggung utama, deretan stan kuliner sepanjang lorong Saalbau Bornheim sejak siang hari sudah diserbu pengunjung. Sebanyak 12 pelaku usaha kuliner Indonesia di wilayah Frankfurt turut ambil bagian dalam festival ini, menyajikan beragam hidangan otentik. Nusantara, dari nasi padang, mie ayam bakso, ayam geprek, gado-gado, batagor, sate ayam hingga jajanan pasar yang manis dan legit. Aroma rempah yang khas seketika memenuhi ruangan, menggugah selera para pengunjung yang penasaran dengan cita rasa Indonesia.





Stan Meramanis Coffee turut menarik perhatian dengan menyajikan specialty coffee Indonesia. Kehadiran kuliner dan kopi Indonesia menjadi pelengkap utama yang memperkaya pengalaman festival, sekaligus memperkenalkan potensi produk unggulan nasional kepada masyarakat setempat.
Lebih dari Sekadar Pertunjukan:
Pengalaman Interaktif “Rhythm of Indonesia” tidak hanya menyuguhkan tontonan dan cita rasa, tetapi juga hands-on experience di Workshop Corner. Di berbagai sudut Saalbau pengunjung dapat mengikuti beragam kegiatan interaktif untuk mengenal Indonesia lebih dekat.
Pada workshop pencak silat bersama Dr. Patrick Keilbart, peserta diajak mempelajari dasar-dasar pencak silat, termasuk teknik pernapasan, gerakan dasar, dan filosofi di balik seni bela diri tradisional Indonesia tersebut.

Selain itu, pengunjung juga dapat mengikuti workshop Jamu Gendong untuk belajar mengenal jamu sebagai warisan budaya Indonesia, mulai dari bahan-bahan alami seperti kunyit, jahe, kencur, hingga cara meracik dan menyajikannya, serta kesempatan mencicipi langsung. Di stan workshop Aksara Bali, peserta diajak belajar menulis nama mereka sendiri dalam aksara khas Bali dengan bimbingan langsung dari seniman Niluh Swati. Stan Indah Bali Massage juga hadir, memberikan pengalaman relaksasi dengan teknik pijat tradisional khas Bali.

Selain itu, terdapat Batik Indonesia Corner yang memperkenalkan batik sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Pengunjung dapat melihat berbagai motif batik serta membeli produk batik Nusantara.

Membangun Jembatan Antar-Masyarakat
Yang menjadikan Indonesischer Kulturtag ini istimewa adalah keterlibatan aktif masyarakat internasional, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari pertunjukan. Dari penampilan pencak silat oleh Dr. Patrick Keilbart, kolaborasi Angklung Frankfurt Orchestra dengan grup tari Iramanda, kolaborasi PPI Frada and Friends dengan band RnB+, hingga
kolaborasi antara RnB+ dan Ensemble Hamburg. Seluruh elemen ini menunjukkan bahwa budaya Indonesia telah menjadi ruang bagi interaksi dan kerja sama lintas budaya yang hangat.

Sepanjang hari, Saalbau Bornheim dipenuhi lebih dari 1.000 pengunjung yang antusias menikmati setiap sesi, pertunjukan seni, lokakarya interaktif, hingga stan kuliner. Masyarakat Jerman tidak hanya menyaksikan, tetapi juga terlibat langsung: belajar memainkan angklung dan gamelan, mencoba membatik, menulis aksara Bali, hingga merasakan pijat Bali dan jamu Indonesia. Berbagai penampilan kolaborasi antara diaspora Indonesia dan seniman lokal benar-benar membawa tema “Rhythm of Indonesia” menjadi hidup, seolah membawa suasana Nusantara ke tengah kota Frankfurt. Harmoni yang tercipta dari perbedaan, baik dalam musik, tarian, maupun interaksi antarbudaya, menjadi inti dari pesan yang ingin disampaikan: bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan budaya adalah jembatan yang menghubungkan.
Antusiasme dan partisipasi aktif masyarakat internasional terhadap budaya Indonesia terlihat positif sepanjang acara berlangsung. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus menjadi ruang bagi pengenalan budaya sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara ke depan.

KJRI Frankfurt mengapresiasi seluruh mitra, pengisi acara, relawan, dan sponsor yang telah membantu menghadirkan Rhythm of Indonesia di Frankfurt. Ucapan terima kasih khusus disampaikan kepada Warindo atas dukungannya dalam menyediakan suvenir berupa bumbu dan bahan masakan Indonesia untuk sesi kuis, sedikit cita rasa Nusantara yang menambah semarak acara.

