Tempe Bunga Karya Diaspora Indonesia Di Prancis

Nia Agriani

Saat ini tempe sedang trend di kalangan Eropa, sebagai makanan vegan yang sehat dan bergizi. Nia Agriani, Diaspora Indonesia di Prancis ini, ingin agar produk asal Indonesia bisa semakin dikenal tidak hanya karena rasanya namun juga kreativitas dirinya dalam mengolah tempe menjadi berbagai jenis makanan. Mengapa dirinya fokus kepada tempe? Dan bagaimana ia berkreasi dan kreatif dalam menghasilkan olahan tempe yang unik? Berikut wawancara Surat Dunia dengan Nia.

Surat Dunia (SD) : Terimakasih Nia, sudah memberikan kesempatan kepada kami mencicipi produk tempenya, rasa coklat paduan tempe sangat unik. Terasa coklatnya namun rasa tempenya pun tetap kental. Ceritakan bagaimana awal mulanya kamu tertarik dengan pengolahan tempe bunga?

Coklat Tempe

Nia Agriani (AG) : Sama-sama, wah saya ikut senang kalau rasa tempenya tetap terasa di lidah ya karena memang itu tujuannya saya. Baiklah, menjawab pertanyaan tadi mengapa tempe bunga ya?

Awalnya karena memang saya dan keluarga penggemar berat tempe. Tapi setelah saya perhatikan, di sini sepertinya tempe ya tempe saja gitu. Nah karena mungkin saya senang dengan seni juga, maka mulailah saya tertarik untuk membuat tempe agar enak dimakan tapi juga indah dilihat. Awalnya memang untuk pribadi dulu, lalu mulailah banyak yang tertarik hingga akhirnya menjadi bisa dibilang bisnis kecil-kecilan saya saat ini. Bahkan ada restoran juga yang memesan tempe kreasi bunga saya ini. Oh ya tentu saja bunga yang dipakai adalah bunga yang bisa dimakan ya, jadi bukan sembarang bunga.

SD : Selain dengan bunga Nia juga membuat berbagai jenis tempe lainnya, misalnya coklat tempe, tempe Kunyit, Moringga bahkan tempe dengan kacang-kacangan lainnya selain kedelai.

NA : Betul sekali, coklat tempe salah satu produk yang cukup digemari ya. Karena ya itu tadi rasanya unik dan enak. Banyak yang pesan untuk kado juga biasanya, khususnya untuk orang Prancis ya, supaya mereka bisa mengenal tempe bukan hanya untuk dimasak namun bisa juga sebagai makanan kecil. Lalu tempe rasa Kunyit, Moringga, Stevia dan Kayu manis, tujuannya agar tempe-tempe ini memiliki rasa dan aroma yang berbeda tentunya dan karena banyak yang mengkonsumsi tempe secara mentah. Kami sekeluarga misalnya biasa mengkonsumsi tempe mentah, jadi natural begitu saja. Dengan adanya rasa tadi jadi enak dimakan. Contohnya ya tempe coklat, tempenya itu masih mentah.

Lalu mengapa saya menggunakan berbagai jenis kacang-kacangan? Awal mulanya karena ibu mertua saya yang tidak bisa mengkonsumsi kacang kedelai karena alasan kesehatan, sementara beliau sangat suka tempe, jadilah saya mulai bereksperimen dengan kacang-kacang lainnya, yaitu kacang almond, kacang merah, hitam dan putih, lalu kacang polong, dan ternyata para klien saya juga banyak yang menyukai, khususnya mereka yang memiliki alergi dengan kacang tertentu misalnya. Jadi dari sinilah saya juga ingin memperkenalkan tempe dengan jenis kacang-kacang lainnya agar bisa dikonsumsi lebih banyak lagi bagi orang.

SD : Bagaimana Nia mengenalkan tempe kepada kalayak Prancis, karena tempe kan sebenarnya sudah ada di Prancis sejak beberapa tahun ini.

NA : Nah saat ini saya sedang dalam proses memiliki ijin untuk bisa memproduksi tempe dalam skala besar. Pribadi sendiri sih dari awal saya bukan hanya membuat tempe untuk dikonsumsi layaknya di Indonesia ya, yaitu hanya untuk digoreng, tumis istilahnya sebagai makanan pendamping. Namun justru dari awal saya memperkenalkan tempe sebagai bahan olahan dengan bakteri yang baik bagi tubuh karenanya saya dan keluarga sering mengkonsumsi tempe mentah loh. Lalu tempe yang saya perkenalkan juga sebagai makanan utama pengganti daging. Saya sering mencampurkan tempe dalam Spageti (spaghetti) pengganti daging, kulit pie, coklat tempe, penganti roti untuk dimakan dengan keju bahkan kami biasa memakan tempe dengan berbagai selai, juga sebagai pengganti kentang goreng bisa dengan tempe atau dibikin kripik untuk dicocol dengan berbagai saus, dibikin jadi kue brownies, pizza, dan masih banyak percobaan lainnya yang saya lakukan dengan tempe.

SD : Tadi Nia bilang kalau sering mengkonsumsi tempe mentah? Mengapa?

NA : Baik, kenapa kami sering mengkonsumsi tempe mentah? Karena gizi dan bakteri baik di dalam tempe itu sebenarnya dalam keadaan mentah. Jamur yang terdapat dalam tempe bisa langsung kita konsumsi, yah layaknya untuk kejulah. Jadi kalau sudah di goreng misalnya kadar proteinnya berkurang, boleh dibilang dalam keadaan mentah malah probiotiknya penuh.

SD : Proses membuat tempe di Prancis ini apakah sulit?

NA : Tentu saja karena cuaca di Eropa yang memiliki empat musim ini sangat berpengaruh dengan ketelitian kita dalam mengolah tempe. Apalagi saya memang menggunakan berbagai media istilahnya dalam membuat tempe, seperti dengan bunga, rempah dan lainnya juga setiap kacang yang saya gunakan tidak sama fermentasinya. Jadi memang fermentasi tempe yang saya buat sangat berbeda-beda semua tergantung kepada kondisi cuaca dan bahan yang saya gunakan.

SD : Harapan Nia dengan tempe ini ?

NA : Harapan saya adalah bisa menduniakan tempe sebagai makanan Indonesia popular istilahnya, mudah ditemukan di seluruh dunia sebagai makanan sehat bergizi dengan berbagai variasinya. Jadi ketika kita menyebutkan tempe, maka yang pertama adalah nama asal dari makanan itu yaitu Indonesia dan yang kedua sebagai makanan sehat bergizi dan mudah didapatkan dengan berbagai variasinya.

Satu tanggapan untuk “Tempe Bunga Karya Diaspora Indonesia Di Prancis

  • 10 Januari 2022 pada 15 h 19 min
    Permalink

    Keren banget, bangga WNI bisa kreatif untuk tempeh

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *