HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT VII (103A)

Karya RD. Kedum

Aku berpegangan erat pada lengan Puyang Bukit Selepah ketika beliau memeluk dan mengelus kepalaku. Tanganku bergetar. Ternyata pengalaman barusan membuat tubuhku menggigil. Entah apa sebabnya meski aku tidak merasakan dingin. Syech Zakir langsung memimpin doa yang diaminkan oleh semua tamu yang ada sebagai penutup perjalanan kami. Aroma wangi menyebar di seluruh ruangan. Wangi yang tak asing lagi bagiku, aroma yang dimiliki oleh para bidadari ternyata terbawa olehku hingga ke mari.

Kulihat nenek Kam yang duduk di samping nenek Ceriwis menarik nafas panjang seakan takut kehilangan aroma wangi yang menyegarkan itu. Beliau juga tersenyum kecil menatapku. Dari balik matanya yang kecil, bola matanya berbinar-binar bahagia. Nampaknya sama dengan beberapa Puyang, Kakek, Nenek, dan Macan Kumbang, beliau juga nampak bahagia. Dari bisik-bisik yang kudengar, tak mudah bangsa manusia bisa menjelajah alam kahyangan, kecuali mereka yang memang mendalami dan mengamalkan sesuatu untuk mencapai ini.Mereka harus melakukan ritual tertentu, mengamalkan amalan tertentu, lalu puasa selama kurun waktu tertentu pula. Sementara aku tidak paham sama sekali kecuali diajarkan zikir nafas, dan bersyalawat.

“Kau adalah makhluk yang istimewa, Cucuku. Bisa dihitung dengan jari bangsa manusia yang bisa ke alam sana kecuali para wali Allah. Para aulia yang tingkat ibadah dan kedekatannya pada Sang Khalik tidak diragukan lagi. Jadikan pengalamanmu itu untuk memperkuat keyakinanmu pada Sang Maha Khalik. Kau sudah ditampakkan secuil rahasia Allah. Bahkan di antara leluhurmu di sini, tidak banyak yang sampai ke sana” Tutur Puyang Bukit Selepah sambil menatapku. Mendengar itu aku nyaris tidak percaya. Sebab aku tahu kemampuan dan tingkat ketauhidan yang mereka miliki tidak sama dengan manusia soleh sekali pun. Meski dalam keadaan ngobrol biasa, namun hati dan detak jantung mereka selalu berdzikir. Mereka begitu tekun melakukan puasa tanpa putus selama tiga bulan sekali pun demi menempah kesucian batin. Mereka tidak saja ahli ibadah namun secara kebatinan mereka dikaruniai ilmu dan kekuatan yang luar biasa. Bahkan tidak sedikit di antara mereka hingga saat ini selalu berjuang, menjadi pasukan turut memperkuat pasukan perang di alam gaib menghalau jin fasik yang menjadi anak buah Dajjal demi menegakkan keadilan, menegakkan agama. Termasuk menghalangi mereka yang membantu manusia agar berbuat maksiat, dosa, merusak alam dan sebagainya. Mereka ikhlas, dan selalu berjihad. Bahkan di antara leluhurku ini ada yang selalu pulang pergi ke Makka setiap waktu solat tiba.

Aku menahan nafas lega berkali-kali. Tak sedikit para tamu bergumam pelan. Entah apa yang mereka bicarakan. Sebagian mereka menggunakan bahasa yang tak kupaham. Karena aku masih terpukau dengan pengalaman yang baru kualami, aku tidak terlalu peduli dengan gumaman mereka. Dalam hati aku yakin pasti mereka berbicara seputar peristiwa yang kualami. Atau mereka juga punya pengalaman sepertiku. Namun yang jelas sebagai bangsa manusia, jiwaku masih terkaget-kaget dengan pengalaman batin ini. Tidak pernah terpikir olehku jika aku akan sampai pada lapisan alam yang terletak antara langit dan bumi itu. Selama ini aku hanya berkecimpung dengan penyelamatan, pertolongan, bahkan pemeberantasan yang berkaitan dengan nenek gunung, makhluk laut, dan makhluk gunung. Melakukan perjalanan hanya bersama leluhur dan orang yang kukenal saja. Bersama guru-guruku, ketika mereka hendak mengajarkan sesuatu padaku.

Melihat ekspresi para tamu dan warga yang berkumpul di sini, kembali aku merasakan betapa dasyatnya kekuatan zikir mereka. Kekuatan zikir merekalah yang menggiringku hingga aku bisa turut serta bersama Syech Zakir menuju negeri kahyangan yang semula kukira alusinasi manusia. Alam nampak bercahaya oleh zikir mereka. Dan tidak satu pun makhluk fasik yang mampu menembus wilayah ini. Sebab kalau mereka berani masuk atau menembusnya, mereka akan hancur lebur dengan sendirinya.

Di sudut Utara, Eyang Kuda sedang berbincang dengan wanita. Beliau Dewi Sekar Sari. Ternyata wanita penguasa Pantai Laut Selatan itu masih di sini. Mereka berbincang sangat serius sekali. Cahaya yang memancar dari tubuhnya sedikit lebih terang. Aku belum tahu mengapa aura bercahaya itu memancar dari dirinya. Meski yang lain juga banyak yang memiliki pancaran dari tubuhnya, tapi apa kelebihan sosok wanita cantik itu? Apakah amalianya sama kuatnya dengan leluhur yang kukenal di sini? Entahlah. Namun dari sekian sosok aku memang tertarik dengan Dewi Sekar Sari itu. Ya, masih berkaitan dengan Laut Pantai Selatan. Mengapa dia yang menjadi penguasa di sana, setahuku beliau penguasa Laut Utara. Kemana Nyi Roro Kidul perempuan legendaris yang banyak mengisi ruang-ruang tradisi dan budaya masyarakat Jawa pada umumnya itu. Lagi-lagi rasa ingin tahuku membuatku berpikir ke mana-mana.

Setahuku umumnya masyarakat Jawa yang bergelut di bidang kebatinan sedikit banyak mereka akan melakukakan ritual tertentu meski tidak bersentuhan langsung namun secara turun menurun tunduk patuh pada sosok beliau. Sebagian masyarakat memang ada yang meyakini Kanjeng Ratu Kidul adalah roh suci yang mempunyai sifat mulia dan baik hati. Beliau diyakini berasal dari tingkat langit yang tinggi, pernah turun di berbagai tempat di dunia dengan jati diri tokoh-tokoh suci setempat pada zaman yang berbeda-beda pula. Konon, dalam pandangan mereka, Kanjeng Ratu Kidul akan menampakkan diri hanya untuk memberi peringatan akan datangnya suatu kejadian penting. Ada juga yang meyakini jika beliau “istri spiritual” bagi raja-raja kedua keraton. Bahkan konon Panggung Sanggabuwana di kompleks Karaton Kasunanan Surakarta dipercaya merupakan tempat bercengkerama antara Susuhunan (raja) dengan Kanjeng Ratu. Konon, Sang Ratu tampil sebagai perempuan muda dan cantik pada saat bulan muda hingga purnama, terapi berangsur-angsur menua pada saat bulan menuju bulan mati. Wallahu a’lam bish-shawab!

Tidak sedikit pula masyarakat biasa yang melakukan ritual memujanya. Bahkan masyarakat kejawen sangat hormat pada Nyi Roro Kidul. Beliau dianggap sebagai junjungan yang selalu melindungi dan menjaga mereka. Suatu saat, Eyang kuda harus menjelaskan ini padaku. Aku membatin. Demikian juga Eyang Putih dan Puyang Purwataka. Mereka harus menjelaskan padaku atau paling tidak bercerita siapa Nyi Roro Kidul dan siapa Dewi Sekar Sari.

“Sebenarnya, Nyi Roro Kidul, Nyi Blorong, sudah lama lenyap di alam gaib. Yang muncul di pantai Selatan itu hanya bangsa jin-jin fasik yang mendapat tugas dari iblis menyeruapai mereka dan sesekali menampakkan diri agar bangsa manusia yakin jika mereka masih bisa memberikan kebaikan dan bagi para paranormal seakan masih bisa berkomunikasi dengan penguasa gaib laut Selatan itu” Eyang Kuda sedikit berbisik padaku. Baru saja aku hendak betanya siapa yang menghancurkan mereka, tiba-tiba Puyang Mercawang memberitahukan tujuan kami berkumpul di sini malam ini. Beliau menyebutkan tempat-tempat tertentu yang harus kami kunjungi terlebih dulu. Tempat-tempat yang masih sangat asing di telingaku. Tapi apa pun itu, aku yakin dengan berkumpulnya semua leluhur malam ini pasti ada sesuatu yang sangat penting yang wajib kami laksanakan.

Aku baru saja meneguk separuh air yang dihidangkan ketika Syech Zakir dan puyang mengajakku beberapa tamu untuk bangkit. Kali ini Putri Bulan merapat padaku. Aku segera menggenggam tangannya yang halus. Tatapan matanya penuh rasa sayang seakan tersenyum padaku. Aku tahu, wanita lembut ini juga kagum karena aku telah sampai ke kahyangan. Aku sedikit heran ketika tiba-tiba gaun yang kupakai lenyap, kembali berganti dengan gaun seperti harimau putih. Lengkap dengan sepatu dan sabuknya. Demikian pula Putri Bulan. Pakaiannya yang dikenakannya sangat ringkas. Mirip seperti ketika menolong aku dari cengkraman Nyi Ratih ketika beliau hendak merebutku beberapa tahun lalu. Pakaian seorang pendekar. Alif ikut barisan tidak jauh denganku. Dia sudah bisa berbaur dengan sosok ramai yang berasa di sini. Aku memberi aba-aba pada nenek Kam agar berdiri dekatku saja. Beliau menyambut keiingananku dengan senyum lalu menjawab lewat batin bahwa beliau akan pulang ke alam nyata dan memintaku mengikuti tugas selanjutnya bersama yang lain. Mendengar itu aku tidak banyak tanya. Beberapa nenek gunung bukit Selepah berjalan pelan ke samping. Nampaknya hendak mengantar nenek Kam yang berjalan pelan. Nenek Kam punya tugas lain nampaknya yang belum kuketahui.
“Kita hendak kemana?” Bisikku. Namun tidak dijawab Putri Bulan. Beliau sibuk membenahi sabuk yang melingkar di pinggangnya yang lansing. Macan Kumbang juga demikian. Beliau malah mirip dengan para pendekar yang datang dari Bukit Barisan dari ranah Minang, dan Kerinci.

Aku ikut saja ketika ramai-ramai menuju beranda dan menuruni anak tangga. Kami berkumpul di halaman rumah panggung. Awan putih berarak pelan mengitari kami. Kuyakini, awan-awan ini siap mengangkut kami. Setelah diyakini kami sudah berkumpul semua, sambil berdiri Puyang Mercawang yang diapit oleh Puyang Pekik Nyaring, Puyang Bukit Selepah, Syech Zakir dan beberapa sosok yang belum kukenal berdiri di jenjang tangga yang paling atas. Tak lama beliau menyampaikan, sebentar lagi bulan purnama akan semakin bundar dan sudah waktunya semua yang ada di sini untuk meninjau peperangan yang sudah berlangsung di atas laut Jawa. Aku kaget! Siapa yang tengah berperang? Mengapa aku baru tahu? Muncul kekhawatiranku pada kerajaan Timur Laut Banyuwangi. Aku segera membatin menghubungi Nyi Ratih yang berada di kerajaan.
“Tenang Kanjeng Ratu. Kerajaan kita Alhamdulilah aman-aman saja. Kalau pun ada yang hendak berusaha masuk menembus pagar gaib kita, namun mereka kembali terpental” Ujar Nyai Ratih membuatku bernafas lega.
“Saat ini, Ki Renggo telah membangun pintu gerbang menjadi berlapis dengan penjagaannya yang ketat. Sebab, di atas laut Jawa tengah terjadi pertempuran dasyat yang tidak seimbang antara golongan kita dengan siluman fasik, Kanjeng Ratu. Beberapa laut dan daratan bergejolak karena pertempuran itu” Ujar Nyi Ratih lagi. Mendengar itu aku kembali menarik nafas legah. Artinya dalam waktu dekat, kerajaanku tidak menjadi beban pikiranku. Kuucapkan terimakasih pada Nyi Ratih yang telah membantuku menjalankan roda kepemimpinan di Timur Laut Banyuwangi. Bagaimana pun, aku bertanggujawab penuh pada rakyatku. Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada mereka.

Selanjutnya Puyang Mercawang menyampaikan, jika perlu kami harus turun ke medan perang, maka beliau menyarankan kami untuk bersiap membantu pasukan yang diserang oleh pasukan yang hendak menguasai alam gaib dan alam nyata dari bangsa jin fasik. “Hancurkan, atau halau mereka kembali ke neraka hingga hari kiamat” Ujar beliau tetap dengan suara berwibawa. . Selajutnya beliau menyampaikan jika pasukan-pasukan zolim itu adalah anak buah Dajjal dari berbagai macam jenis. Ada dari bangsa Jin, siluman, bahkan manusia. Mereka telah terikat perjanjian dengan Dajjal atas perintah Iblis Maka tidak ada ampun untuk mereka. Mendengar itu, aku mulai waspada. Artinya di alam gaib ini tidak jauh dengan di alam nyata. Perebutaan kekuasaan pun marak. Aku menyesali diri mengapa aku baru tahu kalau ada peperangan yang katanya dasyat.

Tik!!
Telingaku ada yang nyentil. Rupanya Macan Kumbang menyentil telingaku. Segera aku menoleh padanya.
“Mendengar pertempuran dah gatal. Yang tegah melakukan pertempuran-pertempuran di sana bukan makhluk biasa. Mereka umumnya mempunyai kekuatan-kekuatan yang yang luar biasa. Apalagi mereka adalah pasukan Dajjal. Strategi mereka penuh tipu daya. Dan mereka sangat bahagia karena telah mampu membuat kerusakan baik di alam nyata mau pun di alam gaib. Saat ini, kekuatan mereka semakin bertambah berbarengan dengan bulan purnama” Ujar Macan Kumbang mengingatkan. Dia tahu betul kalau sudah berkaitan dengan pertarungan aku sudah mulai gatal dan rasanya ingin maju paling depan. Aku mengusap ujung telingaku yang sedikit terasa panas.

Setelah mendapat beberapa penjelasan dari puyang Mercawang tentang medan yang akan kami datangi, akhirnya sebagian kami menuju awan yang telah membentang. Sebagian lagi ada yang menunggang nenek gunung. Kecuali Dewi Sekar Sari beliau menaiki kereta kencananya. Kami bersama-sama menuju tempat yang dimaksud. Dewi Sekar Sari dan kereta kencananya berjalan paling depan. Lalu diikuti pasukan yang terdiri dari para puyang yang menunggang nenek gunung. Sementara aku dan beberapa sosok lainnya, termasuk Putri Bulan dan Macan Kumbang berada di atas awan.

Perjalanan kali ini terasa lain. Bagaimana tidak, aku bersama sosok-sosok hebat yang bersama-sama menuju tempat yang belum kuketahui di mana. Perjalanan terasa sangat cepat. Demikian juga kereta kencana dan pasukan nenek gunung yang menderu membuat awan seperti terpecah. Angin telah membawa rombongan kami melesat melintas laut dan gunung. Kulihat ikat kepala Macan Kumbang dan Alif seperti bendera yang berkibar. Mereka tampak terlihat sangat gagah. Hanya Eyang Kuda yang berdiri di bagian depan melipat tangan lalu lurus menatap ke depan. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Tapi sejak beliau kenal dengan para Puyangku, beliau semakin aktif datang ke mari.

Hanya dalam waktu beberapa detik, aku melihat sinaran cahaya bergumul ke atas langit seperti kembang api yang melucur ke atas. Meski jaraknya masih sangat jauh, namun aku memperkirakan kemungkinan itu adalah senjata-senjata mereka yang tengah bertempur. Sebab hawa panas kadang berganti dengan hawa dingin sudah mulai terasa di sini. Aku segera memagari diri agar tidak terkena radiasi kekuatan-kekutan itu. Kulihat yang lain pun melakukan hal yang sama. Mataku tidak lepas ketika menantap ke bawah seperti melihat hamparan api yang berwarna jingga tua. Lalu bayangan-bayangan warna merah dan putih melesat seperti kilatan api. Gerakkan mereka sangat cepat. Kami belum mendapatkan aba-aba untuk melakukan sesuatu ketika dalam jarak berapa radius kilometer kami berhenti. Ternyata, tidak hanya ada rombongan kami di sini.Tapi aku juga melihat pasukan putih-putih berdiri tegap menatap ke area pertempuran. Siapa mereka? Wajah mereka terlihat lembut dan teduh. Aku menghayal membayangkan mereka seperti malaikat.
“Mereka para santri dari pantai laut Utara. Mereka adalah pasukan Dewi Sekar Sari” Bisik Putri Bulan sembari mengeluarkan suling bambu berwarna gading. Pasukan Dewi Sekar Sari? Aku membatin. Mengapa tampilannya jauh berbeda? Dewi Sekar Sari berpakaian keagungan dengan kemben dan selendang panjang menguntai dari pinggangnya. Di kepalanya bertengger mahkota yang sangat indah. Rambutnya yang bergelung separuh lalu separuhnya lagi dibiarkan terurai. Tapi wanita cantik ini mempunyai pasukan santri? Kok bisa?Kembali aku membatin.
“Santri-santri itu dari pondok-pondok pesantren gaib di pantai Utara. Wilayah kekuasaan Dewi Sekar Sari juga. Mereka datamg ke mari atas inisiatif sendiri.Mereka sudah terbiasa ikut berjuang membela kebenaran dan agama” Putri Bulan menjelaskan. Aku kembali menoleh pada para santri yang berwajah tenang. Entah mengapa aku sangat ingin melakukan sesuatu pada mereka. Dengan cepat tanganku bergerak ke atas, lalu kuambil energi dari matahari dengan cepat kulemparkan pada mereka dan memasukan ke dalam dada mereka masing-masing. Lalu kembali kuangkat tangan mengambil kekuatan badai. Kekuatan-kekuatan itu kembali kumasukkan ke dalam para santri. Wajah mereka serentak menantapku dengan senyum. Lalu serentak menundukkan kepala pertanda mengucapkan terimakasih. Aku hanya melempar senyum dan menyatakan mohon maaf jika lancang mengisi diri mereka dengan dua kekuatan matahari dan badai. Tanpa kuduga, Dewi Sekar Sari langsung mengucapkan terimakasih berkali-kali padaku.
“Alhamdulilah, terimakasih Putri Selasih, Ratu Timur Laut Banyuwangi, harimau Dempo yang gagah dan anggun” Pujinya. Aku buru-buru meminta maaf karena lancang memberikan kekuatan tambahan pada pasukannya. Tapi justru beliau kembali mengucapkan terimakasih yang membuat aku sedikit tersipu.

“Kita berbagi ke tiga penjuru!” Teriakan salah satu pasukkan kami entah siapa. Tiba-tiba pasukan kami berpencar menjadi tiga dengan cepat sekali. Di atas, aku melihat Syech Zakir bersama para Puyang berdiri sambil menatap lurus ke depan. Mulut mereka komat-kamit tengah membaca doa dan zikir yang menambah kekuatan pasukan kami yang baru datang. Gumpalan awan yang melingkari mereka seperti bentuk sebuah kawah besar. Kadang-kadang awan itu membentuk seperti lingkaran menutupi mereka.

Cahaya putih yang memancar dari tubuh para santri nampak lebih terang di atara cahaya bulan. Langit sangat membantu nampak bersih sehingga bulan yang membancar seperti dilingkari cincin warna warni. Aku tahu, kekuatan para jin fasik, bangsa pengikut dajjal dan iblis kekuatannya akan bertambah berlipat-lipat ketika bulan purnama. Makanya mereka merasa sangat beruntung dan makin ganas ketika bulan purnama sempurna. Mereka akan mengambil energi dari langit.

Aku terpisah dengan Putri Bulan. Demikian juga dengan Macan Kumbang dan Alif. Aku tidak sempat memperhatikan berada di rombongan mana. Sebab perpindahan kami dari tiga penjuru sangat cepat, dan fokus pada pertempuran seperti kilatan-kilatan api dan sabetan cahaya itu. Merasakan energinya aku yakin yang bertempur mati-matian mempertahankan diri dan laing menjatuhkan. Aku mulai konsentrasi membaca asal mula pertempuran ini. Dan siapa saja yang bertempur. Setelah berdiam sejenak baru kuketahui hal yang sebenarnya. Wajar saja jika leluhur dan beberapa tamu Puyang bersama-sama datang ke mari. Ternyata memang benar, pasukan dajjal anak buah iblis tengah membentangkan sayap untuk menambah kehancuran di muka bumi. Mereka memiliki missi untuk menambah kekuatan dengan berkeingian menghancurkan dan hendak menguasai beberapa kerajaan besar di alam gaib. Mereka juga berkeinginan menguasai laut Selatan dan Utara. Sebab mereka tahu jika di sana berdiri kerajaan besar dan kecil hidup berdampingan. Namun beberapa waktu ini, kerajaan-kerajaan kecil itu diadu domba oleh bangsa jin fasik yang menyukai kehancuran. Sehingga ada beberapa kerajaan yang terpancing akhirya bertempur habis-habisan tidak ada hentinya. Sebagian lagi, kerajaan-kerajaan yang bertahan memerangi penyerang yang datang yang hendak menguasai beberapa kerajaan yang sudah memiliki peradaban. Ternyata, kerajaan bangsa jin yang beradab banyak dimusuhi oleh bangsa jin fasik. Mereka berupaya bagaiamana menghancurkan mereka lalu menjadi daerah takhlukan sehingga bergabung dan menjadi kekuatan mereka. Melihat kenyataan itu, aku berdialog dengan Puyang Pekik Nyaring. Sebab jika melihat kejadian yang terjadi di atas laut ini hampir mirip dengan peperangan yang pernah terjadi di Timur Laut Banyuwangi. Ada perebutan kekuasan. Dan ini mirip pula dengan kejadian di kahyangan. Kalau bukan diajak oleh para leluhurku, aku tidak tahu jika di sini tengah terjadi pertempuran dan itu sudah berlangsung cukup lama.

“Laut Utara sering kali bergejolak tiba-tiba. Lalu beberapa pantai gelombang tinggi dan angin kencang, langit juga kerap berwarna merah, kadang hujan diikuti angin badai. Sehingga kerusakan tidak hanya terjadi di sepanjang pantai, namun juga terjadi di beberapa daratan. Semua karena efek yang terjadi di alam gaib. Kejadian di alam nyata, tidak semuanya fenomena alam” Bisik Datuk Ameh dari Tanah Minang. Beliau mendapat gelar Datuk Ameh karena gigi dan rambutnya kuning mengkilap seperti emas. Beliau adalah bangsa nenek gunung yang berpenampilan seperti pendekar. Rambutnya yang berwarna emas tergerai melebihi pinggang. Hanya ikat kepalanya saja yang menandakan jika beliau seorang lelaki. Beliau sengaja datang menerima undangan Puyang Mercawang setelah tahu di atas laut tengah terjadi peperangan dan perebutan kekuasaan.

Mendengar penjelasan beliau aku mengangguk-angguk kecil. Jika kuhubungkan dengan apa yang pernah disampaikan Eyang Putih, apa yang disampaikan Datuk Ameh banyak benarnya. Eyang Putih pernah menyampaikan padaku tentang beberapa kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di lembah dan lereng gunung. Masih banyak masyarakat yang mengaku punya agama namun melakukan berbagai macam ritual yang dilarang oleh agama. Meski banyak mereka yang menyangkal, dan mengatakan aktivitas itu adalah kebudayaan, apa bedanya jika dalam ritual itu mereka menyebut nama-nama tertentu lalu meminta perlindungan dan segala macam. Kata Eyang putih, ketika Eyang dengan penampilan aslinya sebagai manusia memunguti berbagai alat ritual yang dilakukan oleh masyarakat, mengambilnya lalu membakarnya, tidak satu pun masyarakat yang berani mendekat apalagi marah.
“Mereka tidak berani marah, mungkin karena Eyang mereka anggap gila” Ujar Eyang pada waktu itu. Padahal menurut Eyang, apa yang mereka lakukan dengan sajen-sajen itu memberi makan bangsa jin fasik lalu jin-jin fasik ini akan masuk ke dalam pikiran mereka, membantu mewujudkan apa yang ada dalam pikiran manusia itu. Padahal itu hanya tipu daya bangsa jin untuk menjerumuskan manusia. Perjanjian yang tidak manusi sadari. Kelak jika mereka mati maka mati dalam keadaan khusnul kotimah. Mati dalam keadaan hina. Ruh mereka akan terhambat menuju alam barzah. Mereka disandera oleh para jin dan pasukan dajjal, dijadikan budak mereka atau sukma-sukma mereka dijadikan makanan oleh bangsa jin fasik itu. Maka mereka akan semakin kuat karena berhasil menyandera dan memakan sukma manusia.
Jangan heran kalau kamu bertemu dengan bangsa jin yang sudah bertanduk-tanduk.Mereka ganas dan umumnya berilmu tinggi. Semakin tinggi ilmunya, maka semakin banyak tanduknya sebagai pertanda pangkat, dan berkedudukan tinggi di alam mereka. Siapa yang memberi kedudukan dan keilmuan pada mereka? Siapa lagi kalau bukan bangsa iblis” Jelas Eyang Putih lagi waktu itu. Dan Eyang Putih, adalah salah satu bangsa manusia yang kerap bertempur dengan jin fasik karena Eyang kerap menghancurkan ritual mereka. Selintas aku ingat ketika ada yang datang ke tempat Eyang Putih yang dianggap edan, tapi dia bercerita bahwa dirinya kerap bermimpi berjumpa dengan sosok-sosok yang berbaju putih, bersorban, dan bahkan pernah didaatangi sosok wanita yang mereka legendariskan. Eyang Putih menjelaskan, jika yang datang dalam mimpinya itu bukan sosok baik, tapi adalah pekerjaan bangsa jin dan siluman yang marirupa demi memperdaya manusia. Agar manusia percaya dan sangat yakin sehingga mengelu-ngelukan mereka, merasa itu adalah benar. Padahal itu hanyalah tipu daya iblis untuk menyesatkan manusia agar lupa atau menduakan Sang Maha Khalik. Demikian penjelasan panjang Eyang Putih suatu hari.

Jika dihubungkan pertempurann yang kulihat di sini, apa yang pernah Eyang Putih sampaikan benar adanya. Aku melihat kekuatan-kekutan bangsa jin fasik ini salah satunya adalah dari manusia-manusia yang memuja setan, iblis dan jin. Rata-rata bangsa manusia itu telah mereka ambil beberapa sukmanya. Dan hal ini tanpa bangsa manusia sadari. Selebihnya adalah kekuatan dari bangsa manusia yang gemar maksiat, melakukan perbuatan-perbuatan dosa, lalu energi yang mereka ambil dari langit ketika bulan purnam. Kata Eyang Putih, bangsa-bangsa seperti ini wajib aku perangi, bila perlu dibunuh. Entah mengapa, mengingat pesan terakhir Eyang Putih itu aku langsung seperti naik darah. Kini saatnya aku melakukan apa yang diperintahkan Eyang Putih. Di hadapanku telah terjadi pertempuran bangsa jin fasik bersama sekutunya melawan bangsa jin yang jelas memiliki budaya dan keyakinan. Aku segera mempersiapkan diri untuk turun ke medan perang setelah mengamati dengan seksama. Ternyata hal ini pun terjadi dengan yang lainnya. Mereka juga mempersiapkan diri menunggu aba-aba.

Semakin malam, cahaya bulan semakin terang berada tepat di atas kepala. Aku merasa seperti ada di poros bumi dan bulan purnama persis ada di tengah-tengahnya. Angin yang berhembus pelan dari atas mengantarkan suara lembut tasbih. Meski terdengar sangat halus, namun cukup terdengar jelas. Suara itu berasal dari awan yang melingkari para puyang dan Syech Zakir. Mereka tengah mentranfer kekuatan pada pasukan yang tengah bertenpur di bawah, di atas bumi. Di paling pojok aku melihat sosok berdiri dan azan. Ternyata suara azan membuat konsentrasi dan energi yang mereka ambil dari langit menjadi goncang. Beberapa kali mereka terlihat terpental dalam bentuk cahaya. Bahkan ada yang berbentuk seperti api yang terpecah. Selama azan berlangsung, kekuatan mereka menjadi goyah. Hal ini tidak disia-siakan oleh bangsa yang kulihat berkelebat putih. Banyak sekali pendaran cahaya yang memercik seperti kembang api.
BUUUARRRRR!
Aku kaget ketika melihat air laut seperti raksasa bergulung ke atas lalu membentuk seperti tubuh dan tangan manusia yang sangat besar menyapu ke sana kemari. Semakin lama semakin besar hingga tinggi seperti hendak sampai ke langit. Mahkluk apa ini? Aku membatin. Sedikit banyak aku ngeri juga melihat tubuhnya yang besar namun seperti air. Seumur hidup baru kali ini aku melihat makhluk aneh seperti ini. Melihat raksasa bertaring panjang, rambut seperti ijuk, mata cuma satu, berkulit kasar ternyata belum seberapa mengerikan dibandingkan dengan makhluk satu ini. Semua tubuh dan wajahnya seperti cairan yang meleleh. Nyaris tidak bisa dipastikan bagaimana bentuk wajah dan kepala. Demikian juga dengan tubuhnya, mana depan mana belakang nyaris sama.

Suaranya menggeram seperti hendak meruntuhkan semua yang ada di langit dan di bumi. Bahkan awan yang kuijak pun bergetar karena suaranya. Tiba-tiba dia meludah. Ludahnya saja sebesar gunung Dempu. Masya Allah! Aku makin kaget. Akan dilempar ke mana ludah sebesar gunung itu? Ternyata hal tersebut tidak membuat para Puyang diam. Air ludah yang diarahkannya pada pasukan yang berwarna putih itu mereka tahan dan belokkan. Melihat ini aku meyakini jika kami pun sudah boleh bergerak. Ketika aku baru hendak bergerak bersama yang lainnya, tiba-tiba ada suara menyabarkan kami terlebih dahulu.
“Sabar, jangan melakukan sesuatu lebih dahulu. Tunggu perintah” Suara itu tegas. Akhirnya kembali kami menahan diri. Aku memandang air ludah sebesar gunung Dempu itu dengan mata terbelalak. Dalam hati aku berdoa semoga tidak ada korban tertimpa oleh ludah yang sangat besar itu. Tidak dapat kubayangkan jika menimpa sebuah kampung, maka kampung itu pasti akan hancur dan terbenam melesap ke bumi. Jika itu jatuh di air, maka bisa dipastikan air akan berguncang hebat dan tidak menutup kemungkinan air akan naik ke darat dan pada akhirnya akan membahayakan semua kehidupan di laut, dan di darat.

Ketika aku sampai pada puncak kekhawatiran, aku melihat keajaiban di depan mata. Gerakkan cepat tangan Syech Zakir dan para Puyang, seperti pusaran mata angin memutar air ludah yang besar tersebut. Air ludah itu berputar sembari mengeluarkan suara mendengung yang memekakkan telinga. Aku segera menutup panca indera dengarku karena suara mendengung itu adalah benturan kuat antara kekuatan yang dimiliki air ludah dan tenanga Syech Zakir dan para Puyang. Tak lama suara mendengung berubah menjadi suara deru hujan. Syech Zakir dan para Puyang mengubah air ludah itu menjadi hujan. Air hujan itu di dorong angin dan jatuh di barat agak jauh dari medan pertempuran. Sekarang terdengar deru hujan yang sangat lebat sekali. Hanya beberapa saat, suasana hening kembali. Yang ada hanya suara pertempuran antara pasukan jin fasik dan pasukan yang berbaju putih.

Tak lama, Syech Zakir membisikki aku untuk turun. Tidak menunggu lama aku turun dengan cepat. Namun karena aku belum terlalu jelas melihat pertempuran aku berhenti sejenak dalam jarak yang tidak berapa jauh dari medan pertempuran. Aku membaca situasi secepatnya. Kutingkatkan konsentrasiku segera. Oh! Ternyata yang bertempur memang tidak main-main. Mereka benar-benar tengah berjuang dan masing-masing berusaha untuk saling menjatuhkan. Di seberang aku melihat Putri Bulan dan wanita yang berbaju kuning yang pernah kulihat di bukit Mercawang juga turun sejajar denganku. Lalu ada beberapa sosok lagi yang tak kukenal. Di belakangku berdiri ratusan mungkin juga ribuan nenek gunung berasal dari berbagai penjuru. Ada yang dari Gunung Salak, gunung Selamet, Semeru, Lawu, Dieng, bahkan ada dari pulau Kalimantan dan Sulawesi. Mereka bergabung dengan nenek gunung-nenek gunung dari Sumatera. Aku sedikit merinding. Sungguh aku tidak tahu jika pertempuran di sini sudah berlangsung cukup lama. Bahkan info batin yang kuketahui, pertempuran ini sudah merambat ke beberapa daerah. Dan di atas laut Jawa ini adalah pusatnya. Di pulau Kalimantan, Nusa Tenggara, Laut Riau, hingga ke Aceh sudah ada beberapa titik perlawanan.

“Kami akan ikut bergerak bersamamu, Putri Selasih. Saya Panglima Anom dari Kalimantan, sudah bergabung dengan para panglima dari pulau Jawa” Bisik sosok nenek gunung berwarna kuning keemasan padaku. Aku memberi hormat padanya. Penampilannya yang gagah meyakinkan aku jika beliau bukan nenek gunung sembarangan. Di pundaknya terganting busur panah bermata merah.Mungkin mata panah itu racun, atau bisa jadi api. Tak lama beberapa sosok menghampiriku lagi. Mereka adalah panglima-panglima yang bertugas di sisi bagianku. Sementara di belakang Putri Bulan aku juga melihat banyak pasukan nenek gunung yang gagah-gagah. Melihat penampilan Putri Bulan aku yakin, calon pengantin baru itu siap berjuang di sini. Tatapannya yang tajam tak berkedip seakan membaca strategi. Wanita cantik itu membawa misi perdamaian bersama ratusan nenek gunung dari bukit Barisan di Bengkulu. Bahkan nenek gunung dari Sebakas pun ada di sini.
“Panglima, apakah pasukan kita sudah siap semua. Jangan lupa bentengi diri masing-masing terlebih dahulu?” Bisikku pada Panglima Anom ketika melihat pertempuran makin sengit. Tidak sedikit yang tumbang di antara dua pasukan yang bertempur. Ada yang tubuhnya terpotong-potong, ada yang lebur jadi debu, ada yang berubah menjadi asap dan sebagainya.
“Sementara ini mereka sudah membentengi diri, Selasih” Ujarnya sambil menatap awas medan pertempuran. Dalam waktu singkat aku mendeteksi kekuatan mereka. Aku menggangguk sepakat. Kekuatan mereka sudah lebih dari cukup. Artinya jika menakar kemampuan lawan, paling tidak kemampuan para nenek gunung ini seimbang. Dengan membatin aku mengingatkan mereka untuk waspada, dan tetap saling menjaga. Dan yang penting menghadapi lawan dengan jiwa tenang. Jangan grasa-grusu dan bekerja sendiri. Tapi jika melihat kemampuan mereka, umumnya mereka ahli semua dalam strategi peperangan. Yang penting di wajah mereka terpancar Nur Illahi yang menandakan jika mereka adalah makhluk yang cerdas. Aku menarik nafas lega. Bagaimana pun aku tidak ingin mereka celaka. Paling tidak jagan sampai memakan korban terlalu banyak.

“Turun Selasih!!!” Suara Syech Zakir keras sekali. Mendengar suara beliau aku segera bergerak turun sembari mengerahkan kekuatan. Aku langsung masuk ke tengah-tengah arena. Di mana dari tadi aku melihat senjata-senjata misterius yang terlempar sampai ke langit. Kusapukan selendangku untuk memisahkan dua kubu yang sedang bertempur. Pasukan berbaju putih segera mundur dan kulindungi dengan bentangan selendangku.
“Hiiiiiaaaat” Suara geraman dari sosok merah berwajah seperti nenek sihir, menatapku dengan mata berkilat.
“Dari mana asalmu harimau butut. Berani sekali kau masuk ke medan perang ini” Ujarnya sembari melemparkan bola api dari tangan kirinya. Aku hanya menepis lemparannya dengan ujung jari yang kujentikkan. Permainan anak kecil seperti ini hanya sekadar untuk menakut-nakuti anak kecil. Makhluk ini terlalu mengaggap remeh lawan. Aku tidak mau berdebat, apalagi menjawab pertanyaan-pertanyaanya. Pasukan nenek gunung mengambil alih pasukan berbaju putih. Mereka melangkah undur diri dari medan pertempuran. Melihat pasukan lawan berubah, wajah sosok yang berhadapan denganku tertawa hingga mulutnya mengeluarkan api. Dari energi tertawanya saja aku merasakan sebuah energi yang luar biasa. Kekuatan iblis nampaknya banyak membantu jin berwarna merah ini. Aku meningkatkan kewaspadaan. Semantara pasukan di belakangnya pun sudah siap untuk bertempur dengan pasukan nenek gunung di belakangku.
“Allahu Akbar!” Aku mulai bergerak. Selendangku menderu mengeluarkan angin kencang menghalau api lawan sehingga api yang ke luar dari tubuhnya menyentuh pasukan-pasukan yang berada di belakangnya. Jika tadi aku melihat sosok lawanku berwarna merah, semakin lama berubah menjadi hitam legam. Perubahan yang menggambarkan jika dirinya tengah mengerahkan kemampuannya. Seperti biasa aku akan terus berzikir menghadapi makhluk seperti ini. Aku mulai memasang kuda-kuda mengerahkan kekuatan. Tak lama pukulan demi pukulan yang diarahkan padaku semakin gencar menyerang. Aku pun memberikan pukulan balasan. Pertempuran tak bisa dielakkan lagi. Kami bergumul dengan cepat. Beberapa kali aku nyaris terlempar kena pukulanya. Namun aku kembali bangkit dan berdiri kembali.

Di sisi lain, pasukan lawan mulai melakukan penyerangan pada pasukan yang dipimpin oleh Panglima Anom dan panglima lainnya. Aku melihat Panglima Anom dan kawan-kawannya sesama panglima berada di barisan depan. Mereka bergerak sangat gesit. Beberapa kali kulihat mereka berhasil menumbangkan lawan. Sementara ini jumlah yang bertempur kulihat seimbang. Kekuatan-kekuatan dua kubu saling beradu. Aku pun beberapa kali tersentak kena energi kekuatan mereka. Kuakui kekuatan lawan memang luar biasa. Ilmu-ilmu aneh terlihat di sini. Bagaiman jari-jari pasukan ini bisa berubah menjadi kepala ular yang mengeluarkan racun berwarna merah. Dalam keadaan genting, tangan Syech Zakir terlihat berayun menghalau jari-jari kepala ular yang hendak menyerang pasukan nenek gunung di bawah komando Panglima Anom. Sekali kibas, ular-ular itu berada di genggaman Syech Zakir. Sambil mengucapkan Allahu Akbar, Syech Zakir menghempaskan tangannya ke bawah sambil berucap “Terkurung di neraka sampai hari kiamat Huu Allah!” Aku melihat pasukan jin fasik terlempar sangat cepat seperti lesatan cahaya nyungsep tembus ke bumi. Masya Allah! Dasyat sekali. Aku terkagum-kagum sembari terus melakukan perlawanan. Bagaimana itu bisa terjkadi? Sementara aku hanya bisa menangkap, membakar, meremuk, atau mengurung mereka. Sementara Syech Zakir dapat menangkap mereka hidup-hidup lalu mengikat dan membuangnya ke dalam neraka hingg hari kiamat. Sebuah kemampuan langka yang dimiliki oleh makhluk hidup pada umumnya. Kupikir hanya para malaikat saja yang bisa melakukan hal seperti itu.

“Putri Selasih, tugasmu bebaskan Raden Panca Arya segera” Syech Zakir kembali komunikasi batin padaku. Belum sempat aku bertanya dimana posisi Raden Panca Arya, tiba-tiba aku diperlihatkan bayangan lelaki gagah yang tengah bertempur habis-habisan menghadapi seroang raja yang bermahkota seperti duri. Setelah kuamati, ternyata itu bukan duri. Tapi tanduk yang seperti di tata mengelilingi kepalanya.
“Hiiiiiaaaat!!! Hap! Hap! Aku segera melakukan pukulan cepat ke arah lawanku sebelum membantu Raden Panca Arya. Jin yang sudah berwarna hitam lawanku tersentak kaget. Mungkin dia tidak menyangka jika kapak yang kuambil dari betisku menyabet dan menyerangnya tanpa memberikan sela untuknya bergerak menghindar. Bunyi siuran angin berkecepatan tinggi membabas lawan ke sana kemari. Mantra-mantra pun kulafaskan untuk memberikan kekutan pada kapakku yang melayang.
“Allahu Akbar!!” Sabetan kapakku sekali gerak menebas tubuhnya beberapa potong tanpa darah. Dia tak mampu menjerit lagi. Lalu secepat kilat sebelum potongan tubuhnya itu menyentuh bumi kusapukan selendang, mengikat dan meremuknya.

Melihat pimpinannya tewas beberapa pasukan terkesima. Antara melanjutkan pertempuran dan tidak terlihat dari gerakan mereka yang ragu-ragu. Aku tidak mempedulikan mereka. Sikap ragu-ragu mereka justru sela bagi pasukan nenek gunung membekuk mereka. Beberapa sosok berbalik hendak menyerangku sebagai balasan karena pemimpin mereka telah kutewaskan. Namun belum sempat mereka melakukan serangan tubuh mereka telah diremuk oleh nenek gunung dari pulau Jawa. Suara erangan kembali menggema di atara dentingan senjata dan deru angin.
“Hiiiiaaaaat!!” Aku melompat menuju Raden Panca Arya yang tengah melakukan perlawanan pada sosok raja dan seekor naga bermahkota. Sungguh perkelahian yang tidak seimbang. Raden Panca Arya dikeroyok oleh dua kekuatan yang sama dasyatnya.

“Maaf Raden!” Ujarku sembari melemparkan sabuk yang melingkar dipinggangku. Seketika sabukku berubah menjadi naga berwarna kuning. Kakinya kuberi kuku panas yang siap mecakar dan meleburkan lawan meski tersentu sedikit saja. Mata sang Raja dan Naga mendelik menatapku penuh amarah. Nagaku mulai mengambil alih pertempuran. Dengan cepat tubuhnya memukul dan menghembus naga yang semula mengeroyok Raden Panca Arya. Perkelahian dasyat pun tidak dapat dielakkan. Naga dari sabukku memancing naga lawan untuk melakukan pertarungan di atas. Keduanya seperti punya sayap melesat menuju awan. Tak lama di atas pun seperti hendak runtuh ketika kekuatan demi kekuatan keduanya beradu. Sekarang sesuai tugasku, aku akan membantu Raden Panca Arya melawan raja jin ini.
“Percuma! Mau ilmu apa pun yang kalian keluarkan tak akan mampu menumbangkan aku. Akulah raja diraja yang ditakuti di alam gaib ini dan siap memimpin kalian. Aku tidak akan pernah mati. Jadi percuma kalian mengeluarkan energi melawanku. Lebih baik kalian menyerah” Ujarnya tertawa pongah. Apa yang dikatakannya bahwa dirinya tidak akan bisa mati, karena dia mempunyai ilmu aneh memang. Tiap kali badannya terpotong lalu dengan mudah bagian tubuhnya mencari dan menyatu kembali. Ilmunya mirip-mirip rawarontek yang cukup terkenal di tanah Jawa ini. Bedanya, tubuhnya menyatu tidak mesti harus menyentuh tanah seperti rawarontek. Tapi meski dia mengatakan dirinya tidak bisa mati aku tidak percaya. Setiap makhluk hidup pasti akan mati. Aku abaikan apa yang disampaikannya.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *