Polemik Kenaikan UKT PTN di Mata Pelajar Indonesia yang Kuliah di LN

Kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) menjadi polemik di tengah masyarakat. Pasalnya, peraturan ini dinilai membebankan bagi orang tua mahasiswa yang berpenghasilan menengah ke bawah.

Adapun kenaikan UKT ini tertuang dalam Permendikbud Nomor 2 Tahun 2024 yang dilanjutkan dengan Keputusan Mendikbud Nomor 54/2024 tentang Standar Satuan Biaya Operasional Pendidikan Tinggi.

“Kemungkinan ini akan dievaluasi dulu, kemudian kenaikan setiap universitas akan dikaji dan dikalkulasi sehingga kemungkinan, ini masih kemungkinan, nanti ini kebijakan di Mendikbud, akan dimulai kenaikannya tahun depan,” ujar Jokowi di Istora Senayan, Jakarta, Senin (27/5).

Keputusan ini menimbulkan keresahan bagi para orang tua dan murid yang akan melanjutkan pendidikan tingkat tinggi. Beberapa kasus bahkan akibat kenaikan UKT membuat calon mahasiswa/i yang sudah diterima lewat jalur prestasi terpaksa mengundurkan diri akibat tidak sanggup membayar uang masuk universitas. Kritik tajam warga terhadap kebijakan kenaikan uang kuliah tunggal (UKT) di perguruan tinggi negeri (PTN) membuat pemerintah akhirnya membatalkan kebijakan tersebut. 

Beberapa pelajar Indonesia yang berada di luar negeri ikut merasa prihatin dengan semakin sulitnya untuk meraih pendidikan lebih maju akibat mahalnya biaya kuliah. Walaupun kenaikan UKT dibatalkan, namun menutup kemungkinan akan dinaikan kembali tahun depan. Surat Dunia mewawancarai beberapa pelajar Indonesia yang berada di Eropa (Prancis, Spanyol dan Jerman) juga mantan pelajar Indonesia yang pernah menempuh pendidikan S3 di Lyon Prancis kini menjadi dosen di UIN Bandung.

Caesar Marga Putri (S3 Facultat d’Economia i Empresa, Universitat de Barcelona, Spanyol)

Untuk kuliah S3 atau program doktorat di Universitat de Barcelona sangat terjangkau. Biaya pendidikan setiap satu tahun akademik hanya sebesar 540,92 Euro atau sebesar Sembilan juta duaratus ribu rupiah. Jika kita melihat website Universitas lain di Barcelona atau di Spanyol, biayanya akan mirip. Mislanya program doktor hukum di Universitat Autonoma de Barcelona, di website tertulis berkisar 540 Euro. Artinya satu semester hanya sekitar empat juta enam ratus ribu rupiah. Jika saya bandingkan dengan perguruan tinggi negeri di Indonesia, untuk mengambil program doktor, persemester mahasiswa harus merogoh kocek angka yang cukup fantastis, dua digit persemesternya, maka biaya ini jauh-jauh sangat terjangkau.

Selain itu saya juga akan menghighlight biaya pendidikan level sarjana. Untuk contohnya saja saya ambil contoh jurusan yang saat ini paling mahal di Indonesia, yaitu jurusan kedokteran. Sependek yang saya tahu saat ini, biaya persemester jenjang sarjana kedokteran rata-rata dua digit tergantung tingkatan UKT yang dibebankan. Saya mencoba membuka website tingkat sarjana kedoteran di Universitat de Barcelona. Kredit yang harus diambil mahasiswa kedokteran selama enam tahun rentang waktu hingga memperoleh gelar dokter sebanyak 360 kredit dengan biaya per kredit sebesar 18.46€. Jadi biaya persemester jenjang sarjana kedokteran sebesar 553.8€. dan yang menarik biaya ini akan seragam di semua universitas di autonomus yang sama. Jika saya bandingkan dengan autonomus lain, seperti universitas di wilayah Andalusia, biaya jenjang sarjana kedokteran ini, tidak jauh berbeda, hanya saja biaya di universitas negeri di wilayah Andalusia lebih murah hal ini kemungkinan disesuaikan dengan tingkat pendapatan penduduk di wilayah tersebut. Membuat analisis sederhana, saya mencoba melihat pendapatan per kapita setahun di Indonesia tahun 2022 sekitar 4.700 USD sedangkan di Spanyol sudah mencapai 29.600 USD, maka saya melihat biaya jenjang sarjana dan doktorat di sini sangat terjangkau untuk masyarakatnya. Bayangkan saja dengan pendapatan perkapita setahun enam kali lebih tinggi, namun biaya pendidikan masih jauh lebih murah untuk jenjang doktorat dan sarjana. Pemerintah juga menyediakan banyak beasiswa bagi yang tidak mampu.

Tidak seperti di Indonesia yang menetapkan biaya masuk cukup fantastis, di universitas negeri, Spanyol tidak dikenakan biaya tersebut. Mungkin kondisi di Spanyol saat ini mirip dengan mekanisme kuliah di Indonesia jaman dulu ketika masuk universitas negeri tidak dikenakan biaya lain kecuali biaya persemester yang sangat terjangkau khususnya untuk anak-anak pintar dari keluarga tidak mampu.

Nurul Novelia Fuandila (Université Montpellier, France GAIA Doctoral Evolution and diversity)

Pertama baca berita ini jujur saya merasa kecewa pada pemerintah. Terlebih pernyataan itu datang dari Kemenristekdikti saat wawancara oleh media yg menyatakan pendidikan perguruan tinggi tidak wajib. Harusnya pemerintah memberikan solusi bukan malah memberi pernyataan yang seakan-akan menegaskan pendidikian tinggi itu tidak penting. Sedih sekali, secara tidak langsung bilang bahwa pendidikan tinggi hanya bagi mereka yang punya uang dan bagi yang tidak mampu berhentilah punya mimpi. Disisi lain kita sudah tahu bahwa banyak masyarakat Indonesia yang miskin dan untuk makan pun susah apalagi disuruh bayar uang kuliah yang mahal. Melalui pendidikan, kualitas hidup pasti akan lebih baik dan bisa mengubah nasib rakyat sendiri maupun untuk negara secara menyeluruh. perbandingan yang nyata antara negara sendiri dan negara orang.

Di Prancis dimana saya menempuh S3, keperdulian terhadap pendidikan bangsanya tidak hanya untuk warga negaranya namun juga untuk pelajar asing seperti saya. Pemerintah memberikan kepedulian dan kesetaraan hak yang sama bagi mahasiswa asing untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak dan mudah. Mahasiswa asing tidak bayar pajak disini walaupun kami ada kerja sampingan, terlebih orang tua mahasiswa asing tidak membayar pajak seperser pun ke Prancis. Tetapi kami mendapat kemudahan yang jauh lebih baik dibandingkan di Indonesia. Jujur saya merasa kadang tidak adil karena di sini saya bisa menempuh pendidikan dengan dukungan dari pemerintah Prancis padahal saya orang asing, sementara bila saya menempuh doktoral di Indonesia, sudah pasti biaya yang akan saya keluarkan begitu besar. Di Prancis ini saya jadi bisa konsentrasi dengan sekolah saya tanpa harus pusing memikirkan biaya yang mahal.

Felix Hakim Muehuer (S1 Université Montpellier 1 France, Electrique Electronique et Automatique)

Menurut saya biaya kuliah yang mahal dan UKT yang dinaikan itu sangat membebani orang tua dan mahasiswa terutama yang membiayai diri sendiri. Mahasiswa yang seharusnya bisa fokus belajar malah ikut terbebani. Saya tidak melihat dampak positif yang signifikan terhadap kenaikan UKT terutama jika alasannya hanya untuk makan siang gratis. Sudah banyak saudara kita yang berniat kuliah namun tidak mendapatkan kesempatan untuk bisa berkuliah karena mahalnya biaya kuliah, apalagi jika dinaikan UKTnya. Saya pikir kalau misalnya jadipun UKT dinaikan, banyak sekali mahasiswa yang harus meniggalkan kuliahnya ditengah jalan.

Menurut saya keuntungan kuliah di Prancis ini, dengan minimnya biaya kuliah, mahasiswa bisa fokus ke study mereka dan waktu luang mereka dapat mereka gunakan untuk sesuatu yang bermanfaat seperti belajar dan sesuatu yang bisa mendukung perkembangan study mereka seperti hobby mereka (kalau saya suka main simulasi rancangan/design rakitan electric electronic). Jadi waktu luang mahasiswa tidak disibukan dengan kerja.

Menjadi mahasiswa sendiri sebenarnya sudah sangat sibuk dengan project dari kuliah, organisasi, tugas, ujian dan lainnya. Tidak banyak mahasiswa yang bisa mengatur waktu dengan baik dengan kesibukan perkuliahan sendiri apalagi jika ditambah dengan perkerjaan. Belum lagi susahnya mencari kerja part time untuk mahasiswa. Jadi memang biaya kuliah diperancis ini sangat meringankan beban mahasisw

Aulia Kurnia Hakim (Goethe University Frankfurt am Main, Germany, Master Southeast Asian Studies)

Di Jerman, pendidikan untuk kampus negeri benar-benar disubsidi, bahkan nyaris bayar nol. Saya sebagai mahasiswi asing hanya bayar semester mulai dari 150-400 euro (tergantung kampus), yang bisa dikonversi untuk tiket perjalanan selama 1 semester di provinsi tempat mahasiswa itu kuliah.

Menurut saya kuliah di Indonesia seharusnya jangan mahal, karena pendidikan itu menjadi hak setiap warga negara Indonesia. Apalagi di zaman sekarang, kuliah bisa mendapat banyak sumber pembiayaan, baik dari bantuan pemerintah atau membuat badan usaha. Salah satu alasan inilah yang membuat saya memilih kuliah S2 di Jerman karena selain biaya jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya kuliah di Indonesia untuk universitas dengan ternama dan baik.

Wisnu Uriawan (S3 Informatique INSA, Lyon, France, Dosen Tetap UIN Sunan Gunung Djati Bandung, pengajar di Beberapa PTS

Prancis merupakan salah satu negara maju yang tentunya dengan indikator pengelolaan Pendidikan yang sudah matang. Jika melihat sekilas tentu orang menerka bahwa biaya pendidikannya sangat mahal. Pemerintah Prancis menerapkan sistem Pendidikan terpusat dengan mekanisme standar yang telah ditetapkan. Dari mulai pra-sekolah hingga perguruan tinggi. Bagaimana dengan biaya sekolahnya? (tuition fees) sepanjang pengamatan selama melanjutkan studi disana. Biaya pendidikan pra-sekolah hingga SMA sederajat gratis, sedangkan, untuk tingkat universitas (kampus negeri) pada saat itu di kisaran €170 untuk Jenjang setara S1 per tahun, €243-€280 untuk jenjang S2 per tahun, dan €380 untuk jenjang S3 per tahun. Dan konon kabarnya meningkat signifikan mulai tahun akademik 2019/2020. Namun, pada saat itu infonya batal diterapkan. Salah satu alasan saya saat itu mengambil S3 di Prancis selain secara akademik bagus juga karena bayaran yang terjangkau, tapi mendapatkan fasilitas penuh seperti pelajar Prancis.

Jika melihat hal ini, negara maju tentunya telah menghitung secara cermat seluruh anggaran yang terkait dengan Pendidikan, sehingga dapat memberikan biaya Pendidikan yang terjangkau (affordable). Dengan kondisi demikian, bisa menjadi salah satu acuan bagi Indonesia yang sebelumnya diberitakan bahwa kampus Negeri akan menaikan uang kuliah Tunggal (UKT). Hal ini tentunya akan sangat memberatkan Masyarakat, namun alhamdulillah akhirnya tidak jadi di naikan sehingga hal ini dapat mendorong putra/putri terbaik bangsa dapat melanjutkan jenjang pendidikan ke yang lebih tinggi. Besar harapan, bahwa pemerintah dapat mengkalkulasi lebih tepat, sehingga kenaikan biaya Pendidikan disesuaikan dengan kemampuan/daya beli Masyarakat sehingga baik kampus maupun masyarakan dapat menjalankan amanat Undang undang dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa.

Banyak faktor yang dapat menunda kenaikan UKT, antara lain: meningkatkan sumber-sumber pendapatan perguruan tinggi dari unit-unit usaha komersial yang dapat dikembangkan sehingga dapat menjadi tambahan pemasukkan bagi perguruan tinggi. Di samping itu, bekerja sama dengan industri untuk mengadakan penelitian dan mengerjakan proyek Bersama untuk meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan unsur tridarma penelitian. Sementara untuk pemberdayaan Masyarakat dapat bekerja sama dengan Kementerian terkait dan CSR (Corporate Social Responsibility) Perusahaan untuk melaksanakan tridarma pengabdian kepada Masyarakat. Dengan demikian, keberadaan perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi yang banyak bagi Masyarakat sekitar dan negara pada umumnya.

Perguruan Tinggi saat ini dituntut lebih kreatif dalam mengelola dan menambah pemasukkan untuk meningkatkan kualitas Pendidikan tanpa harus mengandalkan dari UKT mahasiswa pada saat biaya operasional pendidikan yang semakin berat. Semoga ke depan, Indonesia dapat menyajikan pendidikan tinggi yang berkualitas dengan biaya yang terjangkau atau bahkan gratis.    

2 tanggapan untuk “Polemik Kenaikan UKT PTN di Mata Pelajar Indonesia yang Kuliah di LN

  • 4 Juni 2024 pada 18 h 47 min
    Permalink

    Begitulah Negara Wakanda, rakyat dipajakin dibikin semakin bodoh, nggak aneh Negara Barat selalu maju karena mereka memang membuat generasi mudanya untuk pintar menjadi aset bangsa.

    Balas
  • 4 Juni 2024 pada 18 h 47 min
    Permalink

    Wah, beruntung sekali ya bisa sekolah di Eropa. Luar biasa ya fasilitas yang mereka berikan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *