Pesona Angklung dan Tarian Nusantara Memukau Pengunjung Toulouse
Toulouse, Prancis – Indonesia turut berpartisipasi dalam ajang Foire Internationale de Toulouse yang berlangsung pada 10 hingga 19 April. Kehadiran Indonesia dalam pameran ini difasilitasi oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Marseille dengan menggandeng komunitas diaspora Indonesia di Toulouse.
Dalam kegiatan tersebut, KJRI Marseille bekerja sama dengan sejumlah mitra diaspora, yaitu Association Couleur Indonesia (ACI), Association Kirana Budaya, serta pelaku usaha Indonesia seperti Warung Sonata dan Délice de Siti. Stan Indonesia menampilkan beragam produk khas Nusantara, mulai dari makanan, kerajinan, hingga produk budaya yang menarik perhatian pengunjung.


Selain memamerkan produk, Indonesia juga menghadirkan pertunjukan budaya yang menjadi salah satu daya tarik utama selama pameran berlangsung. Melalui kolaborasi ACI dan Kirana Budaya, berbagai tarian tradisional Indonesia ditampilkan untuk memperkenalkan kekayaan seni Nusantara kepada masyarakat internasional.


Beberapa tarian yang dipentaskan antara lain Tari Jathilan dari Jawa Timur, Tari Cendrawasih dari Bali, Busuk Buhit Tortor, Tari Empat Etnis, serta Tari Akarena. Pengunjung tampak terkesan dengan ragam gerakan tari yang unik serta kostum para penari yang berwarna-warni dan mencerminkan ciri khas budaya Indonesia. Bagi sebagian pengunjung, tarian tersebut menjadi pengalaman baru karena memperlihatkan keindahan tradisi yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.


Selain tarian, perhatian pengunjung juga tertuju pada promosi alat musik tradisional angklung. Alat musik yang terbuat dari bambu ini menarik minat karena bentuknya sederhana, namun mampu menghasilkan bunyi yang merdu dan harmonis ketika dimainkan bersama. Banyak pengunjung mengaku kagum karena dari susunan bambu yang tampak simpel, angklung dapat menciptakan alunan musik yang terdengar indah.

Pada kesempatan tersebut, turut ditampilkan persembahan musik angklung yang dibawakan oleh Hadyan Fibrianto dan Christine Kalvin dengan iringan pemain tambahan yang terdiri dari tiga anak dan satu orang dewasa warga negara Prancis. Kolaborasi ini memberikan kesan tersendiri karena menunjukkan bahwa angklung dapat dimainkan lintas budaya serta menjadi sarana kebersamaan melalui musik.


Keempat pemain asal Prancis; Anaé, Evan, Candice dan Cedric menyampaikan bahwa pengalaman memainkan angklung sangat menyenangkan dan memberi kesan mendalam. Mereka menilai angklung sebagai alat musik yang unik karena membutuhkan kekompakan antar pemain agar menghasilkan nada yang selaras. Mereka juga menyatakan jika alat musik dari bambu yang natural ini sangat mudah dimainkan namun bisa memberikan bunyi begitu indah.

Setelah pertunjukan, beberapa pengunjung mendatangi stan Indonesia untuk melihat lebih dekat angklung dan mencoba memainkannya. Mereka tampak antusias mempelajari cara menghasilkan nada dari alat musik yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO tersebut. Pengunjung juga antusias untuk melihat berbagai produk yang ditawarkan di stan Indonesia.


Konjen RI Marseille Dian Kusumaningsih menyampaikan bahwa antusiasme masyarakat Prancis terhadap angklung menunjukkan besarnya daya tarik budaya Indonesia di mata dunia. “Angklung adalah salah satu warisan budaya Indonesia tidak hanya indah didengar, tetapi juga mengajarkan tentang kebersamaan”
Partisipasi Indonesia dalam Foire Internationale de Toulouse menjadi wujud nyata promosi budaya Indonesia di luar negeri. Melalui produk, tarian tradisional, dan musik angklung, Indonesia berhasil memperkenalkan kekayaan budayanya sekaligus mempererat hubungan budaya dengan masyarakat internasional di Prancis.

