Bersama Seorang Perempuan Asing di Teater

Catatan Dr. Victor Pogadaev – Russia

Di Moslow, seorang perempuan Indonesia bertepuk tangan untuk percakapan yang tak dipahaminya. Ia tak mengerti bahasa Rusia. Tetapi ketika pertunjukan berakhir, ia menyerukan, “Bravo!”Ada sesuatu yang sampai tanpa melewati kamus.

Namanya Carla Bianpoen, kolega kami dari Indonesian Observer. Ia datang ke Moskow 25 tahun lalu yaitu pada bulan Februari tahun 2001 bersama Erika, seorang pelukis, untuk membantu menyelenggarakan pameran tunggal. Mereka menyewa apartemen di Leninsky Prospekt. Saya waktu itu bekerja di koran Rusia ‘Moskow Sore’Erika mengenal Moskow melalui warna, Carla melalui jalan-jalannya, pencarian tempat pameran, dan kehidupan malamnya.

Saya mengajak Carla ke Teater “Modern”. Kami berjanji bertemu pukul lima sore. Ketika saya tiba di apartemennya, ia belum pulang.

Saya menunggu di antara lukisan yang seakan menambahkan jendela pada ruangan itu. Kubah-kubah Moskow tampil dalam warna cerah, nyaris menantang musim dingin.

Ada jalan bersalju, potret diri Erika sebagai matryoshka, dan televisi bergambar lelaki berbaju kuning. “Philipp Kirkorov,” kata Erika. “Saya suka cara dia bernyanyi. ”Namun dari pemutar kaset, suara Zhanna Bichevskaya mengalun. Di hadapan kanvas seorang tamu, kota saya memperoleh wajah yang luput dari kebiasaan mata saya sendiri.

Carla pulang dengan tubuh letih. Perjalanan menguras tenaganya; dingin menuntut sisanya. Dari Indonesia yang sekitar tiga puluh derajat ke Moskow yang minus dua puluh, tubuhnya harus menempuh jarak yang tak tercantum pada tiket pesawat. Namun ia tetap ingin ke teater.

Bus troli listrik tak beroperasi karena terlalu dingin. Kami berjalan kaki, lalu naik metro. Malam itu dipentaskan “Ekaterina Ivanovna” karya Andreyev.

Carla bertanya tentang teater, pengarang, dan ceritanya. Keletihan belum memadamkan rasa ingin tahunya. Tiket lima puluh rubel membuatnya heran. Saya mengatakan, teater itu agaknya disubsidi pemerintah Moskow.

“Bagaimana pemerintah masih bisa menemukan uang untuk teater di masa-masa sulit seperti ini?”

Carla Bianpoen

Pertanyaan itu tinggal bersama saya. Saya tak segera menemukan jawaban. Orang membutuhkan makanan dan penghangat ruangan. Tetapi malam itu orang-orang juga datang untuk duduk dalam gelap, menyaksikan kesedihan yang tak tercantum dalam urusan mereka sehari-hari.

Dalam kesulitan, kesenian mudah dianggap dapat menunggu. Tetapi apa yang hilang ketika sebuah kota tak lagi menyediakan tempat untuk menyaksikan hidup orang lain? Di panggung, kehidupan seseorang memperoleh waktu untuk didengarkan.

Carla mengikuti pertunjukan sampai akhir. Tiga babak berlangsung di ruangan dan lantai berbeda. Ia menyukai perpindahan itu. Tubuhnya ikut bergerak bersama cerita ketika kata-katanya belum terbuka. Ia memperhatikan tata panggung, akting, dan penonton yang menyambut dialog dengan antusias. Makna tentu banyak yang luput. Namun simpati menemukan jalannya.

Teater Drama Moskow “Modern

Sebagai seorang feminis, ia berpihak kepada tokoh istri yang terus dicurigai, sampai akhirnya benar-benar berselingkuh. Kecurigaan seperti tangan yang meremas benda rapuh untuk memastikan benda itu tak pecah. Dalam genggamannya, retak justru menjalar. Lalu tepuk tangan terdengar. Carla berseru, “Bravo!” Kata pendek itu menyeberangi jarak yang tak dapat ditempuhnya dengan kalimat Rusia.

Setelah mengantarnya pulang, saya teringat betapa negeri kami telah berubah dalam sepuluh tahun. Dahulu, saya mungkin harus menjelaskan kepada bagian yang berwenang mengapa saya pergi bersama orang asing. Saya hanya ingin menyenangkan hati seorang tamu dan memperkenalkannya kepada teater Moskow. Tetapi dalam pikiran yang diasuh kecurigaan, keramahan selalu memerlukan keterangan tambahan. Di panggung, seorang suami mencurigai istrinya. Di luar panggung, sebuah negara pernah merasa perlu mengetahui alasan dua orang melewatkan malam bersama.

Saya teringat Carla. Ia tak memahami bahasa para pemain, tetapi dapat menyambut mereka. Pernah ada orang-orang yang memahami setiap kata kami, namun belum tentu mempercayai penjelasan saya. Malam itu saya hanya mengantar seorang tamu pulang. Alangkah jauhnya sebuah negeri harus berjalan agar perpisahan di depan pintu cukup diakhiri dengan ucapan selamat malam.

Teks bahasa Indonesia diedit oleh Dikdik Sadikin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *