HARIMAU SUMATERA HEWAT BERADAT III (47A)

Karya RD. Kedum

Cuaca terasa sangat terik. Hari menunjukkan pukul 11.00 siang. Aku sudah menghabiskan hampir tiga gelas air dingin. Emak mengingatkan agar perutku tetap diisi nasi. Apalagi beliau melihat peluhku mengucur seperti mata air. Kulit wajahku tampak merah. Aku baru saja selesai melatih baris-berbaris di lapangan bola kaki depan sekolah. Ternyata melatih teman-teman SMP sungguh berbeda ketika melatih kawan-kawanku waktu SD. Anak SMP susah di atur. Mungkin mereka sudah merasa gede. Rata-rata kurang kesadaran dalam memaknai kebersamaan, kekompakan, dan perjuangan. Sampai-sampai guru olahraga yang mengawasi kami latihan marah-marah melihat teman-teman banyak tidak serius. Kami dijemur Beliau di lapangan bola kaki. “Makanya setiap hari itu jangan kebanyak makan! Ini sarapan dengan makan siang sama porsinya. Kalau makan terong satu-satu. Setiap hari sayur rebus. Sesekali ditumis. Sesekali makan ikan teri agar otak kalian itu berbobot. Kamu kira enak memimpin empat puluh orang ini agar kompak? Ini main-main. Hargailah Dedek yang sudah susah payah mengajari kalian!” Ujar beliau di sela -sela marahnya.

Aku juga akhirnya ikut dijemur meski Pak Ardi intinya membela aku. “Dek, jangan minum air dingin, ini ganti dengan air hangat-hangat kuku,” Bapak menyuguhkan segelas air hangat. Padahal cuaca terik. Akhirnya aku manut saja. Aku minum air hangat dari Bapak. Duh aku jadi malu ketika Emak memaksaku makan. Sepiring nasi, sepotong tahu dan tempe goreng, sayur lumai tumis dan sabel cengek. Bapak menambahkan segelas air hangat kembali. Masya Allah..kedua orang tua ini. “Emak, Bapak, Dedek kan bisa ambil sendiri. Tidak usah diambilkan. Dedek jadi malu.” Ujarku. “Hallah…sesekali juga. Kamu susah betul kalau disuruh makan,” sambung Emak sambil mengelap meja.

Aku tak mampu berkata apa-apa menerima kebaikan kedua orang tua ini. Selalu dan selalu. Nyaris setiap aku kemari ada saja yang disuguhkan. Akhirnya aku paksakan makan suguhan Emak. Usai makan buru-buru aku mencuci piring, menyapu dapur Emak sekadarnya agar tidak terlambat untuk melanjutkan latihan. “Dek, kalau mau pulang nanti singgah kemari ya. Bapak habis panen, bawa pulang sayur dan cabe!” Emak berteriak dari dalam ketika melihat aku sudah di seberang jalan. Kubalas ‘iya’ dengan sedikit berteriak juga. Entahlah, latihan kali ini aku merasa sangat lelah. Bukan karena siang tadi di jemur di terik matahari. Tapi aku merasakan sesuatu yang terjadi namun aku tidak tahu apa itu. Sementara aku tidak punya waktu untuk terlalu fokus pada instingku karena disibukan berbagai macam hal. Aku merasa paling sibuk. Belum lagi harus mempersiapkan diri berbagai macam lomba membaca puisi perjuangan, lomba solo vokal lagu-lagu perjuangan. Kadang aku berpikir, mengapa harus aku terus yang diikutkan lomba? Seperti tidak ada orang lain saja.

Hari ini, bagiku benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Ada-ada saja kejadian tidak masuk akal. Ketika aku sedang melatih, peluit yang kutiup untuk aba-aba, pecah tanpa sebab. Lalu dua di antara kawanku satu keseleo, kakinya cedera. Padahal tidak ada lubang atau terinjak batu. Tiba-tiba tergelincir. Lalu satu lagi, apakah kelelahan atau memang fisiknya kurang sehat, tiba-tiba baru latihan beberapa menit pingsan. Akhirnya barisan jadi kacau. Banyak yang protes minta istirahat saja dulu dengan alasan nanti kejadian yang ke tiga pasti lebih parah dan lain-lain. Akhirnya karena aku juga kurang mood, kuhentika latihan. Tapi konsekuensinya besok latihan ekstra dari pagi sampai sore. Semua sepakat!

Aku masih asyik ngobrol dengan teman-temanku di pinggir jalan depan gerbang sekolah. Salah satu yang kami bicarakan masalah teknik lomba yang akan kami ikuti. Beberapa teman bersedia juga ikut lomba dan hendak ngajak latihan bersama. Baru saja aku menjelaskan teknik lomba, tiba-tiba aku mendengar suara halus memanggilku. “Selasih…selasih…kau berjalanlah ke hulu. Kakek menunggumu.” Suara kakek? lama aku mengingat-ingat suara kakek yang mana itu? Kok asing suara itu? Aku tidak mengenalnya. “Iya Kek…kemana?” Ujarku sengaja bertanya untuk kembali mendengar suaranya agar aku tahu, kakek yang mana yang memanggilku.”Ke hulu, Cung. Ke arah gunung Dempu.” Aku kembali mencoba memahami warna dan nada suara yang agak berat itu. Tapi gagal. Aku tidak bisa menentukan kakek yang mana yang berkata. Aku tidak mengenalnya. Untuk bertanya ada rasa segan. Aku malu jika tidak mengenal suara siapa yang memanggilku. Dan ini kuanggap ‘dungu’.

“Sini, Cung..ada hal penting yang harus kamu tahu,” suara Kakek Andun? Tapi Kakek Andun dengan siapa? Mengapa kakak Andun menyuruhku ke arah hulu? Bukankah jika kakek Andun memanggilku harusnya dia menyuruhku ke hutan perkemahan Bandar Jaya itu? Ke hilir. Antara ragu dan tidak, aku mencoba mencari keberadaan mereka. Aku minta izin kawanku ke belakang warung Emak sebentar. Aku berlari. Sesampai di sana aku pecah diriku menjadi dua. Satu bergabung kembali dengan kawan-kawanku. Lalu aku baca mantra kasat mata. Jasadku tak terlihat oleh manusia. “Kakek…keberadaan kakek di mana? Di puncak?” Tanyaku. Aku berharap kakek Andun yang jawab. “Belum, belum sampai puncak. Masih di kaki Dempu.” Ujar kakek yang tidak kukenal suaranya itu.

Akhirnya aku hanya berjalan cepat. Di jalan aku masih juga terpikir ragu dan tidak yakin kakek Andun menunggu di kaki Dempu. Akhirnya aku tidak habis akal, muncul inisiatifku memanggil Macan Kumbang. “Macan Kumbang, Macam Kumbang…kemari,” ujarku pelan. “Ada apa?” Tanya Macan Kumbang. “Aku dipanggil Kakek Andun dan kawannya di hulu kaki gunung Dempu,” ujarku sambil terus berjalan. “Stop!!! Berhenti di situ. Jangan lanjutkan perjalanan, Selasih.” Sambil komunikasi dengan Macan Kumbang suara memanggil seakan mendorongku untuk terus berjalan. “Cepatlah kemari, Cung. Kakek menunggumu..” Suara Kakek Adun lagi. Aku menjadi ragu. Tidak biasanya kakek Andun memanggilku setengah maksa seperti itu. Beliau sangat sayang padaku. Tidak akan menyuruhku cepat menemuinya dengan sedikit memaksa. Beda karakter dengan kakek Andun yang kukenal.

Aku berhenti sejenak mencoba menyisir keberadaan Kakek Andun. Dua kali kucoba, tidak bisa! Aku bingung. Apakah kemampuanku yang hilang, atau memang aku dihalangi kekuatan gaib yang tidak bisa kutembus. “Ini kekekmu, Selasih. Kakek menunggu di sini. Jangan ragu-ragu, Cung.” Suara itu lembut sekali. Persis suara kakek Andun. “Jangan lanjutkan, Selasih. Mari kita putar balik.” Tiba-tiba Macan Kumbang ada di hadapanku. Macan Kumbang menarik tanganku untuk kembali turun ke lembah. “Aku mau menemui kakek Andun, Kumbang,” ujarku berusaha menarik tanganku. “Itu bukan kakek Andun, Selasih. Kamu kena sihir mereka.” Lanjut Macan Kumbang. “Sihir? Siapa mereka Macan Kumbang? Mengapa mereka menyihirku?” Tanyaku bingung.”Mereka adalah bala tentara kerajaan yang datang dari Banyuwangi.” Ujar Macan Kumbang. Aku terkesima. Balatentara? “Balatentara siapa? Dalam rangka apa dia jauh-jauh menyeberangi lautan dan pulau datang ke tanah Besemah ini?” Tanyaku lagi. Pasti ada alasan kuat pasukan tentara dari Banyuwangi meyeberang ke Sumantera.

“Sudah dua bulan ini mereka berkeliaran di wilayah kita ini. Sudah dihalau, sekarang kembali lagi.” Lanjut Macan Kumbang. Lalu Macan Kumbang menuturkan jika mereka adalah orang-orang sakti. Sejenak aku berpikir, orang sakti dari Banyuwangi datang ke tanah Besemah. Dalam rangka apa? “Saat ini di alam sana sering terjadi pertarungan antara pasukan Banyuwangi dan nenek gunung. Tapi meski sudah kalah dan dihalau mereka datang lagi membawa balatentara lebih dari sebelumnya. Makanya para nenek gunung tidak bisa kau hubungi, Selasih. Bukan tidak menyayangimu. Justru mereka sangat mencintaimu, sehingga mereka tetap menjagamu dengan memagarimu pagar gaib agar mereka bisa fokus dengan pekerjaan berat mereka. Itu cara melindungi di tengah kesibukan mereka, Selasih.”

Aku terperanga. Ini pasti bukan Masalah kecil. Ini masalah besar! Mengapa para nenek gunung tidak melibatkan aku? Bukankah sedikit banyak aku dapat membantu untuk menghalau balatentara itu? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam dadaku. Ada rasa kecil hati, mengapa kakek, Nenek, dan Puyangku tidak memberitahuku hal ini? Apakah karena selama ini aku mengabaikan apa yang telah mereka wariskan padaku sehingga mereka tidak membutuhkan aku lagi? Dadaku terasa sesak. Aku ingin menangis kecewa. Mengapa aku tidak diizinkan masuk ke dimensi itu? Aku berair mata sembari dibimbing Macan Kumbang. “Jangan berprasangka buruk dulu. Ada alasan mengapa dirimu tidak dilibatkan dalam urusan ini. Sebab kalau kamu diajak di dimensi itu maka akan lebih rumit lagi menjaga dirimu,” ujar Macan Kumbang masih bertutur bersayap-sayap. “Mengapa aku harus dijaga? Bukankah aku bisa menjaga diri sendiri? Bukankah aku biasa dilatih untuk mandiri dalam menghadapi hal-hal tak kasat mata,” ujarku lagi.

Macan Kumbang semakin cepat menarik tanganku tanpa penjelasan lebih lanjut. Demi melihat itu aku makin tidak sabar. “Macan Kumbang, apa masih kurang aku ditempa oleh berapa orang nenek gunung. Berapa banyak guru yang sudah mewariskan kemampuan mereka masing-masing padaku. Apa yang kumiliki belum cukup untuk mengahadapi balatentara Banyuwangi itu?” Ujarku agak emosi. “Biarkan aku menyusul kakek Andun. Yang memanggilku itu benar kakek Andun, Macan Kumbang. Aku ingin tahu apa yang beliau kehendaki dariku. Apakah benar Kakek Andun atau bukan aku ingin buktikan. Segala resiko biarlah akan aku hadapi.” Ujarku melepaskan pegangan Macan Kumbang dengan paksa.

Aku segera memanggil angin yang akan membawaku pada panggilan dua kakek itu. Secepat kilat angin menyambarku dan meluncur ke hulu kembali. “Selasih!!” Macan Kumbang nampaknya tidak menduga jika aku akan melakukan hal itu. Dia gunakan kemampuannya mengejarku, berusaha menarik kembali tubuhku yang meluncur. “Selasih jangan lakukan. Jangan ke sana Selasih…Selasih kembali!!” Macan Kumbang berteriak kencang. Tenaga dalam yang dia gunakan sempat mengguncang anginku. Aku hanya ingin tahu siapa yang memanggilku. Aku ingin buktikan apakah benar kakek Andun atau bukan. Namun kekuatan Macan Kumbang menghalangiku tak dapat kuanggap remeh. Beliau serius menghambati langkahku. Hampir beberapa kali tangannya meraih tubuhku. Namun selalu lolos. Macan Kumbang seperti memegang angin. “Selasih..hentikan. Dengarkan aku. Selasih!!” Macan Kumbang berteriak kencang sekali lagi. Tiba-tiba Aku seperti berputar di tempat. Anginku tidak bisa maju, ke atas, maupun ke samping. “Mari Selasih…sedikit lagi. Kakek di sini,” suara kakek Andun memberi semangat padaku untuk menghampirinya. “Kakek….kek….” Aku membatin memanggil kakek Andun. Dalam hati aku heran. Mengapa Kakek Andun tidak menolongku, atau langsung menghampiri aku? Kembali batinku ragu. Sementara Macan Kumbang masih terus berusaha meraih tubuhku. “Kakek dimana…tolong aku kek,” jeritku. “Sini sayang….sini Cung,” lagi-lagi jiwaku serasa terguncang antara percaya dengan tidak. Kakek Andun meski sangat sayang padaku tidak pernah beliau menyapaku dengan sapaan ‘sayang.’ Karena ketika beliau menyebut “Cung” itu ungkapan melebihi kata dan perasaan sayang.

Muncul niatku untuk bertarung dengan dua kakek yang memanggilku itu. Aku akan hajar mereka jika mereka benar menipuku. Perasaanku makin galau. Angin masih berputar membawa tubuhku. Aku seperti kumparan angin berputar kencang di tempat. Sambil terus berputar, kukumpulkan tenaga dalam dan kekuatan matahari. Kali ini aku gunakan untuk menembus dinding yang menghalangi gerakku. “Jangan Selasi, Selasih jangaaaan! Masya Allah..Selasih jangan…jangan lakukan itu.” Macan Kumbang berteriak sembari berusaha mengendalikan dirinya yang kadang bergulung kadang terombang-ambing. Tapi aku sudah terlanjur mengumpulkan kekuatan dan membaca mantra.

Cahaya kuning terkumpul di kedua telapakku. Kuayunkan ke samping lalu kuhantamkan ke hadapanku. “DuaaaRR!!! Creeeesss..cressss.” Benturan keras mirip seperti geledek dan sambaran api mental kemana-mana bahkan berbalik ke arahku dan Macan Kumbang. Aku kaget bukan main. Kuhalangi segera dengan angin badai. Api yang menyala akhirnya kembali seperti menghantam dinding. Ruang yang mengurungku seperti bara terasa sangat panas. Aku melihat Macan Kumbang turut panik melihat aku kehilangan kontrol. “Selasih…kamu tidak apa-apa kan?” Macan Kumbang terengah-engah. Nafasnya pendek-pendek. Yaa Allah, aku melihat Macan Kumbang seperti ikan yang kehabisan oksigen. Sesak nafas. Aku kembali membaca mantra untuk menetralisir hawa panas dalam ruang yang mengurungku. Bola es menggelinding mengitari dinding gaib dan suara berdesis kemana-mana. Persis seperti air terkena api. Tak lama ruang yang mengurungku terasa sejuk kembali.

Aku menjerit sekencang-kencangnya. Tidak ada gunanya kemampuan yang kumiliki. Aku menangis dan terduduk di tanah. Macam Kumbang meraih tubuhku dan mendekapku kencang dengan tangan gemetar. Aku menangis sejadinya. “Selasih…Selasih…” Macan Kumbang sedikit terengah sembari memelukku erat berusaha meredakan tangisku sampai dadanya basah. “Ada apa. Apa yang terjadi padaku, Macan Kumbang?” Ujarku menahan sedih. Dadaku terasa terbakar saking sesaknya. “Katakan Macan Kumbang. Mengapa aku dilarang menemui Kakek Andun yang sejak tadi memanggilku. Mengapa aku tidak boleh masuk ke dimensi leluhurku. Mangapa aku tidak diberitahu dan diajak untuk turut serta mengusir balatentara dari Banyuwangi itu. Ah! Kakek Pekik Nyariiing.” Aku kembali menjerit dengan kekuatan tenaga dalam. Meski suaraku lepas jauh membumbung, namun tak ada tanda-tanda kakek Pekik Nyaring menjawab.

Aku kembali menjerit kecewa. Air mataku serupa mata air mengalir tak henti-henti. Kutumpahkan tangis sepuas-puasnya. Macan Kumbang masih berusaha menyabarkanku. Tangannya sibuk menyeka air mataku. Sembari masih sesegukan, sekilas kutatap wajah Macan Kumbang. Ternyata Macan Kumbang ikut menangis. “Putri Selasih…sabar..istighfar sayang. Istighfar…kami semua sayang padamu, Selasih. Bersabar ya…” Suara Macan Kumbang sedikit tercekat dan bergetar. Punggungku dielus-elusnya pelan. “Tapi apa salah jika aku ingin tahu apa yang terjadi padaku? Mengapa aku dibiarkan terkurung tanpa penjelasan? Aku tidak mau. Keluarkan aku.” Aku kembali menangis. Sejenak Macan Kumbang membiarkanku menangis sepuasnya. Lalu setelah agak lama, dia sibuk pula menenangkanku.

Melihat Macan Kumbang ikut berurai air mata, pelan-pelan aku hentikan tangisku. Aku tidak tega melihat lelaki gagah ini ikut menangis. “Maafkan aku Macan Kumbang. Jangan menangis..” Ujarku. Malah aku balik menyabarkannya. Ini salah satu sifat manusia. Acap kali lupa dengan masalah sendiri tatkala melihat orang lain dianggap menderita. Demikian juga aku. Aku tidak tega melihat Macan Kumbang sedih gara-gara aku. Aku merasa bersalah. “Aku akan menangis bila melihatmu tidak terkontrol seperti tadi Selasih. Aku khawatir kamu celaka. Aku tidak ingin melihatmu sedih lagi Selasih,” ujar Macan Kumbang mengelus kepalaku.

Aku seperti anak kecil kehilangan mainan. Meleprok duduk di tanah, dibujuk oleh kakaknya dengan penuh kasih sayang. Macan kumbang mengangkat wajahku membuat aku mendongak menatapnya. Hanya nenek gunung satu ini saja yang kerap mendampingiku pasca kebakaran itu. Adik nenek Kam ini inilah yang gencar mengingatkan dan berusaha selalu memantauku lansung. Aku menggigit bibir. Terasa kering. Aku kembali melihat Macam Kumbang. Ekspresi sedih ditambah sinar matanya yang merah, aku merasa berdosa. Aku telah menyakiti Macan Kumbang? Aku tidak patuh padanya. Aku jadi menyesal. Baru kusadari ternyata aku egois.

“Dengar Selasih, ketika aku, Kakek, atau nenek mengingatkanmu, itu semata-mata demi kebaikanmu. Kami semua sayang padamu. Kamu adalah anak pilihan yang memang sudah ditakdirkan dekat dengan alam kami. Kamu salah satu perwakilan kami hidup di alam manusia selain nenek Kam-mu. Makanya kau tidak akan bisa lepas dari kehidupan nenek Gunung.” Ujar Macan Kumbang masih sambil menyeka air mataku yang tersisa. Aku mengatur posisi duduk. Sekarang kami duduk berhadapan dengan kaki bersila. “Menjagamu dari berbagai macam hal itu sudah kewajiban kami, Selasih. Karena masing-masing kami mempunyai tanggung jawab padamu. Meski nenek dan kakekmu jarang berinteraksi padamu secara langsung, namun secara batin mereka selalu bersamamu tanpa kau sadari.” Lanjut Macan Kumbang. Aku merasa semakin terharu mendengarkan. Pelan-pelan air mataku kembali terbit. Baru kusadari betapa lembut perasaan makhluk di hadapanku ini. Aku merunduk menyembunyikan air mata. Selama ini aku tidak pernah menyadari dan berpikir lebih jauh tentang mereka. Aku hanya berpikir mereka adalah bangsa nenek gunung berupa manusia harimau yang dekat dan menyayangi aku dengan ikhlas. Menitis pula dalam darahku, dari kerajaan Pekik Nyaring yang kusebut leluhurku. Mereka mengajari aku berbagai macam hal, dan aku membalas kebaikan itu membantu beberapa hal yang mereka tidak bisa campurtangan terlalu banyak. Apalagi jika berkaitan dengan kehidupan manusia. Aku adalah salah satu perantara mereka untuk berinteraksi dengan alam manusia. Selama ini aku hanya menerima kebaikan-kebaikan mereka sekadar kujadikan alat untuk menyelesaikan masalah, dan berinteraksi dengan mereka. Aku juga menyadari tidak semua orang bisa berinteraksi dengan kaum ini. Aku belum pernah berpikir tentang hakikat ini semua. Baru sebatas kebutuhan dan membutuhkan. Aku menyesali diri. Dan kuanggap ini satu kedunguanku karena lambannya aku berpikir.

“Maafkan atas kebodohanku, Macan Kumbang. Aku terlalu egois. Selama ini aku baru mengukur sebatas apa yang telah kuberikan. Sementara apa yang kuterima jarang sekali kuukur.” Aku seperti masuk ke dalam ruang baru yang terbuka luas membuka kesadaran batiniah. Pelan-pelan aku melihat warna biru, kuning dan putih seperti gelombang mengitari seluruh tubuhku. Gelombang energi positif yang paling dasar ke luar dari tubuh manusia ketika batinnya bersih tanpa beban. Aku bersyukur menjadi bagian keluarga besar nenek gunung. Aku menarik nafas lega. Aku seperti lepas dari beban yang maha berat. Kutata kembali energi dan kekuatan dalam tubuhku yang selama ini kuabaikan. Iya…cukup lama. Puluhan purnama. Macan Kumbang tersenyum padaku. Aku melihat air muka teduhnya kembali berseri. Lelaki adik kesayangan nenek Kam ini hanya garang ketika dia berbentuk nenek gunung dengan dengan warna pekat. Pada dasarnya dia adalah lelaki dewasa yang berhati lembut dan penyayang.

“Sekarang, aku akan menjawab semua pertanyaanmu, Selasih. Meski sebelumnya kami sepakat dirimu tidak boleh tahu tentang peristiwa besar di alam sana.” Aku mulai serius mendengarkan penuturan Macam Kumbang. “Selasih, engkau sering disapa dua peri yang berbusana Jawa itu kan? Dia adalah peri dari kerajaan Banyuwangi. Dia berusaha menyapamu dengan kekuatan sihirnya agar kamu patuh dan mengikuti mereka.” Tutur Macan Kumbang. “Mengapa? Supaya apa aku patuh dengannya? Memang ada apa denganku, Macam Kumbang?” Tanyaku makin penasaran. “Selasih…sejak dua bulan lalu mereka datang, menghadap ke Puyang Pekik Nyaring. Mereka meminta dirimu untuk mereka bawa ke Banyuwangi. Konon kamu diminta untuk memimpin kerajaan mereka. Kerajaan itu akan jaya apabila dipimpin oleh manusia damai bernama Putri Selasih. Hasil tapa mereka hanya kamu yang dinobatkan jadi Ratu mereka. Tentu saja Puyang Pekik Nyaring tidak mengizinkan. Bagaimanapun Puyang Pekik Nyaring tetap mengharapkan kamu jadi bagian dari tanah Bersemah ini, bukan menjadi orang seberang.” Ujar Macan Kumbang lagi.

Mendengar penuturan itu jantungku jadi berdegup. Alam dan seisinya kadang memang penuh rahasia. Rahasia yang kerap tidak terbaca oleh keterbatasan kemampuan manusia. “Bacalah dengan iman” Suatu kali kakek Andun pernah berkata. Jadi memang tidak ada yang tidak mungkin. Termasuk pasukan Banyuwangi yang menyatakan akulah ratu, pemimpin mereka. Kita saja tidak paham sepenuhnya mengapa demikian? Selanjutnya, pasukan Banyuwangi tidak terima penolakan Puyang Pekik Nyaring. Mereka merasa dirimu adalah ratu mereka. Jadi mereka ingin merebutmu, untuk dibawa ke Banyuwangi.” Bagaimana mungkin aku harus menjadi ratu di kerajaan bangsa halus tersebut. Aku manusia. Terlahir sebagai manusia. “Lalu apa hubungannya dengan dua peri itu, Macan Kumbang?” Tanyaku.

“Dua peri itu bertugas untuk mengambilmu. Mereka pengawal andalan di kerajaan itu. Mereka sangat sakti. Keduanya memiliki ilmu rawarontek. Persis seperti leak yang pernah kamu takhlukan. Dia tidak bisa mati meski dicacah sekecil apapun. Jika telah menyentuh tanah tubuhnya akan menyatu kembali. Itu baru contoh saja. Masih banyak ilmu-ilmu di luar nalar dan berbeda dengan ilmu yang kita miliki. Apalagi ilmu sihirnya. Masih sakit kena cubit dan dimarah nenek Putri Kuning bukan? Kamu bertemu dengan salah satu peri yang mengubah jadi bapak-bapak di tempat pengantin yang kita depatkan itu? Kamu tidak bisa mengenalinya bukan? Kamu kira dia adalah manusia yang kebetulan memiliki kemampuan sepertimu bukan? ” Aku mengganguk mengiyakan. Benar, sedikit pun aku tidak menyayangka jika yang nyamar bapak-bapak itu adalah peri, makhluk yang cantik. Macan Kumbang menarik nafas seakan masalah yang dihadapinya memang berat. Sementara aku membayangkan pertarungan sengit yang telah dilakukan oleh bangsa nenek gunung melawan pasukan dari Banyuwangi itu.

Jadi apa yang kudengar pertarungan beberapa hari lalu adalah pertempuran sengit pasukan dari Banyuwangi melawan pasukan nenek gunung di kerajaan Pekik Nyaring. Pantas aku tidak bisa menembus untuk sekadar melihat ke medan pertempuran. Rupanya aku sengaja disembunyikan oleh para leluhurku. “Maafkan aku kakek…aku telah berprasangka buruk..”Desisku. Lagi-lagi aku merasa berdosa. Ternyata tanpa kusadari leluhurku sangat memperhatikan aku.

Lama aku tercenung memikirkan apa yang disampaikan Macan Kumbang. Peluh kami mengucur deras meski cuaca sebenarnya sejuk. Ada dorongan emosi yang membuat tubuh kami terasa panas.” Lalu apa yang harus aku lakukan Macan Kumbang? Tadi pagi aku bertempur dengan dua peri itu dekat kuburan. Aku terkecoh dengan suara minta tolong. Untung sebelumnya nenek ceriwis mengingatkan aku jika yang menyamar Bapak-bapak itu salah satu dari mereka.” Ujarku sedikit risau. “Yang harus kamu lakukan adalah waspada. Hindari bertemu dengan dua peri itu. Apalagi sampai bertempur. Dia selalu mengikuti kamu kemana saja. Yang mengaku kakek Andun saja kamu percaya. Kekuatan magis mereka saya akui, luar biasa,” lanjut Macan Kumbang.

Akhirnya aku hanya dapat merenung tidak bisa berpikir apa yang harus aku lakukan. Langit mulai mendung, nampaknya akan turun hujan setelah lebih empat hari kota kecilku terasa panas. Aku dan Macan Kumbang bangkit dari duduk di tanah. “Terimakasih Macan Kumbang, maaf jika aku telah merepotkan,” ujarku. Macan kumbang langsung merangkul bahuku sambil mengajak berjalan ke lembah. Aku seperti akan menghadapi babak baru dalam hidup namun tidak tahu akan seperti apa. Langit yang suram, kabut yang tiba-tiba turun adalah isyarat betapa berat tantangan ke depan. Ah, aku menekan diri saat tak bisa membaca kejadian ke depan pada diri sendiri. Kabut terlalu tebal.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *