Kota Moulay Idriss di Maroko ini memang sangat spesial! (bagian I)

Tujuh tahun yang lalu datang ke kota Moulay Idriss, adalah hal yang paling berkesan bagi kami berdua dalam perjalanan ke Maroko. Setiap kali kami kembali mengenang kota ini, ada rasa haru menjalar. Mungkin bila kami tak mendatangi kota yang pendirinya adalah cucu Nabi Muhammad SAW, Maroko tetap dikenang sebagai kota turis. Namun di sinilah kami menemukan keindahan Maroko. Sederhana, hanya lewat sebuah keluarga yang memanjakan kami, padahal kami hanyalah dua orang asing yang menginap di tempat mereka.

Kota Moulay Idriss, adalah tempat yang menjadi incaran suami saya setiap kali ia berkata jika ke Maroko, kota ini tak boleh luput dari kunjungan. Pada awalnya memang ada rasa heran, karena ini bukan kota turistik, ada bagunan bersejarah yang terkenal memang peninggalan Romawi Volubilis, tapi kotanya sendiri, rasanya kurang eksotik dibanding kota lainnya di Maroko.

Rupanya pilihan suami sangat, karena di kota inilah kami mendapatkan kenangan indah yang melekat di kalbu menyentuh sangat. Di sini kami menginap di sebuah keluarga yang meyewakan kamar-kamarnya kepada tamu. Menginap di sini serasa menjadi bagian dari kehidupan mereka. Tak ada istilah mereka penyewa dan kami membayar kamar. Sangat kekeluargaan. Meskipun ibu dan bapak pemilik rumah hanya bisa berbicara arab, namun komunikasi dengan hati memang lebih mengena dan menyentuh.

Saat kami di sana kedua putri mereka sedang berlibur di rumah orang tuanya, keduanya terbiasa berbicara bahasa prancis. Hingga bila komunikasi tersumbat antara kami dan ibu bapak Hannaoui, salah satu dari putri mereka akan sigap menterjemahkannya. Saya sangat menganjurkan bila ada yang ingin datang ke Moulay Idriss, sebaiknya memang tinggal dalam keluarga, selain keakraban juga makanan yang mereka hidangkan, sangat lezat! Yang terakhir ini kami merasa beruntung, karena sejak berada di Maroko, makanan khas setempat rasanya kurang menendang bagi lidah kami yang terbiasa masak masakan Maroko.

Hari pertama kami berada di sini, kami mencoba berjalan santai mengelilingi kota yang dulunya dianggap sakral ini. Begitu indah dilihat dari ketinggian. Sebuah kota dengan dominasi warna hijau atapnya. Sebenarnya kami lebih suka menikmati kota ini hanya berdua, namun seorang pria yang tadi menunjukan rumah keluarga Hannaoui, tak bisa melepaskan kami. Setelah puas berjalan melihat-lihat bangunan kota, suami saya ingin mendatangi masjid Moulay Idriss, sekalian shalat katanya. Apalagi masjid ini sudah ia bicarakan sebelum kami mendatangi Maroko. Ia juga ingin berjiarah ke makam cucu Nabi.

Namun sayangnya¬† halangan bagi suami melintanginya. Ia yang sangat ingin shalat di masjid Moulay Idriss mendapat tolakan dari para penjaga. Kami dengan santai pada awalnya berjalan menuju masjid, ketika akan melewati palang, tubuh suami langsung dihalangai. Mereka menolak dengan tegas, sambil berkata “hanya muslim yang bisa masuk”. Saya dan suami sempat terkejut, namun kami sadar, suami bule tentu saja dicurigai sebagai turis, dan dikira tak mengerti jika masjid ini hanya untuk kaum muslimin.

David suami saya berkata, saya islam, kami adalah pasangan muslim. Tapi penjaga menolak, tak percaya. Akhirnya saya berkata, saya ini orang indonesia, suami saya mualaf, kami menikah dalam syarat islam. Tetap saja si penjaga bersikeras, yang ada saya  boleh masuk tapi suami menunggu di luar. Bahkan surat nikah kami di Indonesiapun tak diakuinya.

Sedih sekali hati suami, tapi tiba-tiba saja, seorang pria yang sempat berselisih dengan kami saat kami tiba di kota ini, datang berbicara dengan para penjaga. Entah apa yang dia ucapkan, karena komunikasi dalam bahasa mereka. Kami sempat curiga, karena pria ini tadi sempat sangat kasar pada kami saat meminta uang karena merasa menemani kami berjalan-jalan padahal kami tak memintanya.

Rupanya, agar yakin suamiku benar-benar memeluk agama islam, dimintainya ia mengucapkan kembali syahadat. Dan kalimat syahadat dikumandangkan suamiku. Anehnya, akupun merasa terbawa getar. Teringat saat pertama kali ia mengucapkan kalimat ini yang menyatakan dirinya mempercayai Allah dan menyerahkan kehidupannya bagi Allah dan Muhammad Nabinya. Matakupun ikut berkaca.

Rupanya tidak hanya saya yang merasakan, para penjaga mengangkat tangan mereka mengucapkan syukur, Alhamdulillah. Memeluk suamiku, membuka penghalang masjid, mempersilahkan kami memasuki rumah Allah di Moulay Idriss ini. Tempat di mana cucu dari Nabi Muhammad dimakamkan. Cucu Nabi yang membuat bangsa Berber menjadi pemeluk islam.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *