Ibu-ibu Perantauan di LN Giat Buat Masker Kain

Saya Alfi, ingin bercerita mengenai masker yang saya buat bersama anak perempuan saya. Masker sudah termasuk menjadi barang langka. Anak bungsu saya rupanya tertarik untuk membuat masker kain dengan mengikuti tutorial. Selain berguna juga bisa menjadi pengisi waktu bermanfaat bagi anak saya selama masa lockdown ini.

Setelah beberapa hari dingin dan mendung, dan bahkan bersalju di beberapa kota tetangga, hari ini cerah dan hangat. Terlihat lebih banyak orang di luar. Ada yang sekedar membeli roti baguette di toko roti seberang rumah, ada yang menjalan-jalankan anjingnya, dan banyak di antaranya menuju supermarket dengan keranjang belanjanya.

Kota Cannes hanya sekitar 2km dari tempat saya tinggal

Hari Sabtu tidak ada sekolah. Untuk mengisi waktunya, Butet mendesak saya untuk membuat masker bersama. Memang sudah beberapa hari itu dia melihat saya tertarik membuat masker sendiri.

Seiring makin banyaknya pasien covid19, kesulitan ketersediaan alat pelindung diri (APD) sudah terasa juga di Prancis. Masker sudah termasuk menjadi barang langka. Padahal sejak awal Maret, penjualan masker sudah tidak diperbolehkan untuk umum. Semua masker diakuisisi dan pendistribusiannya dilakukan oleh negara, prioritas pada tenaga medis di rumah sakit tapi tetap saja tidak mencukupi kebutuhan yang makin meningkat.

Masker buatan Tari Van Collem

Karena itulah beberapa rumah sakit meminta bantuan pada masyarakat untuk membuat masker homemade ini. Dari masyarakat sendiri, banyak yang berinisiatif membuatkan masker bagi pekerja non medis yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari seperti pegawai toko, petugas pos, dan petugas kebersihan yang ada di sekitar mereka.

Beberapa hari sebelumnya saya sudah sempat mencetak pola yang direkomendasikan oleh teman-teman Indonesia, yang merupakan pola rujukan dari rumah sakit Grenoble. Namun saat Jum’at lalu Afnor (semacam SNI-nya Prancis) mengeluarkan standar pembuatan masker, saya melihat proses menjahitnya sepertinya lebih mudah. Maklum, kami tidak memiliki mesin jahit. Dan tujuan utamanya memang bukan maskernya sendiri, karena saya dan Butet sedapat mungkin tidak akan keluar rumah selama lockdown. Tujuan saya lebih ke ingin memanfaatkan waktu untuk mengajari Butet menjahit lebih lanjut. Kami pun sepakat untuk memilih salah satu dari dua model yang ditawarkan Afnor.

Masker hasil buatan kami berdua

Memanfaatkan kemeja batik tua dengan hanya dua lapis kain saja untuk mempermudah penjahitan, menggunakan sisa persediaan elastik lebar dibagi dua dan kemampuan menjahit apa adanya, jadilah masker yang kami kerjakan berdua membuat Butet bersedia difoto dan diunggah di internet.

Di media sosial sudah banyak saya lihat teman-teman perantauan yang turut membuat masker kain. Bahkan ada yang membuat tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk dibagikan ke sekitarnya, atau bahkan disumbangkan ke rumah sakit yang membutuhkan. Bravo ibu-ibu perantauan!

Ibu-ibu perantauan membuat masker kain (Sasha, Eliana, Fenty)

Saya dan keluarga tentu saja berharap semoga pendemi segera berlalu dan semuanya kembali membaik. Bagi yang ingin membuat masker bisa mengikuti link di bawah ini:

Laman Afnor tentang petunjuk pembuatan masker : https://normalisation.afnor.org/actualites/covid-19-un-document-de-reference-pour-fabriquer-des-masques-barrieres/

Tutorial dan pola pembuatan masker menurut referensi CHU Grenoble : https://cecilediy.com/index.php/2020/03/19/patron-gratuit-masque-de-soins/

Pola masker rujukan yang digunakan CHU Grenoble : https://www.craftpassion.com/face-mask-sewing-pattern/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *