HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT II (37A)

Karya RD. Kedum

Kecepatan angin melebihi kecepatan semula. Aku makin waspada meski belum berhadapan langsung dengan bala tentara jin milik tiga dukun. Dari jauh aku langsung menakar-bakar kekuatan mereka. Jumlah mereka cukup banyak. Dan merekapun memiliki kekuatan berlapis.

Dalam hati aku mulai marah. Ternyata tiga dukun itu benar-benar serius menjarah di tanah Sumatera ini. Mereka sudah pamer kekuatan padaku. Kira-kira jarak beberapa mil lagi aku langsung melindungi kakek Adil dan nenek gunung. Aku turun dari tunggangan memilih angin saja yang membawaku. Kakek Adil dan kawan-kawannya kupagari dalam bola gaib yang telah kumatrai. Semoga para jin itu tidak bisa menembusnya. Kubisikkan pada kakek Adil untuk duduk timpu dan berzikir. Kulihat mereka bergerak dan mulai berzikir di dalam bola mantraku. Aku berharap zikir mereka akan menjadi pagar juga melindungi mereka dari niat para jahat jin yang akan aku hadapi.

Oh mereka dipimpin oleh leak. Makhluk asral yang paling ganas di antara mereka sudah berdiri di tengah dengan kepala saja dan perut terburai. Matanya merah menyala seperti api. Taringnya melebihi dagu. Rambutnya keras seperti ijuk. Rata-rata mereka membawa senjata. Kalau pun kelihatan tangan kosong tapi mereka punya senjata gaib di tangan, mata, dan perut mereka. Mereka seperti pasukan binatang buas yang kelaparan. Banyak juga di antara mereka pemakan tulang manusia, itu dapat kulihat dari kalung-kalung tengkorak manusia di leher mereka. Jahat sekali! Keinginan untuk memusnakan mereka semakin tinggi. Aku sudah membaca beberapa doa dan mantra. Raksasa di kakiku sudah berbisik menyatakan dirinya siap melawan para jin itu. Aku meminta kakek Adil untuk mensyahadatkan raksasa di kakiku terlebih dahulu. Sang raksasa tidak keberatan. Kudengar kakek berulang kali menuntun dan meluruskan syahadat sang Raksasa. Akhirnya lolos juga. Sang raksasa sekarang sudah memeluk agama.

Tubuh dan wajahnya seketika berubah menjadi bersih. Kulitnya semula kasar dan kotor berubah menjadi putih. Wajahnya tidak menyeramkan lagi. Kulemparkan cawat agar dia tutup auratnya. Ternyata suara kakek Andun mengingatkan agar raksasa itu diberikan celana setengah tiang. Akhirnya aku mengarahkan tangan lagi ke atas memunculkan celana yang dimaksud sesuai saran kakek Andun. Lalu kuberikan dengan raksasa. Sang Raksasa segera memakainya. Sekarang makhluk besar ini terlihat semakin gagah. Selanjutnya dia kembali menyusup ke betisku. Kuingatkan agar jangan ke luar sebelum kuminta. Dia patuh dan duduk semedi menikmati perubahan dalam dirinya.

“Paman Raksasa, ikuti zikir kakek Adil” bisikku. Sang raksasa mematuhi perintah yang kuinginkan. “Baik anakku sayang. Paman akan patuhi petunjukmu.” Ujarnya. Ada kekuatan lain ketika aku mendengar nada suaranya yang lembut dan menyebut “anakku sayang”. Cahaya putih membalur tubuhnya. Energi positif itu pertanda jiwanya bersih. Paman raksasa sungguh-sungguh ingin berubah. Aku bahagia dibuatnya. “Kita sudah dekat!” Teriakku. Kakek Adil dan rombongan makin khusuk berzikir. Aku melihat cahaya berlampis-lapis dari tubuh mereka. Aku yakin cahaya zikir itu mampu melindungi mereka jika pagar gaibku bisa ditembus oleh tiga dukun sakti dari seberang itu.

Angin sudah mulai memperlembut gerakkannya. Aura pasukan jin sudah terasa sangat panas. Aku mulai konsentrasi mawas diri agar segera tahu kalau ada serangan mendadak. Sebab aku tahu betul, bangsa jin ini selain memiliki kemampuan sihir juga sulit dikendalikan kalau dia sudah ngamuk. Kecuali jika mereka kalah dalam bertarung. Maka mereka menyerah. Itu pun tidak bisa seratus persen dipercaya. Masih perlu diuji kembali kesungguhannya. Demikian juga pesan kakek Njajau padaku. Berarti aku harus menaklukan mereka terlebih dahulu. “Jika akan membahayakanmu, langsung bunuh saja, Cucuku” Suara kakek Njajau. Aku mengiyakan. Aku kembali serius menatap pasukan jin itu. Aku bersyukur sekali ternyata aku selalu diawasi oleh kakek-kakekku. Semangatku makin membara. Langit nampak cerah. Bintang berkedip-kedip seakan ikut mengawasi aku malam ini. Aku mulai menghimpun kekuatan di tangan. Senjata sudah kusiapkan. Aku akan membuyarkan pasukan jin ini agar kekuatannya terpecah.

Belum terlalu dekat, Leak sudah mengeluarkan kekuatannya. Angin sudah mulai bekerjasama denganku. Rupanya Leak berusaha menakhlukkan anginku agar takhluk padanya. Aku kembali membaca mantra angin warisan leluhurku. Badai sudah mulai datang dengan gulungannya yang maha dasyat. Kuperintahkan menggulung pasukan jin di hadapanku. Angin dasyat mulai bekerja. Pasukan jin mulai melakukan perlawanan. Mereka ada yang tergulung dan terbanting, ada juga yang melawan dengan kekuatan senjata-senjata mereka. Leak mengeluarkan senjata apinya ke arahku. Sepertinya bangsa ini enggan untuk bermain-main denganku terlebih dahulu. Nampaknya Leak memang berniat hendak menewaskanku. Aku menolaknya dengan kekuatan angin dan hawa dingin untuk menetralisir hawa panas dari aura jahatnya. Ternyata senjataku tidak telalu berefeks pada Leak ini. Dia semakin mengamuk melihat pasukannya cerai berai dihantam badai.

“Anak kecil, sebenarnya aku malas berurusan denganmu. Gurumulah yang harus kemari. Menghina betul! Orok disuruh melawan Raja” Ujarnya sembari menyemburkan api dari matanya. Aku masih bertahan menghindar. Melihat ususnya yang tergantung, hati, dan jantungnya membuatku jijik. Namun setelah kuawasi, ternyata organ tubunya juga senjata andalannya. Aku segera meluncur ke bawah usus tergantung itu. Dengan cepat kupapas dengan pedang dari tangan kiriku. Putus!!! Lalu secepat kilat kucacah agar lebur. Aku terperanga. Ternyata tidak juga berpengaruh. Jantung, hati, ususnya tumbuh kembali. Oh! Ilmu apa yang dimiliki makhluk satu ini? Aku berpikir sejenak untuk menakhlukannya. Sementara melihat aku heran si Leak tertawa dengan mulut berdarah. Dari jauh pengawalnya meleparkan tubuh seorang bayi yang masih merah. Leak langsung membuka mulut dan mengunyahnya. “Tuhan, bayi manusiakah?” Oh! Ternyata orok, bayi manusia yang belum terlalu utuh bentuknya dikunyahnya begitu saja. Naluriku mengatakan itu bayi-bayi aborsi yang dibuang oleh manusia sembarangan. Menjijikan sekali! Lalu beberapa tulang dikunyanya juga dengan lahap. Dari aromanya itu tulang jenazah. Tulang orang mati! Rupanya apa yang dimakannya memberi energi baru untuknya.

Akhirnya aku tidak mau berlama-lama membuang waktu untuk berpikir. Kuputar tubuhku, kupusatkan bebagai macam kekuatan termasuk menghimpun hawa dingin untuk melawan semburan api dari matanya. Makhluk ini harus mati. Aku mulai bergerak ke sana ke mari mengeluarkan kemampuan yang kumiliki. Aku mulai mengeluarkan senjata cambuk pemberian kakek Pekik Nyaring. Baru satu gerakan, cambuk sudah mengeluarkan kilatan api seperti petir. Apalagi kalau ditambah dengan energi yang kumiliki pikirku. “Maaf paman Leak, aura membunuhmu jahat sekali. Maafkan jika aku terpaksa memusnakanmu” Ujarku sembari mempersiapkan penyerangan. Leak tertawa lepas sembari menyerang dengan kekuatan ilmu batinnya. Aku tahu nada tertawanya menyedot energi lawan. Aku segera melawannya dengan cahaya biru di telapak tanganku. Benturan terjadi. Aku melihat warna hitam mengepul akibatnya benturan itu. Energi Leak mampu dimusnakan oleh cahaya biruku. Namun tak urung tanganku terasa kesemutan akibat benturan keras itu. Aku mulai memainkan cambukku. Kuarahkan setengahnya ke wajah Leak. Dia menghindar. Gerakannya gesit sekali. Sementara pasukannya yang digulung angin badaiku masih tetap kewalahan memertahakan diri. Untuk sesaat aku merasa aman mereka tidak bisa membantu Leak menyerangku. Serangan makin kutingkatkan. Cambukku seperti cahaya perisai ketika kulakukan gerakan berputar. Sehingga tidak sedikitpun cela untuk lawan menyentuh tubuhku. Sementara kilatan apinya siap melukai lawan. Hanya percikannya saja bisa menewaskan apa lagi jika kena sambaran apinya.

Aku bersyukur di beri senjata maha dasyat ini. Sambil terus mendekati Leak kekuatan sejata tetap kutingkatkan. Aku melihat Leak sedikit mundur. Aku semakin mendesaknya agar dia tidak punya kesempatan untuk melakukan perlawanan dengan ilmu gaibnya yang sulit diterka. Oh, sekarang aku melihat Leak berubah menjadi beberapa. Mereka berputar mengelilingiku dengan cepat sehingga sulit bagiku menghitung jumlahnya. Melihat itu, cambuk kuputar ke atas. Kebutan anginnya mampu membuyarkan leak-leak jelmaan. Percikan dan kilatan api cambukku mengenai salah satu mereka. Dia menjerit lalu lenyap. Bau hangus segera menyebar. “Huuuggghhrrr” Leak menggeram melihat bayangannya hangus terbakar. Lidahnya berubah menjadi api yang menjilat ke sana ke mari. Angin yang kudorong untuk menolak sambarannya tak berfungsi apa-apa. Kekuatan yang dimilikinya luar biasa. Berkali-kali jilatan apinya kudorong namun malah membesar dan melebar. Boro-boro berbalik ke wajahnya, malah tambah memecahkan panasnya.

Ternyata Leak ini selain memiliki lidah api, juga memiliki kemampuan menjadikan ususnya yang terburai untuk mengikat tubuh lawan. Usus itu bisa menjerat lawan lalu memakanannya. Berkali-kali pula serangan usus dan lidah apinya bekerja bersamaan menyerangku. Sambil masih menghindar ke sana kemari aku mencoba alih strategi. Cambukku masih kumainkan untuk melawan lidah apinya. Aku harus kombinasikan kekuatan lain untuk melawan kekuatan Leak jahat ini. Sekarang rambutnya ikut menyerang. Rambutnya yang mirip ijuk itu seperti anak panah menusuk cepat namun tidak lepas dari busurny. Luar biasa! “Hiaaaaat!! Up! Up!” Aku keluarkan kekuatan angin dan bola dingin untuk menolak sekaligus menghancurkan kekuatan Leak. Sementara cambukku kuubah menjadi ujung tali yang hidup, lilitannya ternyata mampu mengikat rambut ijuknya. Aku tidak membuang kesempatan. Melihat rambutnya terikat ujung cambukku, kutarik sekuat-kuatnya. Semburan apinya kuhantam dengan dorongan gelombang dingin. Akibatnya lidah apinya seketika beku meski tidak lama. “Ciiiiiiaaaat!!” Aku mengahantam kepala Leak yang terikat diujung cambukku. Dan “Brak!!” rambutnya tercabut dari kulit kepala. Leak menjerit sesaat. Rambutnya langsung kuremuk dengan kekuatan api pula. Seketika bau hangus memenuhi udara malam ini. Remukan rambut ijuk Leak seperti serbuk api terbang kemana-mana. Leak tampak lucu dengan tampilan barunya. Botak dan berdarah!

“Sialan! Kurang ajar kau anak kecil. Akan kumakan dirimu! ” Ancamnya. Meski rambutnya telah tercabut, sepertinya tidak mengurangi kekuatan yang dimilikinya. Justru dia semakin terlihat liar dan ganas. Bahkan beberapa kali ususnya nyaris mencederaiku. Api di matanya makin berkilat-kilat. Konsentrasinya sedikit buyar kala mendengar anak buahnya menjerit ketika mereka di aduk-aduk oleh angin badaiku. Mantra anginku kutingkatkan, lalu kutangkap semua jin yang bergulung itu, kusimpan mereka di ujung jariku. Sementara energi mereka kusedot hingga habis. Demi melihat itu Leak semakin marah. Serangannya sudah tidak terkontrol lagi. Ngamuk ke sana ke mari. Suara jeritan mengaum seperti ratusan harimau marah memenuhi alam malam ini. Jika saja ini didengar oleh manusia, pasti mereka menyangka kiamat telah tiba. “Bagaimana paman Leak? Belum akan menyerah” ujarku. Sebenarnya dalam keadaan dia kacau seperti ini aku bisa saja menghantamnya dan menewaskannya. Tapi aku sengaja menghambat sejenak. Siapa tahu bisa diajak kompromi. Aku melihat dia semakin lemah ketika anak buahnya kutangkap. Energinya ikut tersedot pula olehku. Tiba-tiba dengan cepat dia melilitkan ususnya ke seluruh kepalanya, lalu dengan satu jeritan keras kepalanya diremuknya tiba-tiba. Aku tak sempat menghalanginya. Leak bunuh diri, tewas seketika.

Tiba-tiba langit yang gelap seperti mengeluarkan bara. Sejenak bumi terang benderang dan berguncang. Aku melihat bola api terbang ke sana ke mari lalu lenyap di ketinggian. Kekuatan Leak lenyap melarikan diri entah kemana. Aku menarik nafas lega. Tak henti aku mengucapkan kata syukur. Aku takjub dengan kemampuan yang kumiliki. Dalam hati aku berpikir, bagaimana jika Bapak dan Ibuku tahu jika gadis kecilnya tengah berhadapan dengan makhluk asral entah di hutan mana. Tengah malam buta lagi. Bumi terlihat kembali hening. Beberapa kayu besar tumbang gara-gara dorongan angin badaiku dan hantaman Leak. Kakek Adil mengusap wajahnya sembari berucap Alhamdulilah. Mereka masih berada dalam lingkaran gaibku. Aku duduk sejenak. Memulihkan semua kekuatan dalam tubuhku yang sempat terkuras. Kuatur penafasan serileks mungkin. Kuhimpun kembali tenagaku. Aku berusaha menerapi diriku sendiri. Dan uf!! Aku baru sadar kalau punggungku sakit. Bahkan bajuku terlihat koyak. Aku langsung menempelkan tangan mencoba menerapi sendiri. Pelan-pelan aku melihat hawa hitam seperti asap keluar dari pori-poriku. Hawa racun keluar dan menyatu dengan udara. Kuhimpun, lalu kugenggam selanjutnya kusedot dengan telapak tanganku. Kumusnakan. Aku segera bangkit, dan kembali memanggil angin.

Kali ini kembali aku meminta angin untuk membawa kami secepatnya ke perbatasan. Aku berdoa semoga tidak ada lagi hambatan di jalan. Panggar gaib yang melingkar kakek Adil dan teman-temannya kulepas terlebih dahulu. Kami pun meluncur secepatnya. Dalam waktu singkat, kami sudah sampai. Aku merasakan aura yang berbeda, segera kutajamkan instingku. Aku membuat garis perbatasan lalu memagarinya Terlebih dahulu. Selanjutnya kubagi diriku menjadi enam sosok, lalu kuperintahkan menyebar hingga ujung perbatasan untuk menghimpun nenek gunung-nenek gunung masing-masing lalu memagarinya agar para nenek gunung tidak terpengaruh mantra tiga dukun yang memabukkan itu. Enam sosok diriku kubekali dengan senjata masing-masing. Mereka sudah menyebar dan bekerja cepat sekali. Para nenek gunung mereka kumpulkan dengan cepat. Lalu dengan sigap mereka kipagar dengan pagar gaib. “Maafkan nenek gunung, saya terpaksa melakukan ini untuk melindungi kalian dari gendam dukun seberang itu. Berdiamlah di dalam sini untuk sementara. Aku akan menjaga kalian.” ujar salah satu aku di hadapan puluhan nenek gunung yang sempat dihimpunnya. Aku yang lain pun melakukan hal yang sama. Mereka masing-masing telah menangkapi nenek gunung lalu mengurungnya.

Beberapa nenek gunung ada yang memberontak. Aku segera membantu menotoknya. “Diam! Aku sedang bekerja untuk menolong kalian!” Bentakku. “Kalian tidak ingin ditangkapi oleh orang seberang itu bukan? Mereka adalah para dukun yang mampu menundukkan kalian tanpa kalian sadari. Dan malam ini mereka kembali datang untuk menangkap kalian. Kalau kalian mampu melawannya mengapa sampai lima saudara kalian berhasil mereka bawa menyeberang sampai ke pulau Jawa? Entah bagaimana nasib saudara kita di sana. Tidak ada yang tahu!” Ujarku dengan nada tinggi. Akhirnya semua diam dan menunduk. Ternyata banyak juga mereka ini yang liar tidak patuh dengan aturan rimba. Entah apa sebabnya. Boleh jadi mereka ini ada yang telah terusir dari kelompoknya karena melakukan kesalahan dan sebagainya. Sehingga kelakuan mereka kasar dan buas sulit dikendalikan. Aku lega setelah melihat enam kelompok nenek gunung dari tempat-tempat terpisah sepanjang perbatasan yang dijaga oleh pecahan tubuhku. Masing-masing sudah dipagari agar mereka terhindar dari pengaruh negatif dukun yang hendak menakhlukan mereka. Melihat semuanya aman-aman saja aku kembali fokus pada perbatasan.

Waktu sudah mendekati tengah malam. Aku sudah melihat gerak-gerik para dukun. Dari jauh kulihat rombongan sudah mulai bergerak menuju perbatasan. Kendaraan mereka berhenti di pinggir hutan belantara, selanjutnya mereka berjalan masuk hutan dengan berbagai perlengkapan. Tak kurang lima belas orang rombongan itu seperti semut beriringn masuk hutan. Aku melihat yang berjalan paling depan seorang lelaki berpakian hitam seperti pendekar. Sepertinya dialah yang memimpin rombongan. Penciumannya sangat tajam. Dia mengetahui jejak para nenek gunung. Dia mirip kompas yang mengarahkan radar titik-titik nenek gunung berada. Melihat gelagat itu, ketika rombongan sudah masuk hutan aku mendekati kendaraan-kendaraan mereka. Benar, di antara kendaraan ini ada yang berbau nenek gunung. Nampaknya kendaraan-kendaraan ini dijadikan untuk mengangkut saudara-saudaraku nenek gunung.

Aku segera melakukan aksi. Kuraibkan kendaraan ini dari pandangan. Lalu kuminta raksasa dalam betisku ke luar untuk memindahkan kendaraan ini satu-satu. Akhirnya semua kendaraan dipindahkan paman raksasa ke dalam rimba, tempat yang sulit dan tidak mungkin kendaraan itu bisa ke luar hutan. Aku tersenyum sendiri membayangkan rombongan itu celingukan mencari kendaraan mereka yang raib. Selanjutnya kuminta pohon untuk tumbuh serentak memenuhi bagian tanah yang lapang ini dengan pohon-pohon besar. Pohon-pohon itu bergerak membentuk formasi acak sehingga tanah lapang yang semula terang benderang berubah menjadi belantara dan gelap. Aku berterimakasih pada pohon-pohon dan rumput yang membantuku. Jalan setapak yang biasa dilalui para pemburu itu pun mereka tutup dengan tumbuhan-tumbuhan baru sehingga tidak terlihat lagi jika jalan tikus ini menjadi jalan manusia-manusia seraka itu. Setelah semuanya beres aku kembali ke perbatasan menunggu pasukan pemburu dan dukun. Mereka akan melakukan ritual terlebih dahulu di tempat yang mereka anggap paling ramai, tempat para nenek gunung melintas.

Aku buat aroma palsu nenek gunung untuk mengelabui penciuman para dukun agar mereka tidak sampai persis ke perbatasan yang sudah kupagar. Biarlah perasaan mereka saja seolah sudah sampai di lokasi sasaran. Secara kasat mata, manusia akan melihat ada lima belas sosok orang yang berjalan beriringan. Tapi jika dilihat dari mata batin, pengawal para dukun itu banyak sekali dari bangsa jin. Untuk membuang sepi kuajak paman raksasa yang bersemayam di betisku ngobrol perihal bangsanya. “Paman Raksasa, lihatlah pasukan yang datang ada dari bangsamu” Ujarku. “Iya, dari berbagi macam jenis. Kebanyakan mereka jin dari laut” Jawabnya “Apa bedanya Jin itu dengan paman? Ada bedanya ya jin laut dengan jin gunung atau jin hutan?” Tanyaku sambil tersenyum. “Yang beda hanya tempat tinggal saja sih. Tapi jin laut ini lebih sombong dari jin dari gunung. Mereka menganggap diri merekalah yang paling berkuasa. Di antara mereka ada juga jin dari seberang. itu ada jin dari India. Ilmunya tinggi .” Kata Paman Raksasa lagi. Aku tersenyum mendengar pernyataan paman Raksasa. Meski kata paman Raksasa mereka berilmu tinggi, tetap saja bisa kukelabui dengan aroma nenek gunung. Mereka juga tidak tahu kalau kendaraan mereka sudah kami pindahkan ke dalam rimba.

Aku duduk santai diujung ranting pohon yang paling tinggi sembari menatap gerak-gerik pasukan lawan. Kakek Adil dan rombongannya ada di perbatasan tak jauh dengan pagar gaibku. Wajah mereka nampak tegang. Meski berkali-kali aku katakan santai saja. Namun karena mereka pernah berhadapan langsung dengan para pemburu ini, secara emosional mereka masih sangat marah. Aku telah mencoba memberikan kekuatan pada kakek Adil dan nenek gunung lainnya agar mereka tidak terpengaruh dengan gendam para dukun. Aku merasakan detak jantung mereka berpacu lebih cepat. Kucoba menatralisir semuanya agar energi mereka tidak hilang sia-sia. Hutan belantara ini seolah-olah turut khusuk mendengarkan obrolan kami berdua. Mereka akan menjadi saksi peristiwa malam ini.

Dari atas pohon aku memerhatikan gerak-gerak mereka. Berkali-kali aku pindah posisi untuk memastikan kekutan mereka. Langkah mereka sangat gesit. Mereka semakin dekat. Berjalan tengah malam, melintas di hutan belantara sepertinya tidak menghambat langkah mereka. Mereka seperti memiliki mata batin lebih tajam dari mata biasa. Rata-rata mereka tidak ada yang kesulitan berjalan meski gelap. Lampu sorot yang mereka bawa bergoyang-goyang. Bayangan mereka seperti ikut hidup bergerak-gerak di daun dan ranting. Suara burung hantu dan satwa lainnya yang merasa terusik dengan kehadiran rombongan ini sedikit gelisah dan ribut. Aku mencoba menenangkan mereka.

Tak lama berselang hutan kembali sunyi. Hanya suara rombongan itu saja yang setengah berbisik. Melihat gerak-gerik mereka, nampak sekali jika mereka adalah orang-orang profesional dan sudah hafal hutan ini. Aku mencoba mendeteksi senjata mereka. Hmmm…rata-rata mereka dibekali dengan sejata api. Ada yang laras pendek, ada juga yang berlaras panjang. Bahkan ada yang membawa senjata rakitan yang biasa disebut ‘kecepek’. Senjata api yang paling jahat karena sekali tembakan maka beberapa puluru yang mengenai sasaran akan menyebar. Bayangkan saja kalau mengenai manusia atau nenek gunung. Taruhannya, mati berderai. Tubuh akan hancur lebur dibuatnya. Aku mengubah perasaan mereka seakan sudah sampai di perbatasan tujuan.

Pasukan itu memang sudah dekat dan siap-siap hendak berhenti. Aku sudah mulai berdiri. Mataku tajam mengawasi gerak-gerik mereka. Ada tandu, ada jaring, ada sajen untuk ritual. Sang dukun membentangkan kain hitam dibantu oleh beberapa orang. Formasi mereka segi tiga. Duduk paling depan dukun yang mempunyai ketajaman mencium aroma nenek gunung. Aku tingkatkan aroma nenek gunung di sekitar mereka. Dalam hati aku senyum-senyum sendiri melihat kebodohan mereka. Ternyata tiga dukun ini tidak bisa membedakan mana aroma nenek gunung yang asli, mana aroma nenek gunung buatan. Para jin pengikut mereka juga nampak bodoh, manut saja. Mereka sebagian nampak menitikan air liur kala melihat kembang tujuh rupa yang di bawa si dukun. Sementara dukun-dukun mempersiapkan ritualnya, aku terus mengawasi senjata api para pemburu ini. Ternyata mereka juga bawa panah. Panah bius! Peluru mereka juga selain timah panas ada peluru bius. Aku berpikir bagaimana caranya agar alat itu tidak berfungsi. Aku berpindah posisi. Kalau tadi aku berada di hadapan mereka sekarang aku pindah posisi di belakang mereka. Aku berharap mereka tidak mengetahui gerakanku. Kulakukan gerakan sehalus angin. Meski jin sekalipun tidak menyadari aku bekerja. Kumantrai halimun untuk menggaibkan semuanya. Aku tidak paham dengan pistol ini. Bagaimana kalau aku salah pegang tiba-tiba meledak? Bisa gawat misiku.

Akhirnya aku segera ambil tindakan. Alat ini akan aku musnakan sebelum meledak. Satu-satu moncong senjata itu aku bengkokan. Bahkan lubang pelurunya aku kempetkan agar tidak berfungsi. Begitu juga dengan panahnya. Ujung panah yang berbius kupatahkan. Tangkai busurnya, kubuat lembek. Sudah menggeledah senjata api dan panah mereka akhirnya aku kembali pindah ke hadapan mereka. Para jin pengikut tiga dukun sudah duduk manis. Sesekali kulihat lidah mereka ke luar. Mereka lapar! Aku segera membuat ruang di belakang mereka. Para jin kutarik diam-diam. Kusuguhkan makanan sesui dengan keinginan mereka. Mereka seperti angin tersedot ke dalam ruanganku dan berpesta pora sekenyang-kenyangnya. Berkali-kali kuikat ruangan itu dengan pagar gaibku. Mereka tidak menyadari kalau kukurung dalam ruangan. Bahkan dukun -dukun itu tidak tahu kalau jinnya sudah kutaklukan. Yang mengelilingi mereka hanyalah bayangan para jin yang semula duduk rapi mengelilingi.

Dukun yang menjadi pemimpin pasukan ini telah membaca mantra-mantra. Entah mantra apa yang disebutnya sungguh aku tidak paham. Aku membaca arah angin mantranya. Oh rupanya mereka tengah memanggil leluhur-leluhur mereka yang rata-rata telah sepuh untuk minta izin melaksanakan ilmu warisannya itu. Para leluhur mereka berdatangan. Semua menatapku. Aku memberi hormat pada mereka. Kusapa mereka dengan salam. Tiga dukun belum juga mengetahui keberadaanku. Aku masih mempertahankan persembunyian gaibku. Hanya leluhur-leluhur mereka yang memiliki ilmu tinggi saja mengetahui sosok halusku. Beliau membalas salamku dengan mengangguk dan sedikit menunduk. Aku berharap beliau berkenan membatalkan ritual muridnya. Tapi percuma saja, sesajen yang dihidangkan tidak bisa mereka tolak. Mereka berkata-kata, namun aku tidak paham maknanya.

“Dia mengucapkan salam padamu. Dan salut padamu, Selasih. Ilmu yang kau miliki sangat tinggi dan sempurna. Dirinya saja nyaris tidak melihat wujudmu saking lembut dan halusnya. Hanya orang-orang yang ajiannya tinggi saja bisa berinteraksi denganmu. Beliau minta izin cucunya melaksanakan ritual di sini.” Paman raksasa tiba-tiba menjadi penerjemah. Sejenak aku mengangguk kecil. Aku tahu mereka adalah para petapa yang berdiam di gunung-gunun dan sebagian di dasar laut. Rambut, brewok, kumis, dan alis semuanya panjang dan tak terurus. Wajah mereka rata-rata tirus dan kurus.

“Paman, apa mereka tidak tahu bahasa Indonesia ? Agar aku bisa berinteraksi dengan mereka” Ujarku. “Nampaknya mereka tidak bisa, Selasih” Kata paman Raksasa lagi. “Aku bisa membuat mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia, Paman. Akan kupaksa mereka. Hiaaaaat…hiaat..hiiiaat!!” Secepat kilat kutotok leher mereka serentak, menyentuh pita suaranya agar bisa berbahasa Indonesia. “Maaf atas kelancangan saya kakek, saya menganggap sangat perlu untuk berinteraksi dengan kakek-kakek semua. Hentikan penangkapan saudara-saudaraku di tanah sumatera ini. Kakek-kakek telah membantu tiga dukun jahat ini bukan? Mereka adalah murid-murid para kakek? Aku tahu, kakek penganut ilmu hitam yang selalu mereka elukan, sembah, dan banggakan” Ujarku.

Melihat gelagatnya, para leluhur ini tetap hendak membantu para muridnya. Mereka datang justru akan memberikan dukungan dan kekuatan. “Nduk, meski beberapa pasukan cucuku telah kau musnakan, bahkan telah kau kurung bala tentaranya, tapi semua tidak akan mengurangi niat kami. Kami telah datang jauh dari seberang. Tidak ingin pulang berhampa tangan. Saya akui kehebatanmu. Anak kecil, Kamu cerdas! Berani bekerja sendiri. Nyalihmu sangat tinggi. Saran kakek, lebih baik kamu pulang, bermain dengan kawan-kawan sebayamu. Bahaya larut malam ada di hutan seperti ini” Ujarnya mulai meremehkan aku. “Tidak!! Kakek jangan berlembut-lembut padaku. Kalianlah yang harus angkat kaki dari tanah Sumatera ini.” Tantangku. “Artinya, kita harus bertarung anak kecil. Jangan ajak kakek bermain-main, Nduk. Bahaya untukmu” Ujarnya lagi.

Aku mulai naik darah. Para sesepuh ini sama saja dengan tiga dukun Muridnya. Berhati jahat! “Baik, kalau begitu, aku yang akan mengusir para kakek dari sini. Maafkan kelancanganku! Hiiiiiaaaat!!!” Aku mulai memainkan satu jurus untuk memancing mereka. Nampak para sepuh ini sangat meremehkan aku. Aku tahu mereka semua sakti-sakti. Ada yang apabila tubuhnya di cacah, ketika menyentuh tanah bisa hidup lagi, ada yang bisa menghidupkan dan mematikan matahari, ada yang bisa mendatangkan hujan, angin dan badai. Ada yang bisa mengangkat gunung, laut, dan entah apalagi. “Mbah Suko, urus denganmu anak kecil ini. Kalau panjenengam bisa, ambilah, bawalah ke lereng gunung Salak” Ujarnya.

Oo..rupanya namanya mbah Suko lelaki kurus bermata cekung ini. Mulutnya tak henti menggigit-gigit ranting. Mendengar diperintahkan untuk berhadapan denganku, nampaknya beliau maju dengan agak malas-malasan. Matanya mengecil menatapku. Melihat gayanya yang sombong, kubusungkan dada. Kukepit tanganku. Apalagi dia melenggang seakan dialah yang paling gagah sambil membetulkan ikat kepala. Dalam hati aku bisa menilai. Meski penampilannya kecil kumel tapi beliau ini hebat juga. Ikat kepalanya adalah senjata pamungkas. Gelang di tangannya bisa menjadi ular naga. Tulang yang dimilikinya sama kerasnya seperti besi. Dan panau yang tumbuh di pipi dan tangannya, rupanya racun yang sangat berbahaya.

“Sini main-main denganku? Mau berapa lama kamu main, Nduk? Tak layani!” Ujarnya memasang kuda-kuda. Aku mulai menunduk memerhatikan gerakannya. Aku terperanga, ternyata lelaki ini tidak hanya memiliki dua tangan. Aku melihat ada sepuluh tangan yang bergerak. Dua kasat mata, empat pasang tak kasat mata. Di alam gaib, ada gaib lagi. Aku tersenyum sendiri. Sama halnya ketika di dalam mimpi ada mimpi. Dan aku pernah mengalaminya. Wow! Gerakan tangannya saja mengeluarkan angin. Padahal baru gerakan biasa? Aku belum melihat beliau mengeluarkan tenaga dalam sepenuhnya. Apalagi jika beliau mengeluarkan tenaga dalam? Pasti akan lebih dasyat! Aku senang dapat lawan seperti ini. Bukan seperti pasukan coro-coro itu. “Huf! Huf! Huf!” Aku mengangkat ke dua tanganku ke atas, lalu menyilang. Kulihat kakek Adil sambil berdiri menatapku di perbatasan pagar gaibku. “Hati-hati, Cung” Bisiknya. Aku mengangguk lembut. Beberapa kekuatan telah kuhimpun jadi satu. Aku serius ingin memberi pelajaran pada satu orang ini dulu. Biar yang lainnya tidak menganggapku remeh. Dan aku serius ingin mengusir mereka dari tanah Sumatera ini.

Kulihat mbah Suko menunggu aku menyerangnya. Aku mulai dengan langkah kutau untuk mengelabui pandangannya. Dan Plak!!! Aku memukul punggungnya dengan menambahkan sedikit tenaga dalam. Lalu memelintir tangan gaibnya hingga berderak. Satu tangannya berhasil kupatahkan. Kulihat wajahnya kaget, pucat seketika. Mungkin dia tidak menyangka akan mendapatkan seranganku yang tiba-tiba. Aku mundur beberapa langkah untuk melakukan serangan selanjutnya. Mbah Suko mulai agak serius sembari menahan sakit. Melihat leluhur yang lain menertawakannya, mbah Suko semakin naik darah. Wajahnya merah padam. Rambutnya yang semula lepek tiba-tiba berubah tegang. Tangannya yang tinggal sembilan mulai bekerja. Beberapa senjata rahasia kulihat sudah berada di tangan gaibnya. Aku semakin waspada. Tiba-tiba mbah Suko duduk split dengan kaki mengembang. Tangannya mengarah ke atas dengan kepala mendongak. Dalam suasana duduk seperti itu mbah Suko menyerangku dengan senjata rahasia. Dengan sekali gerakan aku berhasil menghindar serangannya yang bertubi-tubi. Payung gaibku tiba-tiba saja muncul memgbang dan terbang melindungiku.

Kali ini aku melakukan strategi lain. Aku ingin membuatnya lumpuh. Sudah kupelajari kelemahan-kelemahan yang dimilikinya. Meski aku tetap harus hati-hati dengan berbagai kemungkinan. Jika bukan orang yang memiliki kemampuan tinggi tidak mungkin dengan cara split seperti itu dia mampu melakukan penyerangan dasyat pada lawan. Belum sempat aku berpikir panjang, aku terkejut ketika ada dua tangan menarik kakiku. Aku segera mengubah diriku selembut angin. Sehingga dengan mudah aku melepaskan diri dari cengkraman tangannya. Ternyata tangan mbah Suko sangat cepat bergerak dari bawah tanah. Aku terheran-heran, ada juga ilmu seperti ini? Tangannya bisa menyusup ke bawah tanah. Ini baru dua tangan. Bagaimana jika sembilan tagannya itu yang bekerja? Apa mbah Suko tidak mirip ubur-ubur?

Aku kembali menjajakan kaki ke tanah. Berharap tangan-tangan itu kembali menyusup. Benar saja, ini ilmu ubur-ubur. Delapan tangan mbah Suko bergerak cepat sekali. Aku segera melompat sembari menarik selendangku, delapan tangan itu kupukul dengan ujung selendang. DuaaaRR!!! Benturan keras terjadi. Dari delapan tangan kulihat ada empat yang terkulai dan gosong. Ternyata dari belakang para sesepuh itu ada yang hendak membantu mbah Suko. Mereka mencoba membokongku dari atas. Aku mengetahuinya kebetulan selendangku sedang berayun ke atas. Tiba-tiba ada benturan. Dalam hati aku menggerutu. Kurang ajar!! Para tua bangka ini ternyata suka main keroyok diam-diam. Aku meningkatkan kewaspadaan. Ini baru satu. Bisa jadi semuanya akan membantu mbah Suko. Sambil terus menghimpun kekuataan, aku mercoba menyedot energi para sepuh yang mereka transfer pada mbah Suko. Akibatnya mbah Suko makin lemas. Dalam situasi genting seperti itu, ternyata tidak membuat mbah Suko lumpuh. Dia bangkit lalu mengayunkan kedua tangannya. Tiba-tiba ada senjata lembing sekaligus tongkat yang berayun di udara. Sejenak aku terperanga. Lelaki sepuh ini seperti memiliki kekuatan ganda. Angin dari lembingnya sangat kencang. Kekuatan yang ditimbulkannya bisa menumbangkan apa saja. Aku akan lawan dengan angin pula. “Badaiii” aku berteriak kencang. Seketika angin bergemuruh menyerang kebutan lembing mbah Suko. Dua kekuatan angin beradu di udara, sama-sama saling menggulung dan mengaduk. Suaranya menderu. Kadang berdetar seperti guruh dan petir. Percikan api menghias langit belantara yang gelap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *