HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT V (72A)

Karya RD.Kedum

Sejak kepulangan dari dusun Tinggi Sebakas, kawan-kawan Pecinta Alamku jadi sering ke rumah, alasan mau konsultasi untuk melakukan ekspedisi, jelajah hutan, muncak, dan lain sebagainya.

Terus mereka banyak bertanya-tanya berbagai macam hal yang berkaitan dengan yang gaib-gaib. Misalnya, kalau naik ke gunung itu ada pantangan khusus tidak, kalau ke hutan itu sebaiknya bermalam atau tidak, bahaya apa tidak dan lain sebagainya. Sampai-sampai aku marah, memangnya aku paranormal? Meski pun aku bisa menakar daerah yang mereka sebutkan, tapi kemampuan yang aku miliki bukan untuk hal-hal yang kuanggap tidak penting itu. Memangnya melancong ke daerah gaib tidak ada resiko? “Nah, gara-gara kalian tahu aku melihat alam gaib, kalian nanya macam-macam padaku. Sebaiknya kita abaikan saja. Sebab efeksnya ada perasaan was-was di hati kalian untuk melakukan lintas dan jelajah alam selanjutnya. Kalian jadi penakut, curiga, dan lain-lain. Padahal sebelumnya tidak ada perasaan itu. Ini tandanya kalian sudah kalah satu langkah. Itu pertanda kalian tak mampu mengendalikan dan menakhlukan batin kalian sendiri. Bukankah salah satu filosofi yang kita pegang bahwa kehebatan seorang pendaki itu bukan karena ia mampu menakhlukan berapa ribu gunung dan berapa kilometer tinggi gunung atau bukit. Tapi ketika seorang pendaki telah sampai di puncak yang paling tinggi, artinya dia telah menakhlukkan dirinya sendiri. Pada dasarnya yang kita takhlukan bukan gunung atau bukit, tapi diri kita. Iya kan? Selanjutnya semakin tinggi kita berdiri rasakan sensaninya. Kita akan merasakan sang Khalik begitu dekat, karena saat itulah kita sadar betapa kecilnya kita. Rasa syukur akan membawa kita mengagumi kebesaran-Nya,” ujarku menceramahi kawan dan seniorku.

Mereka senyum-senyum mendengar aku seolah-olah paling pengalaman dari mereka. Akhirnya mereka kapok juga tiap kali mereka bertanya, tidak pernah kujawab sepenuhnya. Aku ingin mereka menganggap aku seperti selama ini, biasa-biasa saja. “Dek, seminggu yang lalu, adikku pulang dari pantai Pasar Bengkulu tiba-tiba badannya panas tinggi. Hingga kini. Di bawah ke dokter sudah, kata dokter demam biasa. Tapi panasnya tidak turun-turun. Setiap saat dia seperti orang kaget, kadang menjerit seperti orang kesurupan. Padahal dalam keadaan tidur. Ketika terjaga dia ceritakan katanya ada kakek-kakek tua mencekik, memukulnya.” Cerita Didin salah satu teman pencinta alamku. Pasar Bengkulu nama salah satu nama pantai di kota Bengkulu. Dari dulu sampai sekarang tempat itu menjadi salah satu tempat pelelangan ikan langsung dari nelayan. Waktu ke Sebakas, Didin tidak ikut. Rupanya karena adiknya sakit. Lalu gara-gara cerita-cerita mistis kawan-kawan makanya dia bertanya padaku. Mendengar cerita sekilasnya, aku langsung konek ke adiknya. Benar, aku melihat adiknya dikerumuni makhluk jahat seperti api. Api inilah yang membuat badannya panas tinggi. Selanjutnya dadanya dihantam-hantam oleh seorang kakek tua. Melihat itu aku sungguh tidak tega. Tapi bagaimanan aku harus menolongnya kawan-kawanku masih banyak di sini? “Pecah dirimu jadi dua, tinggalkan bayanganmu di sini bersama mereka. Cepat bantu, kalau tidak anak itu akan mati.” Suara kakek Njajau. Mendengar itu aku langsung masuk ke dalam kamar, kalau segera memecah diriku.

Kubiarkan bayangannya menemani kawan-kawanku. Sementara aku segera ke rumah Didin melihat kondisi adiknya. Kakek-kakek yang berkuku hitam dan panjang masih asyik memukul-mukuli dada adiknya. Adik Didin terlihat gelisah sambil memegang dadanya yang sakit. Sesekali mengerang. Sementara makhluk yang seperti api ada di sekitarnya. Tanpa bertanya lagi, si kakek langsung kutarik. Begitu juga makhluk yang seperti api langsung kukirimkan pukulan lalu kuseret juga. “Siapa kau anak kecil. Kau mencari mati? Mengapa kau menghalangi pekerjaan kami?” Ujar si Kakek marah. Demikian juga sosok api ngamuk, sengamuk-ngamuknya. Beberapa kali dorongan, hantaman mereka menyerangku. Aku hanya menghalangi tanpa memberikan balasan. “Justru aku yang harus bertanya, mengapa kalian mengganggu bangsaku?” Ujarku menolak pukulannya. Rupanya menurut pengakuan mereka, adik Didin ketika jalan-jalan di pantai Pasar Bengkulu, menemukan batu mirip lapisan bumi. Bentuknya unik berlapis-lapis. Batu itu adalah rumah hunian makhluk-makhluk ini. Itu sebabnya mereka marah. Mereka minta batu itu dikembalikan di tempatnya semula. Akhirnya aku berjanji akan mengembalikan batu itu ke tempat semula. Tapi dengan syarat mereka tidak menganggu lagi. Kujelaskan, tidak semua manusia tahu kalau batu itu rumah hunian bangsa halus seperti mereka. Rupanya makhluk-makhluk asral ini tetap inginkan adik Didin mati. Kalau tidak mereka minta darah ayam cimani disiramkan di tempat batu yang ditemukan itu sebagai gantinya. Setelah kubujuk, dan kuancam batu dan mereka akan kuhancurkan jika mengganggu manusia, akhirnya mereka mau aku bantu kembalikan. Dengan tidak ada syarat seperti yang mereka minta. Mendengar ancamanku mereka gentar juga. Akhirnya aku kembali ke rumah Didin lagi. Kulihat Adiknya sudah mulai tenang. Tidak gelisah dan sakit seperti kulihat sebelumnya. Di sudut rumahnya ada batu yang mereka maksud. Rupanya batu itu hendak dijadikannya aksesoris bonsai oleh adik Didin. Aku segera menetralisir adik Didin. Kubantu menyembuhkan beberapa bagian tubuhnya yang luka akibat hantaman makhluk gaib itu. Adik Didin bangkit dan berteriak-teriak memanggil ibunya kalau dirinya sudah sembuh. Melihat dia sudah sehat aku segera pulang dan kembali menyatukan bayanganku. “Din, adikmu tempo hari menemukan batu dari pantai Pasar Bengkulu ya? Ayo kita ambil batunya, kita kembalikan ke pantai Pasar Bengkulu.” Ujarku. Meski berwajah heran, Didin mengakuinya jika adiknya memang membawa batu bentuknya unik seperti lapisan bumi. Kami segera bergerak ke rumah Didin. Sampai di sana adiknya sudah duduk dan sedang makan ditunggui ibunya. Didin segera menyampaikan maksud kedatanganku untuk mengambil batu yang ditemukan kemarin. “Ah tidak mungkin. Masa batu bisa membuat orang sakit? Tidaklah batu itu unik, tidak mudah mendapatkan batu seperti itu” Ujar adiknya tidak percaya. Aku bingung juga mau menjelaskan. Didin menatapku. “Sudah, pokoknya batu itu akan Dedek ambil dan dikembalikan lagi ke Pasar Bengkulu.” Ujar Didin. Adiknya bersikeras tidak mau. “Pakai otaklah, masuk akal tidak? Aku tidak percaya dengan masalah-masalah kayak gitu.” Ujar adiknya keras menatapku. Nada meremehkan alam gaib nampak sekali dari tatapan dan gerak bibirnya. Diam-diam kubuka mata batinnya, kuperlihatkan ketika dia mengambil batu itu. Lalu kuperlihatkan juga siapa penghuni batu itu. Dia melihat di sana ada istana yang dihuni oleh kakek yang datang dalam mimpinya dan makhluk berbentuk seperti api serta makhluk-makhluk lainnya yang menyerangnya. Tiba-tiba dia terpekik dan pucat. Nasi yang masih di mulutnya tersembur ke luar. Seisi rumah kaget. Matanya melotot ketakutan. Segera kututup lagi pancainderanya. Sebelumnya dia berbicara begitu tegas, tidak percaya alam gaib. Baru dilihatkan secuil saja sudah menjerit ketakutan. “Jangan suka meremekan kehidupan. Di alam ini selain ada kita makhluk yang kasar, ada juga ada makhluk halus tak kasat mata. Batu itu adalah rumah makhluk gaib di pinggir laut. Seorang lelaki tua, dan dua sosok berbentuk api. Lalu pasukannya seperti balatentara. Ribuan jumlahnya. Mereka marah karena rumahnya kau bawa pulang.” Ujarku. Mendengar itu adik Didin menatapku tak berkedip. “Mau dipulangkan tidak? Kalau tidak aku mau pulang, semua urusan dengan mereka kau urus sendiri.” Ujarku hendak pamit. Rupanya si Ibu sambil menangis memegang tanganku. “Jangan pulang dulu, Nak. Ambillah batu itu. Kembalikanlah ke tempatnya. Yang penting anakku sehat kembali.” Ujar si Ibu. Adik Didin masih bengong seperti orang bego. Rupanya dia masih shock, belum bisa berkata- kata setelah melihat alam gaib. “Iya Ibu, aku melihat ada istana di batu itu. Kakek itu marah padaku. Aku takut, Bu.” Ujarnya menutup mata. Akhirnya aku dan Didin mengambil batu itu lalu ke pantai Pasar Bengkulu. Sesampainya di sana aku mencari-cari posisi batu itu ditemukan. Masya Allah, ternyata di bawah pohon cemara. Bekasnya masih terlihat. Kuletakkan kembali batunya, lalu kubantu agar batu itu tidak terlihat oleh manusia. Sebab aku khawatir ada yang melihatnya lalu mengambilnya dan membawanya pulang lagi. Aku pamit pada makhluk asral penghuni batu seperti lapisan bumi itu. Mereka kembali ke batu itu.

Pantai nampak sepi. Air laut nampak tinggi. Hanya kapal-kapal nelayan saja yang di tambatkan agak jauh ke laut, terombang-ambing. Sebagian lagi kapal-kapalnya dibawa ke darat. Beberapa atap kapal terbuka dan melambai-lambai. Aku dan Didin berlari-lari kecil meninggalkan sisi pantai. Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang. Beberapa pohon cemara di pinggir jalan seperti hendak tumbang. Tak lama turun hujan. Oh badai! Suara ombak menderu-deru. Gelombangnya makin lama makin tinggi. Air laut nampak keruh. Langit buram. Kami segera berteduh di pondokan tempat pelelangan ikan. Bau amis ikan sedikit menyengat, aku berusaha menahan nafas. Ada beberapa orang ikut berteduh. Aku dan Didin memilih tempat duduk menghadap ke laut. Angin yang bertiup, sedikit membantu membawa aroma anyir ikan menjauh. Meski sedikit tempias, kami tetap bertahan. “Semoga adikku tidak sakit lagi, ya Dek.” Didin membuka pembicaraan. Aku mengangguk sambil mengaminkan. Aku bersyukur, Didin tidak seperti kawan-kawanku yang lain. Dia tidak banyak tanya tentangku. Jadi aku lebih santai dan nyaman. Dia seperti paham dan mengerti siapa aku. Hujan dan angin nampaknya awet. Tidak ada tanda-tanda akan segera berhenti. Tapi untuk menembus hujan angin, nampaknya aku harus berpikir dua kali. Berhubung hari juga belum terlalu petang, akhirnya aku dan Didin memilih tetap bertahan berteduh di sini sambil bercerita berbagai banyak hal. Beberapa mobil yang melintas di jalan raya seperti banyangan buram. Angin dan hujan seperti tabir menutupi lampu mobil yang menyala. Kapal-kapal nelayan yang ditambatkan di pantai, seperti dipermainkam ombak. Bahkan beberapa kapal sudah miring, nyaris terbalik. Di kejauhan aku melihat sosok berlari di tengah hujan dan angin ke arah laut. Kuperhatikam gerak-geriknya. Seorang nelayan berusaha menarik kapalnya ke pantai karena melihat ombak makin tinggi. Dia tidak tahu jika di atas ombak yang tinggi, beberapa makhluk dari darat bermain di atas ombak. Mereka seperti menirukan gaya manusia seakan-akan berselancar meniti gelombang yang saling kejar. Beberapa di antara mereka ada yang iseng melihat nelayan yang berusaha mendaratkan kapal malah ditariknya kembali ke laut. Kapal seperti terseret. Sang nelayan tetap berusaha dengan keras menarik kapal namun tidak juga berhasil. Melihat beliau sudah kewalahan dan nyaris ikut terseret ke laut akibat ulah makhluk asral itu, aku tidak bisa tinggal diam. Aku langsung duduk dan fokus menolong beliau. Makhluk asral kuhalau hingga ke tengah laut. Rupanya kawan-kawannya ikut menyerangku. Akhirnya aku melayani mereka terlebih dahulu. Pukulan-pukulan kacau mareka banyak nyasar ke laut membuat beberapa makhluk laut marah dan menyerang mereka. Kubiarkan mereka saling serang. Beberapa makhluk asral yang baik membantu mendorong kapal sang nelayan sampai ke darat tanpa beliau sadari. Ombak memang makin tinggi. Akhirnya beberapa kapal nelayan kuseret agak ke darat. Kasihan mereka jika kapal-kapalnya pecah di hantam badai, beradu dengan kapal-kapal lainnya atau tumbang ke laut dan di seret ombak. Kapal-kapal ini adalah mata pencaharian mereka, untuk menghidupi keluarga mereka sehari-hari. Mereka adalah nelayan-nelayan kecil. Bayangkan, jika badai seperti ini, mereka tidak bisa melaut, kadang berminggu-minggu. Lalu mereka makan apa? Apalagi jika kapal mereka rusak atau tenggelam, darimana mereka akan dapatkan kapal pengganti?

Melihat aku memindahkan beberapa kapal para nelayan, banyak juga sosok asral membantu. Aku nyaris tidak mengeluarkan tenaga. Mereka justru bertanya yang mana lagi Putri? Aku dipanggil mereka Putri. Apakah karena aku perempuan atau mereka kira aku seorang putri raja seperti di alam mereka? Yang jelas aku bahagia bisa kenal mereka. Mereka tinggal di seputar pantai. Punya kerajaan sendiri. Kata mereka, bertetangga dengan makhluk asral fasik yang suka mengganggu anak manusia. Ya wajar saja, alam pantai memang salah satu tempat yang nyaman bagi makhluk gaib. Ada airnya, pasirnya, semak belukarnya, pohon-pohonnya, lembab merupakan rumah yang paling nyaman untuk mereka.”Dek, ngantuk ya?” Ujar Didin. Mungkin karena melihat aku diam sambil memejamkan mata. Kujawab saja iya. Tidak mungkin aku menceritakan kalau aku habis menolong nelayan menarik perahunya ke darat. Mana Didin percaya, sementara aku dari tadi duduk di sebelahnya. Nanti dia kira aku penghayal tinggi. Nyari sensasi, sok sakti. “Coba kalau ada warung dekat sini, kita bisa makan mie rebus hangat-hangat, atau minum kopi,” ujar Didin seakan sengaja dia ucapkan untuk mengusir kantuk. Aku tersenyum mendengarnya. Sahabatku satu ini perasaannya lebih peka. Angin bertiup tidak sekencang tadi. Tapi tirai hujan masih sangat rapat. Jalanan sedikit tergenang. Sebenarnya kalau aku mau pulang sekarang, bisa saja aku pulang sendiri atau minta antar siapa saja, Macan Kumbang, atau Eyang Kuda. Tapi bagaimana dengan Didin? Oh, eyang Kuda. Sudah lama aku tidak bertemu dengan pria blangkon itu. Apa kabar beliau? Mengapa beliau tidak ada menemuiku sejak aku pulang dari dusun Tinggi Sebakas. “Kau memang sudah lupa Eyang, nduk!” Aku hampir terlonjak mendengar suara eyang Kuda. Ah, Eyang, mana mungkin aku melupakannya. Kebetulan saja belum sempat menyapa beliau sejak pulang dari Sebakas. Selanjutnya Eyang menawarkan diri mau ngantar aku pulang . Kujawab lewat batin, sebaiknya tidak usah karena aku berdua dengan teman. Aku senyum-senyum sendiri. Ternyata Didin memperhatikan. “Hei! Ngapain senyum-senyum sendiri.” Katanya menepuk pahaku. Aku tergelak sambil mengatakan tidak ada apa-apa.Setelah kurang lebih dua jam menunggu, ternyata hujan tak juga berhenti. Akhirnya aku dan Didin memutuskan untuk pulang. Didin mengantarku terlebih dahulu. Akhirnya kami menembus tirai hujan yang masih rapat. Di jalan kulihat beberapa dahan pohon yang tumbuh di sisi jalan patah akibat hujan angin yang memang sangat kencang beberapa jam lalu. Jalanan licin. Beberapa kendaraan sudah mulai lalu lalang. Berbeda dengan sebelumnya ketika badai, jalanan nampak sepi. Orang banyak memilih berteduh dibandingkan terus melanjutkan perjalanan. Kecuali yang bernyali dan bermodal nekad. Badai malah dianggap mereka untuk menguji andrenalin. Biasanya anak-anak muda dengan geng motornya. Tak lama berselang motor Didin sudah masuk ke Gang. Merpati 12 menuju rumahku. Jalanan masih tergenang air. Beberapa kali motor Didin nyaris terjebak lubang yang berair. Daun dan ranting berserakan sepanjang jalan. Bunga mangga dan jambu air yang baru mekar pun berguguran. Didin sedikit berhati-hati mengendalikan kendaraannya. Sesekali terdengar suara gemeletak giginya yang beradu menahan dingin. Usai mengantarku Didin langsung pamit pulang. Hujan masih turun. Seperti aku, bibirnya nampak biru. Kuajak masuk Didin menolak. Tanggung katanya, sudah basah. Sambil menahan gigil, motor Didin kembali melintas jalanan yang belubang. Aku melihat punggungnya berguncang-guncang. Tak lama bayangannya lenyap di tikungan.

Baru saja aku berniat hendak masuk tiba-tiba ada suara memanggilku. “Selasih…tolong aku..” Suara itu halus sekali. Kupasang telinga tajam-tajam. “Aku terjepit Selasih, tidak bisa ke luar. Aku di bawah batu dekat pohon nangka.” Ujarnya lagi. Aku segera menerobos hujan kembali, menuju pohon nangka yang tumbuh di sudut parit ujung rumahku. Aku langsung mengangkat batu satu-satu sebesar kepala orang dewasa lumayan berat dan licin. Benar saja, di paling dasar tumpukan batu ada ular cantik berwarna putih, tubuh dan kepalanya terjepit di sela-sela batu. Ularnya kecil hanya sebesar jari kelingking, panjangnya kira-kira 75 cm. Aku segera menyingkirkan beberapa batu lagi. “Ah! Terimakasih Putri Selasih. Kalau tidak kau tolong aku bisa mati di sini. Kebetulan aku lewat sini karena parit depan rumahmu airnya deras, makanya aku lewat batu-batu ini. Tidak tahunya aku salah masuk, terjebak di bawah batu. Mau maju tidak bisa, mundur juga tidak bisa.” Lanjutnya menarik nafas lega. Aku melihat sosok seorang putri cantik bertubuh ular. Kulitnya putih dan gaunnya juga putih. “Siapa namamu, tinggal dimana?” Tanyaku. Aku heran dia kok tahu namaku seakan akrab sekali. Padahal aku baru kali ini bertemu. “Aku Melati Anggar, tempatku di kebun kelapa itu. Di sana rumahku.” Ujarnya memberi tahu. Oh, di kebun kelapa itu ada rumah Putri Ular ini? Aku baru tahu. Aku sering lewat sana kalau mau ke Merpati empat belas. Tapi tidak pernah tahu kalau di sana ada rumah makhluk cantik ini. “Rumahku menghadap ke Selatan, Selasih. Jadi memang tidak terlihat oleh siapa pun yang lewat. Tapi aku sering melihatmu lewat.” Ujarnya lagi. Akhirnya kusuruh dia pulang dan kupesan agar hati-hati kalau melewati batu-batu kali yang masih berserak di halaman bekas tukang bekerja. Kulihat tubuh kecilnya meliuk-liuk di atas batu, dan semak yang menghubungkan rumahku dan kebun kelapa. Pohon kelapa bergoyang-goyang seperti hendak roboh. Daunnya persis seperti rambut panjang yang tersibak. Di situ rupanya ada rumah makhluk berbentuk ular putih. Bernama Melati Anggar. Aku berbalik ke rumah lagi.

Aku segera mandi. Melihat aku kedinginan ibu membuatkan aku teh hangat dan langsung menyodorkannya ketika melihat aku baru ke luar dari kamar mandi. Akhirnya kuseruput sedikit demi sedikit pakai sendok makan. Lumayan tubuhku sedikit hangat. Apalagi ditambah peyek kacang yang guri. Aku duduk dekat Bapak yang sedang asyik menjahit sandalnya yang ‘mangap’ gara-gara sering kena air. “Heran ya, sepatu, sandal, zaman sekarang tidak ada yang awet. Baru kena air sedikit saja sudah lepas lemnya. Tidak seperti zaman dulu. Kalau bahan dari kulit memang awet. Tidak hancur-hancur. Bahkan sampai bosan memakainya. Apalagi sepatu,” Kata Bapak sambil menarik jarum. “Kalau tidak mudah hancur, tidak laku sandal dan sepatu di pasar, Pak. Minimal satu tahun satu orang tiga kali beli sandal. Itu targetnya. Apalagi kalau satu orang punya lebih tiga sandal. Artinya satu tahun sembilan sandal kan? Kalau tidak seperti itu bangkrut perusahaan.” Ujar Ibu sok paham. Aku tertawa mendengarnya. Tapi jika dipikir-pikir iya juga ya. Kalau sandal atau sepatunya terlalu awet bisa-bisa tokoh sepatu dan sandal gulung tikar. “Pak, ingat tidak, waktu aku SD Ibu kan selalu membelikan aku sepatu merk bata. Toko sepatu yang paling terkenal di kota kecil kita Pagaralam saat itu. Harusnya aku pakai sepatu nomor tujuh, tapi selalu dibelikan ibu nomor sembilan. Alasan ibu sengaja beli nomor yang besar, agar awet tidak beli terus tiap tahun. Akibatnya tiap kali hendak memakainya bagian depan harus kuganjal dengan kertas. Jariku sampai bertekuk-tekuk. Sepatu itu memang tetap awet sampai naik kelas empat. Mengkilap terus, habis selalu ibu semir. Kalau bukan karena kebutuhan untuk pramuka, atau baris-berbaris, mungkin selama sekolah dasar sepatuku cukup satu itu dari kelas satu sampai kelas enam.” Ujarku tertawa. Bapak dan ibu juga ikut tertawa. “Soalnya tidak sembarang orang bisa membeli sepatu bata waktu itu. Harganya mahal dan awet.” Alasan Ibu sambil tertawa geli ketika ingat masa lalu setiap pagi sibuk memeriksa kertas ganjel sepatuku. Untung waktu itu jarak sekolah dengan rumah cuma lima puluh meter. “Bagaimana tidak awet, Bu. Tiap pulang sekolah sepatuku kulepas, aku pulang nyeker.” Ujarku disambut tawa Bapak yang kencang. “Terus, apa yang kau lakukan ketika sepatu itu tidak rusak-rusak?” Kata Bapak. “Diam-diam, sepatu itu kuiris sedikit demi sedikit, lalu kukoyak, kulihatkan dengan ibu ketika kupakai, lalu jari-jariku kubuat bertekuk agar terlihat sempit. Bagian depan yang kukoyak kubuat sedikit ‘mangap’ seperti mulut buaya. Tapi bukan langsung direspon baik sama Ibu. Justru Ibu bilang kalau beli sepatu baru tunggu kopi di kebun kakek Haji Yasir panen, kering, lalu dijual. Bahkan aku ditantang ibu, kalau ingin sepatu baru, buku baru, tas baru, petik kopi sendiri. Padahal aku tahu, Ibu bukan tidak punya uang. Aku tidak paham prinsip apa yang dipakai Ibu waktu itu. Hemat atau pelit tidak bisa dibedakan. Yang jelas kebutuhan seperti itu tidak jadi prioritas Ibu.” Lanjutku lagi. Ibu hanya tertawa mendengar ucapanku. “Begitulah cara orang kampung mendidik anaknya, Dek. Maksudnya agar anak-anak tidak manja, dan berpikir untuk mendapatkan segala sesuatu itu butuh usaha, harus bekerja.” Lanjut Bapak.

Setelah kupikir-pikir benar juga. Aku tidak akan punya uang lebih kalau tidak membantu kakek Haji Yasir dan punya simpanan biji kopi sendiri. Baik metik sendiri maupun hasil ‘nyemang’ di bawah pohon. Hanya kakek Haji Yasir dan kakek Haji Majani tiap kali panen kopi memberikan segala macam yang kuminta selain memberi uang jajan. Obrolan terhenti ketika samar-samar terdengar suara azan dari masjid depan gang. Kami segera menunaikan salat magrib. Waktu sudah jelang tengah malam. Aku masih asyik membaca program komunitas Ratu Samban Hiking Club, club pecinta alamku ketika dari luar samar-samar kudengar suara memanggil-manggil namaku. Aku langsung bangkit dan ke luar. Di luar masih hujan tipis, gelap pekat, dan sepi. Hanya suara kodok dan jangkrik terdengar samar di antara suara tetes hujan di atap seng. Aku mencari-cari sumber suara. “Maafkan aku Selasih, aku berdiri di sini tidak bisa masuk ke rumahmu. Aku hanya mengantarkan ini untukmu.” Ternyata di luar rumah ada Melati Anggar. Di lidahnya ada permata bersinar-sinar. Aku segera menghampirinya dan berdiri persis di hadapannya. Dia dan sebangsanya memang tidak bisa masuk ke rumahku. Aku menghampirinya setelah menutup pintu terlebih dahulu. Seisi rumah sudah tidur semua. Permata dijatuhkannya di hadapanku. Kupungut, kuletakkan di telapak tanganku. “Mengapa kau repot-repot mengantarkan permata ini Melati?” Tanyaku. “Sebagai ucapan terima kasihku dan persahabatan kita, Selasih. Aku tahu di lehermu ada permata bangsaku, permata berwarna kuning, dan sabuk di pinggangmu juga. Itu pemberian Ratu Ular kuning bukan? Aku bisa mencium baunya. Di lenganmu juga ada gelang bau bangsaku juga. Terimalah pemberianku yang tidak seberapa ini Selasih, semoga manfaat dan bisa kamu gunakan” Ujar Melati Anggar lagi. Aku memandang permata itu dengan saksama. Kurasakan ada energi alam di dalamnya mengalir pelan ke dalam tubuhku.”Masya Allah Melati. Terima kasih, kok jadi repot. Yaa Allah…indah sekali. Insya Allah akan aku gunakan sebaik mungkin.” Ujarku. Tiba-tiba tubuh Melati bergetar. Aku kaget sambil istighfar, tubuh Melati kembali terlonjak. “Melati! Mengapa? Ada apa?” Aku menyambar tubuhnya segera. Kulihat Melati agak sempoyongan. “Aku tidak kuat mendengar mantramu Selasih. Panas.” Ujarnya terputus-putus. Aku bingung, aku tidak ada membaca apapun. “Mantra? Mantra apa? Aku tidak ada membaca mantra apa pun” Jawabku masih bingung. Otakku langsung berpikir cepat. Apa mungkin karena aku menyebut nama Allah dan beberapa kali istighfar? Oh, aku baru ‘ngeh’. “Maafkan aku, Melati. Yang kuucapkan tadi bukan mantra, tapi rasa syukur pada Tuhan yang aku sembah. Tuhan pencipta bumi dan langit. Kalau bukan karena kuasa Tuhanku yang menggerakkan hatimu untuk kemari menemuiku lalu memberikan ini, tidak mungkin engkau akan sampai ke mari, Melati. Kebaikan hatimu karena ada dzat yang menggerakkan. Dan itu Tuhan yang aku sembah.” Ujarku pelan. Aku takut menyinggung perasaannya. Aku juga segan menanyakan punya keyakinan apa tidak. Mata Melati berkedip-kedip. “Lalu apa arti yang kau ucapkan tadi kalau bukan mantra? Mengapa bisa membuatku rasa terbakar, Selasih?” Lanjutnya lagi. Aku khawatir tubuhnya kembali terlonjak jika aku istighfar kembali. Akhirnya aku jawab sebagai rasa syukurku pada Tuhan yang aku sembah karena sudah mempertemukan kita. “Aku memuji-muji kebesaran Tuhanku, Melati. Hidup dan mati kita milik-Nya. Maka wajar bukan jika aku menyerahkan hidup dan matiku pada-Nya juga.” Aku menatapnya sambil tersenyum. Aku melihat air muka lain di wajahnya. Banyak hal nampaknya ingin disampaikannya. Masih seputar yang menurutnya “mantra”.

Gerimis rapat kembali diiringi angin. Suara berkesiur menggulung daun pohon yang tumbuh di halaman rumah. Melati masih bertanya seputar hal yang disebutnya mantra. Aku jelaskan jika aku memuja dan menggangungkan Tuhan yang menciptakan seisi bumi ini. Bukan menyembah matahari, batu, pohon besar, bangsa jin, iblis, setan, atau tidak menyembah apa pun sama sekali. Karena semua itu ciptaan Tuhan yang aku sembah, maka patutlah aku membesarkan nama-Nya. Lalu kujelaskan keyakinan itu kepercayaan yang dimiliki seseorang yang disebut agama. Dan aku beragama Islam. “Bukankah di bangsamu demikian juga, ada yang berkeyakinan Islam, Hindu, Budha, Katolik, Protestan, dan lain-lain. Kalau golongan manusia dan jin yang tidak bertuhan maka disebut atheis.” Lanjutku sedikit hati-hati. Apalagi melihat ekspresi ingin tahunya nampaknya sudah mulai terbuka. Kami saling tatap. Suasana hening sejenak. Gerakan tubuhnya tidak meliuk-liuk sekencang tadi. Tapi lebih tegak lurus menatapku.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *