Kampung Blekok Surga Buat Para Fotografer Burung Yang Perlahan Tergeser Perumahan

Kampung Blekok terletak di Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage Kota Bandung. Alamnya masih asri, banyak pepohonan dan kolam ikan. Yang tentunya cocok sekali untuk habitat burung. Itu semua memerlukan dana dan menunggu bantuan pemerintah khususnya dinas pariwisata untuk melindungi cagar alam cagar budaya supaya bisa dipertahankan.

“Mudah-mudahan dengan adanya perda No.7 tahun 2019 tentang cagar alam cagar budaya untuk lebih inten lagi karena ini merupakan salah satu kawasan cagar alam yang betul-betul alami dan bisa dijadikan sebuah edukasi wisata” kata Ujang Safaat. Ia juga menambahkan “Masyarakat berharap atas kejelasan status tanah hibah lahan seluas 2 hektar dari pengembang Adipura untuk penopang kampung habitat burung blekok yang sampai saat ini tidak terealisasi bahkan sekarang sudah menjadi milik Summarecon” kata Ujang Safaat Ketua RW 02 bersama warga sekitar dari tahun 1995 mengurus dan menjaga kelestarian alam terutama Burung Blekok.

Dari sisi lain banyak yang belum tahu tempat ini bagus buat pehobby Fotografi. Yang sering datang ke Kampung Blekok untuk mengabadikannya yaitu sekelompok fotografer ‘Sakahayang Moto’ bersekretariat di Jalan Morce No.15 Bandung.

Salah satu fotografer spesialisasi motret burung, Toto Sungsang Suprapto, dosen fotografi di STMIK AMIK BANDUNG puluhan kali mendatangi untuk memotret burung dan aktifitas di Kampung Blekok dengan niat mempublikasikan dalam bentuk buku yang berjudul ‘Koloni Terakhir’.

“Sebetulnya yang saya lihat yang sedang berkembang Ekowisata Birding, jadi para pemotret yang menyukai fotografi burung bisa diarahkan ke Kampung Blekok ini, terutama untuk pemula”, ucap Toto. “Mungkin kalau memotret burung di pantai, di hutan bakau kita perlu memakai pakaian kamuplase, kalau disini tidak,” Toto menambahkan.

Bagi Mohammad Sobirin Amas memotret bukan sekedar hoby ataupun seni, tapi lebih dari itu. Ekspresi dari sebuah karya dan ungkapan emosi jiwa, oleh karenanya karya seseorang akan berbeda dengan orang lain walaupun tujuannya sama. Berkarya melalui objek motret merupakan album atau kenangan yang kapan saja bisa membukanya kembali dan tidak membosankan. Berkarya melalui motret biasanya objek atau sasarannya adalah seputar lingkungan kehidupan, pesan dan kesan yang ada adalah mengabadikan moment yang mungkin tidak terulang kembali.

“Seperti Berkarya memotret satwa, contohnya burung blekok. Ia bisa hidup dekat dengan aktivitas manusia saat di sawah, sehingga kita bisa mengabadikan pola kehidupan blekok saat mencari makan, berkembang biak dan bersarang karena blekok ini berkoloni serta mudah diabadikan, tetapi memang butuh kesabaran, ketekunan dan keteguhan bagi seorang pemotret untuk dapat objek poto yg bagus, unik, langka dan bisa bercerita mengenai kehidupan blekok”, ujar Sobirin seorang pimpinan perusahaan swasta yang hobby fotografi. Untuk itu para pemotret akan dibuat penasaran dan tidak akan bosan dengan aktivitas sang Blekok, apalagi banyak jenisnya karena berkoloni. “Gak pelit ilmu, itulah kesan pertama saya sebagai fotografer pemula yang baru pertama kali hunting bareng fotografer senior. Deg-degan karena masih bingung angle mana yang bagus untuk motret Burung Blekok ini,” ucap Afrianti seorang karyawan swasta yang juga wasit dan pelatih renang.

Dengan sabar Afrianti menunggu moment yang pas ketika Burung Blekok ini mendarat di dahan, atau saat terbang meliuk di udara. Tidak tanggung mendapat arahan, membuat Afrianti semangat untuk hunting bareng lagi. Walaupun cuaca tidak begitu cerah sore itu, tapi banyak moment yang tidak boleh dilewatkan. “Apalagi saat sunset tiba, Burung Blekok yang baru pulang nyari makan terbang melintas arah sunset bikin saya terkagum.” Kata Afrianti.

Ternyata di Bandung dengan banyaknya pembangunan dimana mana, masih menyisakan pemandangan yang menakjubkan. “Bisa dibilang semua serba baru dialami oleh saya saat hunting ini. Karena kapan lagi bisa ketemu 1 koloni besar Burung Blekok di tengah kota begini, sayang rasanya jika habitat mereka hilang akibat keserakahan manusia,” Afrianti menambahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *