Tulisan Favorit Juri : Gema Pelosok Bersorak

Kayla Najmi Ihsani

Empat tahun lalu, tepatnya 17 Agustus 2018 merupakan pengalaman yang tidak akan aku lupakan.

Hari itu, aku berkunjung untuk menjenguk nenekku di Jawa Timur. Waktu perjalanan yang ditempuh sekitar delapan jam karena aku menggunakan kendaraan roda empat. Rumah nenek berada di pelosok, jalanan masih tanah sebab belum diaspal. Lampu listrik juga masih jarang dipakai oleh warga sekitar, mereka lebih nyaman menggunakan lampu petromaks.

Masih banyak warga yang kurang beruntung dalam hal ekonomi maupun teknologi sehingga dapat mengakses internet merupakan suatu privilege di sini. Akan tetapi, mereka memiliki minat besar dalam mempelajari perkembangan informasi teknologi dan tidak memiliki prespektif negatif terhadap perkembangannya.

Hal itu terlihat saat mereka mencari ide-ide lomba untuk menyiapkan dan memeriahkan kemerdekaan melalui mesin telusur secara online dari jauh hari. Ada satu lomba yang sangat asing di telingaku. Lomba itu merupakan bagian dari tradisi warga sekitar, lomba bola api. Awalnya aku pikir itu sebuah candaan, tetapi ekspresi muka dan nada bicara nenek serius tanpa terkekeh saat memberitahuku tentang lomba ini. Terlihat bahwa lomba bola api sudah dianggap sesuatu yang lumrah oleh warga sekitar. Namun, tidak dengaku. Badanku gemetar dan jantungku berdebar ketika nenek mengajakku untuk menonton lomba itu.

Lomba bola api diselenggarakan pada lapangan masjid serta hanya boleh dimainkan oleh para santri. Peraturan lomba bola api tidak jauh berbeda dengan lomba sepak bola. Bola api yang dipakai juga tidak jauh berbeda dengan bola tendang biasanya. Hanya saja yang berbeda adalah terdapat pada bolanya yang terbuat dari kelapa kering dan bagian kulitnya dipisahkan. Setelah kulitnya sudah dipisahkan, kelapa itu direndam dan dibiarkan sampai beberapa minggu.

Malam hari merupakan waktu yang tepat untuk memulai lomba bola api. Bola api ini terlihat menyala di tengah gelapnya malam. Sebelum lomba dimulai, wasit membakar kelapa yang telah dibiarkan beberapa minggu dan menaruhnya di atas tanah lapangan. Para santri menunggu aba-aba untuk menendangnya. Siapa yang paling banyak memasukkan bola api ke gawang, tim itu lah yang menjadi juaranya.

Konon katanya, para santri harus melakukan puasa selama dua puluh hari dan mengamalkan bacaan-bacaan tertentu. Setelah melakukan syarat-syarat tersebut, para santri bisa bermain dengan leluasa karena mereka sudah memiliki kekuatan tahan panas serta tubuhnya tidak akan terbakar ketika mengenai bola api.

Permainan ini tentu membutuhkan keberanian dan kekuatan karena risiko cederanya cukup besar. Di luar bahayanya, lomba bola api merupakan permainan tradisional asli Indonesia yang memiliki unsur kebersamaan, sportivitas, dan kekompakan.

Penonton lomba bisa mengambil pesan yang dapat diterapkan dalam kehidupannya. Selain sebagai ajang untuk melestarikan tradisi yang sudah turun temurun, permaninan ini dapat dinikmati dan ditonton banyak warga yang dapat menciptakan kerukunan antarwarga sekitar.

Satu tanggapan untuk “Tulisan Favorit Juri : Gema Pelosok Bersorak

  • 1 Oktober 2022 pada 12 h 32 min
    Permalink

    Tulisan yang menyentuh!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *