Cerita Lebaran dari Frankfurt Jerman: Bebas dari Pertanyaan “Kapan Nikah?”

Catatan Aulia Hakim

Hallo Sobat Surat Dunia, apa kabar semua? Sebelumnya saya mengucapkan selamat hari raya idulfitri mohon maaf lahir batin. Di tahun 2024 ini, KJRI Frankfurt kembali bekerjasama dengan pengurus Masjid Indonesia Frankfurt menyelenggarakan halal bihalal. Kegiatan berlangsung di Wisma Indonesia, Niederaeder Landstrasse 36 Frankfurt am Main pada hari Sabtu, 13 April lalu.

Suasana halal bihalal

Mulai dari pukul 10 pagi, jamu masyarakat yang berkunjung disambut hangat oleh Konjen RI Antonius Yudi Triantoro, Ibu Tensi Triantoro dan segenap keluarga besar KJRI.

Berfoto bersama Pak Konjen dan Ibu
Ramainya masyarakat yang hadir

Lalu usai foto bareng, kami diberikan dua kupon yang bisa ditukar dengan snack dan juga makanan berat yang diberikan pada siang harinya. Snack terdiri atas pastel dan kue bolu sementara makan siang sudah bisa dipastikan adalah sajian khas lebaran seperti ketupat, opor ayam dan sambal goreng ati.

Di lokasi, ada booth foto, panggung kecil dan beberapa stan makanan berdiri.

Booth foto

Masyarakat Indonesia yang bermukim di Frankfurt dan sekitarnya jumlahnya bisa dibilang hampir seribuan. Namun yang datang kira-kira ada lima ratusan orang. Tua-muda, orang Indonesia, warga lokal Jerman semua ngumpul. Saya pun sempat foto-foto dengan sejumlah warga yang menjadi bagian dari Pemilu 2024. Seru deh! Berasa reuni hehe.

Hang out bareng teman-teman Indonesia eks panitia Pemilu 2024

Sebagai tuan rumah, Konjen RI Yudi Triantoro memberikan sambutan hangat. Ini kali pertama rumah beliau didatangi langsung ratusan warga. Apalagi ia baru menjalankan amanah sebagai orang nomor satu di KJRI sejak akhir September 2023 silam. Tentu momen ini juga pas buat masyarakat Indonesia yang ingin kenal lebih dekat dengan Pak Yudi sekeluarga.

Sambutan Konjen RI Frankfurt Antonius Yudi Triantoro

Kemudian, karena banyaknya orang dan cuaca cerah banget hampir 20 derajat Celcius, saya pengen cepat pulang dan berganti pakaian yang lebih santai, kayak lebaran di Indonesia ya. Setelah itu lanjut jalan-jalan dengan teman-teman Indonesia ke pusat kota. Sayangnya, kami-kami cuma ngopi bukan ngebakso bareng hihihi.

Menyempatkan masakan lebaran di rumah

Sebelumnya, saat momen Idulfitri Alhamdulillah bisa masak bareng teman-teman Indonesia yang ada di sekitaran Frankfurt. Kami membuat opor ayam dan sambal goreng kentang-ati ayam. Meski sederhana, kebersamaannya yang bermakna. Lalu salat id dilaksanakan di Mainfeld Kulturzentrum pada hari Rabu, 10 April mulai pukul 9 pagi.

Suasana salat id banyak jemaah yang hadir

Ternyata tahun ini yang salat id banyak banget, karena yang hadir tidak hanya dari sekitar kota Frankfurt, tetapi juga dari jauh, salah satunya teman saya Annisa Rezki yang datang dari kora Cologne (Köln). Ia berangkat jam 6 dan ketinggalan kereta cepat 1 detik. Ia pun lantas beli tiket lagi seharga 60 euro atau Rp1.020.000 karena tiket 20 euronya hangus. Sedih 🙁

Annisa Rezki (paling kiri), pelajar Köln yang rela Salat ie di Frankfurt

Anyway, tahun ini merupakan lebaran ketiga saya sebagai perantau di Jerman. Perasaannya secampur aduk, di suatu sisi kangen keluarga dan suasana hari Raya di Tanah Air. Namun yang bikin senang adalah terbebas dari pertanyaan “kapan nikah?” Hehehe.

Satu tanggapan untuk “Cerita Lebaran dari Frankfurt Jerman: Bebas dari Pertanyaan “Kapan Nikah?”

  • 21 April 2024 pada 15 h 32 min
    Permalink

    Hahahahaha kak Ollie ada2 aja!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *