Memperingati 76 tahun Nakba, Aksi Manifestasi Pro-Palestina di Plaça Universitat

Catatan Caesar Marga Putri

Hari ini, 15 Mei, kita memperingati 76 tahun Nakba di Palestina. Peristiwa ini ditandai dengan pembantaian dan pengusiran ratusan ribu warga Palestina dari rumah mereka oleh pasukan Zionis. Terjadi pengusiran massal di mana ratusan ribu penduduk Palestina dibantai, rumah-rumah dihancurkan, dan desa-desa ditinggalkan. Ilan Pappé, sejarawan Israel yang kini tinggal di Inggris, dengan tegas menyebutnya “Is an operation of ethnic cleansing which was a systematic expulsion of Palestinians in order to de-Arabize Palestine and create, on its ruins, a Jewish state in 1948.”

(“Ini adalah operasi pembersihan etnis yang merupakan pengusiran sistematis orang Palestina untuk mengurangi unsur Arab di Palestina dan menciptakan, di atas reruntuhan tersebut, sebuah negara Yahudi pada tahun 1948”)

Buku-bukunya seperti “Ten Myths about Israel” dan “The Ethnic Cleansing of Palestine” sangat penting dibaca bagi mereka yang belum memahami sepenuhnya genosida yang masih terus berlangsung hingga saat ini.

Sumber: Ten Myths about Israel

Berdasarkan beberapa sumber, serangan pertama terjadi di desa Balad al-Sheikh, di sebelah timur kota pelabuhan Haifa, di mana 60 hingga 70 warga Palestina dilaporkan tewas pada tanggal 31 Desember 1947. Saat itu, pasukan Zionis menargetkan pembunuhan terhadap pria dewasa. Setelah pembantaian tersebut, pada tanggal 7 Januari 1948, penduduk desa melarikan diri mencari tempat yang aman.

Sumber: Aljazeera

Peristiwa pembantaian penduduk Palestina terus dilakukan di bulan-bulan selanjutnya. Tercatat tanggal 15 Februari meledakkan beberapa rumah di desa Saasaa dan membunuh puluhan penduduknya. Pada tanggal 9 April di tahun yang sama, lebih dari seratus penduduk laki-laki, wanita dan anak-anak dibantai di desa Deir Yassin, sebuah desa yang makmur di pinggiran Jerusalem. Korbanya didominasi perempuan dan anak-anak. Hingga pada akhir April 1948 pasukan Zionis menduduki wilayah-wilayah tersebut. Tidak sampai disitu Zionis mulai membantai kembali penduduk Palestina pada tanggal 30 Oktober 1948, pasukan Zionis meledakkan sebuah bangunan yang digunakan untuk berlindung para penduduk, dan membantai hampir seratus orang yang di dalamnya.

Kejadian di tahun 1948 ini sebagai awal dimulainya Nakba. Nakba sendiri adalah bahasa Arab yang berarti bencana besar atau peristiwa yang sangat buruk (catastrophe). Peristiwa Nakba bahkan sampai detik ini masih dilakukan oleh Zionis yang didukung aliansinya seperti Amerika serikat sebagai sponsor utama dan beberapa negara Eropa yang bergabung. Hari ini sudah lebih dari 76 tahun, Zionis masih melakukan pembantaian terhadap rakyat Palestina secara brutal dan terus menerus. Bahkan saya pribadi selama berada di Spanyol, pernah mengikuti aksi mengecam serangan brutal Zionis di tahun 2022.

Tepat hari ini pula, student union melakukan manifestasi pro-Palestina di Plaça universitat, sebagai rangkaian aksi yang sudah dilaksanakan sejak Senin, 6 Mei 2024. Tidak ada perkuliahan yang dilakukan di gedung pusat seperti biasanya, pintu depan kampus tertutup rapat. Bendera Palestina raksasa yang bisanya di kibarkan dari lantai dua kampus, diarak oleh mahasiswa saat manifestasi. Tidak hanya mahsiswa, kelompok pensiunan yang sangat aktif menyarakan Pro-Palestina juga mengikuti dengan rompi orangenya.

Satu hal yang membuat saya bergetar, dalam postingan Instagram yang diunggah oleh Student Union tersebut:

Here is our strength: in the street and in the fight!

Generalitat, Spanish Government and Universities: enough complicity! We want the immediate break of all economic, military and political relations with the killer state of Israel!

Sebuah unggahan dari kaum muda terpelajar yang harusnya cukup menampar bagi mereka yang masih menutup mata atas pembantaian rakyat Palestina selama 76 tahun tersebut.

Satu tanggapan untuk “Memperingati 76 tahun Nakba, Aksi Manifestasi Pro-Palestina di Plaça Universitat

  • 19 Mei 2024 pada 21 h 47 min
    Permalink

    Saya salut dengan orang2 seperti yang diceritakan mbak ini, padahal mereka bukan Muslim namun rasa persaudaraan dan kemanusiaan mereka lebih kuat dibandingkan orang islam di Indonesia, sungguh sangat prihatin.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *