Restoran Padang di Belanda Ini Membuat Warga Setempat Ketagihan Masakan Pedas

10 tahun berjualan nasi padang di berbagai acara dan selalu laris, sejak Oktober 2019, Suprapti atau lebih dikenal dengan nama Lapek Jo, memutuskan untuk membuka restoran padang di Den Haag , Belanda. Hasilnya dalam 1 tahun ‘Waroeng Padang Lapek’ ini sudah membuat banyak warga asing tergila-gila masakan pedasnya.

Surat Dunia (SD) : Bagaimana timbul ide membuka restoran padang? Apalagi kita tahu masakan Padang memiliki cita rasa pedas.

Lapek : Idenya timbul karena Masakan Padang sesuai rasa Indonesia belum ada di Europa juga untuk mengobati rasa rindu bagi orang-orang Indonesia disini yang susah sekali mendapatkan menu ‘Nasi Padang’. Di Eropa kebanyakan selama ini mereka hanya mengenal ‘masakan Jawa’ yang manis-manis. Nah kali ini kami hadir dan memperkenalkan masakan dari daerah lain di Indonesia. Dengan cita rasa yang pedas dan gurih. Terutama ‘Rendang Padang’. Dan saya selalu berusaha untuk menyajikan masakan yang autentik.

Bukan hal yang mudah membuka sebuah restoran di sini.

SD : Tadi anda menyebutkan membuka restoran sangat sulit, apakah dari segi administrasinya atau bahan-bahannya ?

Lapek : Membuka usaha di Eropa itu tidak mudah banyak sekali peraturan yang harus ditaati. Ini bukanlah hal yang mudah dan murah buat saya. Perlu pemikiran yang matang, hati-hati dan sabar. Syarat pertama harus ada sertifikat kebersihan. Makanan dan temperatur makanan yaitu kadar suhu panas dingin nya makanan harus sesuai dengan protokol kesehatan. Dan begitu juga untuk ijin dll semua memang perlu pemikiran yang matang.

SD : Restoran ‘Waroeng Padang Lapek’ menjual berbagai macam makanan Padang yang sulit didapat di Eropa. Bagaimana anda bisa mendapatkannya sulitkah?

Lapek : Bahan makanan sebagian didapat dari leveransir (perusahaan penyalur makanan) disini yang disuplay dari Indonesia dan Thailand. Tapi untuk jengkol dan cumi dari Indonesia. Banyak sekali yang suka jengkol di sini.

SD : Saat membuka restoran, sasarannya apakah untuk orang Indonesia ?

Lapek : Mulanya sasaran utama buat orang indonesia yang berdomisili disini. Lambat laun orang-orang indonesia di berbagai negara di Eropa dan orang eropa asli banyak yang ingin mencicipi ‘Nasi Padang’ masakan kami. Alhamdulillah, masakan Padang ini digemari semua bangsa, bukan saja Indonesia khususnya tapi bangsa lain juga. Saya sering kedatangan turis dari Suriname, Prancis, Jerman, Belgia, Zwitserland, dan Belanda tentu saja pada umumnya. Turis dari Australia, USA, Jepang, dan masih banyak negara lainnya ketika liburan ke Belanda banyak yang sengaja mencari ‘Wareong Padang Lapek ini’, saya sangat bersyukur sekali kerja keras ini bisa memberikan hasil yang sangat baik.

SD : Tadi anda menyatakan memang ingin memberikan cita rasa masakan yang autentik, bahkan sampai bangunannya pun cukup autentik, siapa yang merancangnya?

Lapek : Bangunannya sebenarnya tidak ada yang terlalu dirubah interiornya, hanya di perbaiki saja. Namun untuk dekorasi memang saya memilih sesuai dengan konsep masakan padang. Restauran Padang rata-rata kan selalu memiliki bangunan unik. Dekor dibantu oleh teman saya dari Indonesia.

SD : Menurut anda apa yang membuat restoran anda bisa sukses hanya dalam waktu 1 tahun sudah menjadi incaran para turis Indonesia yang ke Belanda bahkan untuk orang asing yang rindu dengan masakan Padang ?

Lapek : Saya rasa karena tadi itu, masakan Padang kita tidak disesuaikan dan lidah orang eropa disini pada umumnya. Dalam arti tidak saya sesuaikan dengan lidah orang asing, buat saya pedas ya pedas, harus autentik. Dan justru karena itulah saya rasa yang membedakan masakan saya dengan masakan Indonesia lainnya. Misalnya Rendang Padang yang terkenal dengan cita rasa yang pedas dan gurih. Dan hasilnya diluar perkiraan, beberapa media cetak di Belanda menulis Artikel tentang Betapa authentiknya masakan Padang ini dan nikmatnya. Di Indonesiapun sama beberapa media sudah banyak yang menuliskan mengenai Waroeng Padang Lapek’ ini.

Saya tidak bisa seperti ini tanpa izin dari Allah SWT dan keluarga, kerabat juga teman-teman saya. Makanya saya sangat berterima kasih kepada mereka semua. Tak lupa buat manager saya, Theodhora zitmans.

SD : Di masa pandemi ini bagaimana dengan usaha anda ?

Lapek : Dalam Pandemi ini kita tetap buka walaupun agak susah pemasarannya. Take away salah satu cara yg ditempuh. Selain itu saya menjual dengan mengirim makanan ke berbagai kota di Belanda dengan kata lain Go Food, Go Drive setiap minggu. Alhamdulillah itu bisa membantu pemasukan selama masa Pandemi.

SD : Service pelanggan saya baca kunci dari keberhasilan ‘Waroeng Padang Lapek’?

Para pembeli dan pelanggan memang selalu bilang kepada kami “jangan berubah rasanya tetap pedas.” “Menu tetap berbahasa Indonesia jangan di rubah.” Dan saya setuju karena ini salah satu komunikasi klien dengan kami, sehingga kalau ada yang mereka tidak mengerti dapat dijelaskan langsung, jadi masakan memang saya tidak rubah namanya dalam bahasa asing, tetap saya tulis misalnya rendang jengkol ya tetap rendang jengkol tidak jadi bahasa lainnya. Ini salah satu usaha saya juga memperkenalkan nama masakan Indonesia di luar negeri.

SD : Dengan kesuksesan yang anda raih sekarang ini apa yang ingin anda lakukan selanjutnya ?

Lapek : Ini adalah mimpi saya. Sebelumnya selama 10 tahun saya berdagang ‘Nasi Padang’ di berbagai acara kecil. Seperti ikutan bazar, dan Pasar malam Indonesia dan Europa. Perlu perjuangan dan kerja keras untuk mewujudkannya dan ini belum selesai. Karena ini baru awal dari sebuah perjuangan di Negara orang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *