Kunjungi Jejak Chernobyl Ukraina di Kota Pripyat yang Ditinggalkan

Catatan Dara Arief

Jika mendengar kata ‘wisata’ tentu saja kita membayangkan kunjungan ke situs/lokasi yang terkenal atau perjalanan ke tempat yang indah. Namun tidak lah selalu demikian, karena wisata kami kali ini adalah berkunjung ke sebuah tempat yang pernah mengalami bencana besar yang mendunia di masa lalu. Untuk alasan keamanan dan keselamatan, wisata ini dikelola oleh lembaga perjalanan khusus. Wisata sejarah yang langka, terlebih ketika saat ini Ukraina masih berada dalam situasi rawan karena invasi Rusia masih berlangsung sehingga pergerakan manusia sangat dibatasi.

Mungkin sebagian besar dari pembaca masih mengingat bencana besar meledaknya reaktor nuklir di Chernobyl, Ukraina yang pada saat itu masih tergabung dalam Union of Socialist Soviet Republics (USSR). Ketika tengah malam 26 April 1986, saat dilakukan pengetesan pada kemampuan turbin pendingin reaktor nuklir, terjadilah kecelakaan berupa ledakan besar dan diikuti kebakaran yang berlangsung selama 10 hari. Yang lebih parahnya adalah bahaya yang tidak tampak, yaitu kontaminasi radioaktif yang dapat menyebar ke seluruh USSR dan bahkan ke Eropa, baik melalui udara dan angin yang bertiup mau pun melalui tanah dan air. Tentu saja hal ini menimbulkan kekuatiran besar di wilayah sekitar bencana.

Kota Pripyat adalah sebuah kota modern kala itu dibangun dan dihuni sejak tahun 1971. Berlokasi di dekat reaktor dan umumnya dihuni oleh para karyawan reaktor beserta keluarganya. Sebagai industri strategis dan merupakan proyek besar serta dianggap mampu menunjukkan daya saing USSR di kancah internasional, kota pendukung ini dibangun dengan sebaik-baiknya. Kota dilengkapi dengan jalan dua jalur dan taman-taman, hotel, apartemen hunian, tempat hiburan, rumah sakit, sekolah dan bahkan arena bermain dengan bianglala raksasa. Pada saat itu kota ini dihuni oleh sekitar 47.000 jiwa. Walau pada awalnya pemahaman tentang dampak bahaya nuklir belum disadari sepenuhnya, ledakan yang terjadi tentu saja menimbulkan kepanikan karena seluruh warga harus segera dievakuasi ke luar dari kota, baik ke Kyiv mau pun kota-kota lainnya. Penghuni awalnya berpikir bahwa mereka akan kembali lagi dalam waktu dekat dan tidak ada yang menduga bahwa pada kenyataannya mereka tidak pernah bisa mendiami kotanya kembali. Pada saat kecelakaan terjadi, korban pertama yang jatuh adalah karyawan reaktor yang terdampak langsung serta para petugas pemadam kebakaran. Setelah berjalannya waktu, beberapa korban lainnya mulai merasakan dampak dari kontaminasi ini dan bahkan menelan korban jiwa. Beberapa di antara mereka diterbangkan ke Swiss dan negara lainnya untuk menjalani pengobatan.

Wisata kami kali ini diorganisir oleh Dirjen Pelayanan Misi Diplomatik (GDIP) Kementerian Luar Negeri Ukraina. Sebagian besar pesertanya adalah para diplomat negara sahabat serta karyawan organisasi internasional yang berada di Kyiv. Dengan menggunakan bus milik GDIP, kami dibawa ke arah utara dimana kota Chernobyl berada sekitar 150-an kilo meter dari pusat kota Kyiv. Jalan dua jalur yang kami lalui tidak terlalu besar namun tergolong cukup baik yang dipenuhi hutan cemara di kiri-kanannya. Wilayah utara ini berbatasan langsung dengan negara Belarus. Saat invasi Rusia pada Februrai 2022 lalu, dari arah inilah para tentara musuh memasuki Ukraina dan menuju ke ibu kota. Ketika melewati jembatan yang sedang dalam perbaikan, pemandu wisata kami menjelaskan bahwa hancurnya jembatan ini terjadi karena invasi tersebut. Agak merinding membayangkan bagaimana peristiwa yang sebenarnya terjadi kala itu.

Wilayah terkontaminasi dibagi dalam dua sektor: radius 30 km dan radius 10 km dari tempat terjadi ledakan. Pada saat memasuki zone radius 30 km, kami harus turun dari bis dan menjalani pemeriksaan (check point) satu per satu. Ketika terjadi ledakan didalam radius ini, konon hutan masih tampak kehijauan. Namun pada radius 10 km, kala itu daun-daun pepohonan berubah menjadi kemerahan. Bahkan sebuah wilayah yang terpapar radioaktif cukup besar yang disebut ‘Red Forest’, saat ini ambang kontaminasinya masih belum tergolong aman. Menurut standard kontaminasi yang berlaku, wilayah Chernobyl baru dinyatakan bebas/bersih pada tahun 2065 atau setelah 80 tahun sejak terjadi bencana. Sebelum hari keberangkatan, penyelenggara memberikan notifikasi pakaian yang harus dikenakan serta beberapa SOP lainnya mengurangi resiko radiasi. Kami sendiri malah membawa pakaian ganti untuk berjaga-jaga jika sendainya berdasar pengukuran tingkat kontaminasi pada tubuh melebihi batas ambang!

Memasuki zone radius 10 km, kami melewati bekas-bekas pabrik yang tampak terbengkalai karena unit pembangkitnya memang ada beberapa buah. Ketika tiba di lokasi unit reaktor yang akan kami kunjungi, kami di sambut oleh Deputy Direktur Unit ini. Wakil dari rombongan yaitu Dubes RI dan Dubes Pakistan diberi kesempatan untuk meletakkan karangan bunga sebagai penghormatan kepada mereka yang telah gugur.

Saat memasuki gedung reaktor nuklir ini, kami kembali menjalani pemeriksaan di check point. Di daiam area reactor, pengunjung wajib mengenakan jas panjang berbahan plastik, penutup kepala/masker/sarung tangan, sepatu khusus serta dikalungkan ‘dosimetry’ atau alat pengukur tingkat radiasi. Kami dibekali beberapa petunjuk keamanan serta informasi tentang lokasi pengambilan foto yang boleh dan tidak. Deputi Direktur Unit menjelaskan usaha-usaha yang mereka lakukan agar dampak kontaminasi bisa dikurangi. Salah satunya dengan melapisi dinding pabrik dan lantai dengan lapisan metal khusus. Awalnya kami dibawa memasuki ruang kontrol yang peralatannya masih tampak lengkap seperti papan kontrol, layar monitor dan pesawat telepon model tahun 80-an. Selanjutnya kami digiring melewati lorong-lorong panjang dan sempit menuju lokasi ‘sarchopagus’. ‘Sarchopagus’ adalah bangunan berupa ‘dome’ raksasa berbentuk setengah lingkaran yang dibangun untuk menutupi area/puing-puing bekas ledakan reaktor dan melindunginya dari cuaca sehingga dapat mengurangi kontaminasi radioaktif. Bekas ledakan itu sendiri sebenarnya sudah ditutup dengan balok-balok semen yang tebal. Dari alat pengukur radisasi yang kami kenakan terlihat peningkatan angka radiasi. Selesai kunjungan dari ‘sarchopagus’ ini kami diminta untuk memeriksa kadar kontaminasi di dalam tubuh dengan memasukan kedua tangan ke dalam alat indikatornya. Bersyukur ternyata tingkat kontaminasi setiap anggota rombongan dinilai aman.

Wisata dilanjutkan dengan mengunjungi kota Pripyat. Pemandu menunjukan foto situasi kota sebelum terjadi ledakan yang memperlihatkan keindahan dan kemegahan kotanya. Pada saat ini yang kami saksikan adalah bekas-bekas kota yang tampak kusam, tidak terawat, serta terkesan menyeramkan layaknya seperti suasana kota hantu di film-film. Kami menyaksikan gedung-gedung tinggi terbengkalai, kaca-kaca jendela yang pecah, bianglala yang berkarat dimakan waktu, supermarket yang masih lengkap dengan konter pembayarannya, gedung tinggi milik pemerintah yang kusam dengan lambang palu arit yang berada di puncaknya, jalan raya yang aspalnya sudah terkikis dan bahkan sebagian sudah tertutup semak serta sebuah pelabuhan kecil penuh belukar yang menghadap sebuah teluk yang jika sungainya ditelusuri sekitar 20 km ke utara akan membawa kita menuju perbatasan Belarus.

Rumah sakit berada tidak jauh dari wilayah ini dan menurut informasi pemandu tingkat radiasinya tergolong tinggi karena beberapa pakaian dari petugas pemadam kebakaran masih tersimpan di ruang bawah tanah. Kami hanya dibawa melalui lokasi yang tergolong aman dari kontaminasi dan dilarang keras memegang segala sesuatu. Saya sempat mengambil beberapa foto yang membandingkan suasana kota kala ledakan belum terjadi dan suasananya pada saat ini. Gambaran yang tragis…

Kunjungan wisata kami kali ini menimbulkan kesan yang mendalam. Ini adalah sebuah contoh bagaimana ambisi manusia yang tidak diimbangi oleh antisipasi kegagalan yang memadai yang dapat mengakibatkan bencana serius. Ini juga merupakan pembelajaran bahwa bencana yang terjadi karena faktor manusia (‘human error’) dapat mengakibatkan tragedi besar yang menelan korban. Manusia terpaksa meninggalkan tempat tinggal dan kehilangan mata pencahariannya, termasuk para petani yang telah menghuni sekitar area ini dari generasi ke generasi berabad- abad. Sisa kerusakan yang ditimbulkannya pun tidak mudah dihilangkan dan akan diwarisi pada generasi selanjutnya, setidaknya selama puluhan tahun mendatang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *