HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT V (77A)

Karya RD. KEDUM

Goa ini terasa senyap. Sangat senyap. Yang terdengar hanya nafas dan detak jantungku saja. Baru beberapa saat aku di sini. Aku mencoba fokus untuk bertahan duduk di puncak batu sembari mengikuti aliran udara yang kuhirup dengan zikir. Pelan-pelan, aku rasakan nikmatnya ketika udara ke luar masuk. Ada daya halus mengalir ke seluruh tubuh. Aku pasrahkan semuanya hingga masuk ke dalam wilayah paling nyaman. Sungguh ketika kuikuti setiap aliran nafas yang ke luar dan masuk hanya ada dzat Allah Sang pemberi hidup maka tak ada gunanya kesombongan meski hanya sebesar biji zarah.

Tanpa terasa, air mataku mengalir deras. Senyap sepi seperti ini memudahkan aku bercermin pada diri. Aku dengan leluasa menelanjangi batinku. Sungguh sebagai makhluk aku jauh dikatakan sempurna. Gambaran dosa seakan menari-nari di benak. Semakin merasa banyak dosa semakin kencang pula zikirku hingga menggetarkan jiwa. Ketakutan yang kumiliki kini adalah ketakutan ketika aku jauh dan tidak dipedulikan Sang Maha. Ketakutan yang paling besar kini adalah ketakutan kala asma itu lenyap meski hanya sekejap dalam batinku.

Aku bercermin sepuas-puasnya. Kini kulihat sosokku. Aku melihat diriku sosok yang zolim. Iya, aku kerap zolim tak hanya pada diri sendiri, tapi juga pada orang lain. Aku kerap memaksakan kehendak diiringi pula hawa nafsuku sebagai manusia. Apa yang pernah aku lakukan terlintas semuanya. Suatu kali tiba juga pada puncak dimana aku merasa paling tidak sempurna, kembali aku menangis sesegukkan. Rasanya belum banyak kebaikan yang kulakukan. Yang ada adalah kesombongan yang kerap kupamerkan pada makhluk-makhluk yang lemah tak berdaya.

Saat sendiri dalam sepi yang paling senyap seperti ini. Di ruang yang gelap. Tiba-tiba aku ingat kematian. Apa yang bisa kubawa saat sendiri di dalam ruang gelap ini, kecuali pasrah. Huu Allah Huu Allah. Huu Allah aku berusaha masuk dalam wilayah yang paling kudus.
“Bersihkan dan luruskan hatimu.” Suara batinku pelan. Aku luruskan niat kembali bermunajat pada Sang Khalik saja. Namun kembali cerminan diri muncul. Di hadapanku ada sosokku yang jarang sekali memikirkan akibat tindakan yang pernah kulakukan. Aku melihat sosok yang egois. Aku melakukan sesuatu dan menurutku sudah paling baik, padahal apa yang kulakukan paling baik menurut ukuran diriku sendiri. Belum tentu memberikan kebaikan untuk orang atau makhluk lain. Kebaikan itu hanya penilaian diriku pribadi. Air mataku kembali mengalir. Alangkah sombongnya aku ketika merasa semua tindakanku sudah yang terbaik. Alangkah sombongnya aku ketika muncul perasaan aku bisa dan menganggap kecil semua persoalan.

Dulu pernah terbersit, suatu saat aku akan tunjukan pada semua orang jika aku mampu menumpas kebatilan. Aku mampu melakukan apa yang tidak semua manusia bisa. Lalu muncul perasaan bahagia, bangga, senang dipuji oleh orang mau pun oleh makhluk-makhluk asral terutama Kakek, Nenek, dan Puyang leluluhurku. Setelah ditempat gelap dan sendiri seperti ini, patutkah aku bangga? Apa yang harus kubanggakan? Membanggakan apa? Pada hakikatnya manusia tidak mempunyai apa-apa. Bahkan ruh yang ditiupkan bukan milik kita. Bagaimana jika ruh ini diambil oleh pemiliknya. Aku terbayang liat lahat yang gelap dan sempit. Oh!

Dalam keseharianku, aku selalu bergaul di dua alam. Dalam perjalanan itu tidak semuanya mulus, tanpa masalah. Nyaris setiap hari aku berurusan dengan makhluk asral, bertempur dan berusaha menakhlukan. Kala teringat ribuan pertempuran yang kulakukan sejak kecil hingga kini, oh alangkah sombongnya aku, dengan mudahnya aku menghukum bangsa jin, lalu langsung menyimpulkan mereka makhluk fasik. Sering kali mereka aku perlakukan tidak manusiawi tanpa memberi kesempatan mereka untuk tobat atau koreksi diri. “Astaghfirullah adziim” Aku membatin di sela zikir nafas yang terus kuasah tanpa putus. Aku kembali memusatkan jiwa dan ragaku mengalir seirama udara yang ke luar dan masuk, seirama dengan detak jantung, mata, mulut, jantung, hati, otak, dan semua organ tubuhku kuajak berzikir. Bahkan darah yang mengalir, nadi yang berdetak, semuanya meresap dalam udara yang kuhirup lewat hidung, lalu kukeluarkan lewat mulut. Masuk dan ke luar dengan menyebut nama Allah.
“Yaa Allah, jika karena kesombongan -kesombongan yang pernah hamba lakukan menjadi penghalang hamba untuk dekat pada-Mu, maka cabutlah semua kemampuan yang hamba miliki.” Aku tersedan bukan karena sedih. Namun ada rasa haru, bahagia karena aku menemukan sebuah gelombang cahaya yang berpendar damai dalam batinku.

Huu Allah Huu Allah Huu Allah Huu Allah..
Selanjutnya aku merasakan jika tidak hanya detak jantung dan hentakan nafasku saja yang berzikir, namun dinding, batu, debu, bahkan suasana gelap pun turut berzikir bersamaku. Aku seakan berada dalam alam yang tak pernah kulihat sebelumnya. Cahaya membentuk gelombang menaungi seisi goa. Goa ini terang penuh cahaya. Aku semakin nyaman dibuatnya. Asma itu terus mengalir, aku lupa dengan segala macam aktivitas dunia. Aku lupa jika aku masih berada di alam fana. Semakin khusuk, semakin deras energi pasrah membumbung dalam jiwa. Semakin jauh tenggelam dalam zona yang paling nyaman. Dalam suasana seperti ini, rasanya aku enggan untuk kembali pada hiruk-pikuk dunia. Inilah dunia yang sebenarnya. Allah terasa begitu dekat di relung jiwa.

“Terus, rasakan dan ikuti aliran nafasmu alirkan ke seluruh tubuh, ke ujung jari, ke ujung rambut, ke detak jantung, ke hati. Nikmati keteduhannya, pusatkan jiwa dan ragamu pada-Nya saja. Kau akan merasakan getar halus itu, nikmati, pastikan, itulah daya kekuatan zikir tanpa diperintah oleh otak dan hatimu.” Suara batin itu terus membimbingku. Aku melakukannya sepenuh jiwa. Pelan namun pasti aku seperti melayang. Aku seperti berada di dalam ruang yang maha luas. Tubuhku terasa terangkat makin tinggi.

Aku terus mengalir dalam zikir dan pasrah. Ketika jiwaku melesat makin tinggi, di sekitarku gugusan bintang dan bulan. Semua terlihat berputar sangat cepat. Aku ikut melayang di antara bintang-bintang. Selanjutnya aku merasakan ikut berputar mengelilingi matahari bersama planet kecil maupun besar. Aku berada di luar angkasa. Aku terus berzikir mengikuti daya yang menyeret jiwaku pada gerakan patrap berputar itu. Semakin kencang, semakin kencang. Lalu pelan-pelan berhenti ketika aku kembali pada pusat kesadaran. Aku kembali menarik nafas dengan Huu dan mengeluarkannya dengan Allah.

Jika sebelumnya aku hanya mendengarkan detak jantung, dan nafasku, lalu suara dinding, batu, debu, sekarang suara tetes air yang menggemakan zikir. Semua kembali serasa serentak berzikir bersamaku. Akhirnya goa ini tidak lagi menjadi ruang sunyi. Justru aku merasakan ruang yang penuh cahaya dan asma Allah. Bentuk kenikmatan yang kurasakan selanjutnya, aku hanyut dalam suasana yang tak pernah kurasakan sebelumnya dan semua sulit untuk kuungkapkan dengan kata. Aku pasrah sepenuh jiwa.

Dalam sunyi kusadari. Meski manusia adalah makhluk yang paling mulia, namun tidak ada apa-apanya ketika dibandingkan dengan sebutir debu yang kita anggap makhluk yang paling tidak berdaya. Justru aku cemburu pada kekhusukannya. Dia tidak pernah memikirkan akan di lempar angin ke mana, namun dia terus berzikir menyebut asma Allah. Demikian pula angin, tidak peduli dia akan mengalir ke mana, namun dia pun terus berzikir menyebut Asma Allah.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Putri Selasih, bukalah matamu. Kau sudah dua hari dua malam di sini. Tugasmu selesai. Saatnya ke luar.” Suara seorang lelaki berdiri di bawah batu tempatku duduk. Meski aku belum membuka mata, namun aku tahu wajahnya bercahaya.
“Waalaikum Salam, Paman siapa ?” Ujarku masih dengan posisi semua dan mata terpejam.
“Aku Adam, utusan Puyang Bukit Selepah. Aku disuruh menjemputmu, Selasih.” Suaranya lembut berwibawa. Meski suaranya berenergi, namun hebatnya tidak menggema di dalam goa ini.

Pelan-pelan kubuka mata. Masya Allah, baru aku tahu ruang ini terang benderang bukan karena cahaya matahari apalagi lampu. Tapi cahaya itu muncul karena dinding, langit-langit goa yang berzikir. Ketika pertama kali masuk tempat ini pun terang benderang, namun aku belum sempat berpikir tentang sumber cahayanya.
“Tidak bolehkah aku minta izin barang sehari dua hari untuk tetap di sini, Paman?” Ujarku belum bangkit dari tempat dudukku setelah menjawab salamnya. Aku juga baru tahu jika di belakangku mengalir air bening tanpa mengeluarkan suara gemericik kecuali tetes air dan kuketahui tetes itu pun adalah zikir. Paman Adam menggeleng, sambil mengulurkan seruas bambu yang ditutup dengan daun pisang kuali.
“Minumlah, Puyang menyuruhku membawakan air ini untukmu.” Lanjut Paman Adam kembali. Aku menerimanya dengan suka cita.
“Terimakasih Paman, sebenarnya Aku tidak merasakan haus dan lapar, Paman” Ujarku membuka daun penutup ruas bambu. Paman Adam tersenyum.
“Ketika seseorang sudah mencapai dekat pada Sang Khalik, maka dia tidak akan merasakan haus dan lapar. Bahkan lupa pada segala yang berbau dunia. Kita merasakan kedamaian yang sulit untuk didefinisikan. Itulah nikmat yang tidak semua makhluk dapat sampai ke level itu, Selasih. Kuncinya ikhlas dan amanah” Lanjut Paman Adam kembali. Aku tercenung sejenak, terlepas apakah aku telah sampai di level yang Paman Adam maksud atau belum, yang jelas aku nyaman bahkan sangat nyaman.

“Turunlah Selasih, Paman akan mengantarmu pada Puyang” Paman Adam kembali mengingatkan melihat aku belum juga bergerak turun. Dengan berat aku mengubah posisi kakiku. Selanjutnya aku turun mendekat pada Paman Adam. Aku berjalan menuju air yang mengalir di belakang batu, aku mencuci tangan, membasuh wajah, dan berwudu. Tersentuh air langsung rasanya segar sekali. Aku merasakan semua pori-poriku merekah. Aku seperti hidup kembali di dunia fana. Aku berjalan di sisi kanan Paman Adam. Sementara gema zikir terus membatin sehingga pendengaran dan degup dadaku masih terus mendenyutkannya.

Aku dan Paman Adam menyisir lorong menuju pintu ke luar.
“Bagaimana dengan yang lain, Paman. Apakah mereka sudah ke luar dari goa ini?” Tanyaku setelah melewati goa-goa kecil di sisi dinding. Aku berhenti sejenak.
“Hanya Eyang Kuda saja yang masih berada di dalam goa. Beliau belum hendak ke luar, Selasih. Mungkin sepertimu, masih hendak berlama-lama dan nyaman dalam seperti.” Aku mengangguk pelan. Memang terasa berat untuk kembali ke alam nyata jika sudah menyatu dalam getar Illahi di batin kita. Ketika sampai ke lorong bibir goa, paman tidak mengajakku melaluinya. Justru beliau mengajakku untuk lurus lebih dalam ke goa berikutnya.
“Paman, bukankah pintu ke luar lewat sini. Kita mau ke mana?” Tanyaku.
“Ke tempat Puyang Bukit Selepah. Semua sudah berkumpul di sana.” Ujarnya. Akhirnya aku patuh saja. Kami memasuki lorong yang tidak berapa luas. Beberapa menit kemudian, aku melihat seberkas cahaya dari atas jatuh ke lantai goa. Aku mendongak ke atas. Benar, langit-langit goa bagian ini seperti sumur. Aku melihat awan berarak dan angin masuk sedikit kencang. Tidak jauh dari situ ada tangga batu sedikit berliku ke atas. Aku diajak paman Adam melangkah menaiki jenjang tangga satu-satu. Batu alam seperti ditata sedemikian rupa, rapi sekali meliuk setengah lingkaran.
“Indah sekali tempat ini, Paman.” Ujarku berdecak kagum. Aku tidak melihat sedikit pun sampah atau debu baik di lantainya maupun di beberapa batu berbentuk ubin penyangga dinding tangga yang berwarna hitam.kebau-abuan. Semuanya nampak bersih dan licin. Jika manusia yang melakukan pekerjaan seperti ini pasti manusia itu adalah manusia yang memiliki skill dan tekhnologi yang tinggi.
“Goa ini alami, Selasih. Ini goa alam yang memang diciptakan oleh Allah SWT. Lalu ditata sedemikain rupa agar lebih indah dan nyaman sesuai kebutuhan, maka bangsa jin-lah yang berperan. Di bagian atas goa ini, banyak infaq dari jin muslim dari berbagai penjuru, terutama dari Timur Tengah, Selasih.” Tutur Paman Adam kembali.

Sekarang aku dan paman Adam sudah mulai menaiki tangga. Sama seperti lubang yang menembus bukit hingga bisa melihat langit, tangga ini pun menuju sebuah lubang besar yang menganga. Aku tak mampu berucap ketika sampai di ujung tangga, kukira bibir goa ternyata sebuah ruangan yang luas berdinding batu pualam berwarna gading, dengan lentera sepanjang sisinya. Beberapa bagian seperti lampu hias memantulkan cahaya keemasan. Indah sekali.

“Mengapa aku seperti tidak asing dengan tempat ini, Paman. Hawa tempat ini rasanya pernah kuhirup,” ujarku langsung merasa sangat familier dengan suasananya.
“Tentu saja Selasih. Ini adalah masjid di perut Bukit Marcawang. Goa dari Bukit Selepah tembus ke masjid di perut bukit Marcawang. Kau cukup lama berada di dalam sini beberapa waktu lalu.” Lanjut Paman Adam. Aku masih tak bisa berpikir. Sebab secara logika antara Bukit Selepah dan Bukit Marcawang jaraknya cukup jauh. Bagaimana masjid ini bisa menghubungkan dua perut bukit itu. Bahkan di bawahnya ada gua tempat tirakat? Dulu ketika aku dibimbing Puyang yang hingga kini belum kuketahui namanya, kami berjalan melalui jembatan yang terbuat dari akar menuju pintu gerbang masjid yang luas, di balik air terjun. Apakah masjid ini memiliki seribu pintu? Sehingga bisa masuk dari arah mana saja? Aku membatin.

“Paman, benar. Aku pernah di dalam masjid ini. Aku pernah diajak berjalan mengelilingi masjid lalu disuruh duduk dan tidak boleh pindah di dekat pilar masjid yang paling tengah. Siang malam aku berada di situ, Paman.” Ujarku takjub. Peristiwa beberapa tahun lalu kembali terbayang. Di sini pula awal mula aku kenal Putri Bulan ketika dengan sigap aku di hentikannya membantu bertempur lalu dibawanya kemari ketika aku melawan pasukan Banyuwangi. Bagaimana ketika aku melihat sosok Putri Bulan sebagai perempuan pemberani ikut pemimpin peperangan bersama pasukan yang lain, hingga akhirnya pasukan Banyuwangi mundur dan kalah. Oh, aku jadi teringat bayak juga nenek gunung dari tanah Minang, Bengkulu, dan Jambi, bersama-sama dengan nenek gunung dari Besemah mengusir Pasukan Banyuwangi yang belakali-kali hendak menculikku. Semua menjadi terbayang. Aku menjadi rindu mereka. Mereka adalah makhluk-makhluk yang turut berjasa menyelematkan aku.

Aku masih terkagum-kagum meski ini kali ke dua berada di sini. Paman Adam mengantarku ke tempat wudu perempuan.
“Wudulah kau di sana, Selasih. Sudah wudu kau kemari lagi.” Ujarnya. Aku segera menuju tempat wudu yang paling ajaib kutemui. Air pancurannya selalu mengucur dan jatuh namun tidak tahu meresap ke mana. Karena aku tidak melihat selokan dan bekas wudu mengalir di bawahnya. Beberapa perempuan ikut wudu bersamaku. Kami saling pandang dan tersenyum menghadap air pancuran masing-masing. Usai berwudu aku segera menghampiri paman Adam. Akhirnya kami kembali berjalan menuju barat. Aku tak mampu berbicara kala mengingat bagaimana ketika aku hanya duduk berzikir lalu wudu, salat, dan berzikir lagi di dekat tiang yang paling besar di bagian perempuan itu. Tiang itu masih tegak kokoh menjadi saksi peristiwa yang paling genting dalam hidupku. Aku tidak boleh pindah-pindah dari sana dalam waktu yang cukup panjang. Pelan-pelan air mataku mengalir hangat. Aku kembali terharu mengenang masa itu.

Paman Adam menggerakkan tangannya di hadapanku. Dalam sekejap aku telah berubah memakai gamis dengan kerudung panjang. Semua tubuhku tertutup kecuali wajah. Bahkan punggung dan telapak tanganku ikut tertutup.
“Kau suka warna baju ini, Selasih?” Ujar paman Adam. Aku menatap baju dan jilbab panjangnya berwarna hijau toska lebut sekali.
“Alhamdulilah, suka sekali Paman.” Ujarku sembari melihat-lihat bentuk dan warnanya. Tidak ada jahitan. Apalagi sambungan. Aku tidak tahu bahannya terbuat dari kain apa. Namun yang jelas aku sangat nyaman mengenakannya. Ini busana ke dua yang kupakai diperoleh dari tempat ini.
“Sebelumnya aku sudah punya baju dari sini, Paman. Warna Gading.” Ujarku dengan mata berbinar.
“Baru dua, Selasih. Kau akan dapatkan tujuh baju dengan warna yang berbeda sesuai dengan waktu. Entah berapa tahun lagi, kau akan kembali ke sini, ditatar kembali, lalu diberikan pakaian lagi.” Ujar Paman Adam.
“Lalu kapan aku boleh memakai pakaian itu, Paman. Suatu kali baju pertama pernah ingin kupakai namun dilarang Macan Kumbang. Katanya belum waktunya. Kukira pakaian itu harus kupakai ketika aku kemari.” Ujarku.
“Benar, belum waktunya. Suatu saat Puyanglah yang akan menjelaskan padamu. Sekarang baru dua baju. Untuk mendapatkan dua itu perlu berapa tahun? Kurang lebih tiga tahun bukan?” Kata Paman Adam lagi. Aku mengiyakannya. Masya Allah, artinya aku masih butuh lima belas tahun lagi untuk mengumpulkan tujuh baju dengan warna yang berbeda. Mengapa aku harus memiliki tujuh baju yang berbeda warna dan butuh waktu lama untuk mendapatkannya? Lalu aku harus tirakat terlebih dahulu? Rahasia apa di balik ini semua? Aku membatin.
“Belajarlah ikhlas, jangan biarkan batinmu didorong hawa nafsu untuk segera mendapatkan busana selanjutnya. Lalu ke dua, jika engkau tahu fungsinya masing-masing dari sekarang, engkau akan menjadi sombong seakan memiliki kekuatan yang semakin lama semakin tinggi, nanti dan hatimu bangga. Perbanyaklah istighfar.” Paman Adam mengingatkan. Aku buru-buru istighfar. Aku serasa seperti bayi lahir, ingin bersih tanpa noda.

“Selasih, duduklah kau bersama perempuan-perempuan itu. Lalu bertasbihlah sampai aku kembali memanggil.” Ujar Paman Adam.
“Berapa lama, Paman?” Tanyaku ingin tahu. Sebab katanya aku sudah ditunggu Puyang dan yang lain sudah kumpul. Mengapa aku masih disuruh bertasbih di sini.
“Ikuti saja, tekan perasaan dan dorongan hatimu agar tidak menghitung tentang waktu.” Kata Paman Adam kembali. Aku jadi malu selalu banyak bertanya pertanda jiwaku belum sepenuhnya pasrah. Aku masih terbawa naluri duniawi menghitung untung dan rugi dalam waktu. Padahal di tempat ini aku haya ditugaskan mengisi waktu dengan ibadah, melatih jiwa dan raga sebersih-bersihnya. Aku kembali istighfar mohon ampun untuk membasuh diri dari segala gerakkan yang mengarah pada naluri sebagai manusia yang memiliki nafsu.

Aku duduk berjejer dengan para perempuan yang duduk khusuk dengan mata terpejam kadang bergoyang-goyang sambil mengangguk-angguk. Wajah mereka kebanyakan tidak mirip dengan wajahku, wajah Asia. Mereka seperti keturunan orang Arab, berhidung mancung, berkulit putih, alis dan bulu matanya berwarna agak kemerahan. Selanjutnya di hadapanku, duduk perempuan sebangsa nenek gunung, manusia harimau. Melihat jenisnya sepertinya mereka satu golongan, satu keluarga, ibu dan anak-anak remajanya. Di barisanku, beberapa orang kulihat ada juga wajah asia namun ternyata ada juga berwajah Afrika. Wajah-wajah teduh mereka bercahaya.
“Aku masih di tanah Besemahkah? Bukan di Makkah bukan?” Aku membatin. Bertanya dan menjawab sendiri dengan jiwa, kala melihat yang sedang khusuk duduk di sini berbeda kulit dan raut wajah.

Aroma harum yang ke luar dari tubuh perempuan berwajah Arab di sampingku membuatku sangat nyaman. Wangi dan lembut. Aku mengatur posisi salat sunat terlebih dahulu. Selanjutnya aku duduk di sebelah perempuan Arab itu. Mulutnya komat-kamit namun tidak terdengar suaranya. Sambil mengatur posisi terlintas di benak, jika aku saat ini masih berada di alam gaib. Berarti di sebelahku adalah jin Arab. Lalu itu jin Afrika, ada juga manusia harimau, dan jin berwarna Asia. Aku masih sibuk memikirkan sosok-sosok di sekitarku. Semuanya membuatku takjub.

“Selasih‚Ķ” Suara Paman Adam mengagetkanku. Hanya panggilan ‘Selasih’ namun cukup menegurku jika aku disuruh segera khusuk dan berhenti sibuk dengan suasana hati yang ricuh, terlalu banyak tanya dan praduga. Inilah yang harus kuhapus satu-satu. Hati yang selalu sibuk banyak tanya dan ingin tahu segala hal yang berkaitanbpada orang lain dan lingkungan. Lupa dengan tugas diri sendiri, apalagi untuk mengoreksi diri.
“Ampunkan hamba Yaa Allah.” Kutekan rasa. Aku kembali mengembalikan diri agar fokus pada diri sendiri. Kutarik nafas pelan-pelan. Kubiarkan darah mengalir ke seluruh tubuh. Kuawali dengan syahadat, salawat dan umul kitab. Bertawasul sejenak, lalu mulailah aku bertasbih: Subhanallah Wabihamdihi.

Berambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *