HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT VI (97B)

Karya RD. Kedum

Aku mendekap leher Macan Kumbang menembus kabut malam ini. Nenek Kam tidak bersuara seperti biasa. Beliau duduk tenang di punggung Kamang Depa. “Kita mau ke mana, Kumbang. Di mana Merapi itu? Ada apa di sana?” Ujarku dekat telinga Macan Kumbang. Macan Kumbang hanya berbisik sambil mengatakan kita lihat saja nanti. Akhirnya aku diam saja. Nenek Kam memang terbiasa mengajak pergi tanpa menceritakan apankeperluan. Kukira hanya kami bertiga, kenyataannya berempat. “Macan Kumbang, pasti belum mandi. Bau ‘piarit'” Ujarku iseng. “Ah! Sembarangan. Aku tidak biasa sebelum solat tidak mandi. Yang malas mandi itu kamu. Ngakunya dingin melulu” Macan Kumbang protes. Aku cekikikan sendiri. Menjahili Macan Kumbang paling asyik. Dia juga suka menjahili aku. Kalau dulu, jika aku tidak terima, maka kami akan bergulat atau adu ketangkasan. Dari situ juga aku dapat mengukur kemampuan Macan Kumbang yang luar biasa. Secara tidak langsung, beliau guru kuntau ku.

Tak perlu memakan waktu lama kami sudah sampai di daerah berpadang ilalang. Sebagian lagi jurang napal terlihat putih di tengah kelam. Aku mengamati padang ilalang dengan seksama. Luas bertebing-tebing. Daerah yang baru kali ini kudatangi. Kami berdiri di atas tanah napal.yang agak tinggi. Jauh di bagian timur padang ilalang yang miring dan agak curam. Di lembahnya ada sungai. Suara air yang mengalir terdengar lantang dari sini. Di langit bulan sabit seperti coletan kuas berwarna kuning. Cahayanya belum membantu memberikan sinar hingga sampai ke bumi. Sekelilingnya masih tampak gelap. Angin yang bertiup semilir, tidak memberikan isyarat apa-apa bagiku, kecuali terasa dingin karena berada di ketinggian. Aku kembali berbisik pada Macan Kumbang, mengapa ke mari. Lagi-lagi Macan Kumbang menggeleg. Sejenak aku bingung harus melakukan apa. Aku perhatikan gerakkan Kamang Depa dengan Nenek Kam. Belum terlihat pertanda melanjutkan perjalanan, atau melakukan apa sesuai tujuan ke mari. Tak lama kulihat Kamang Depa mengendus-ngendus. Lalu menatap ke nenek Kam. Selanjutnya dia mengendus-ngendus lagi sembari berputar. “Aku kehilangan jejaknya, Nek. Aku tidak bisa mencium aromanya” Suara Kamang Depa sedikit berbisik. Aku dan Macam Kumbang hanya menatap mereka berdua. Mengendus apa, kami berdua tidak tahu.

Lama suasana hening. Nenek Kam kulihat juga ikut fokus. Tak lama Kamang Depa turun beberapa meter. Pun melakukan hal sama, mengendus-ngendus juga. Sepertinya hal yang dicarinya nihil. Kemang Depa naik kembali. “Coba minta tolong Cucungku” Nenek Kam melihat padaku. Sinar matanya jelas mengisyaratkan menyuruh aku bergerak mendekat padanya. “Apa yang dicari, Nek? Dari tadi sebelum berangkat hingga sampai ke mari, aku dan Macan Kumbang tidak tahu tujuan kami diajak ke mari” Ujarku bernada protes. Macan Kumbang mencubitku. Aku tahu, dia memberi kode agar aku tidak lancang. Akhirnya aku diam saja. Padahal dia juga bingung mau apa ke mari. “Apa yang kau ketahui tentang rempat ini, Cung” Ujar Nenek Kam. Aku diam sejenak. Kupenuhi permintaan Nenek Kam mengamati dan mencari tahu area ini. Aku berjalan ke arah Timur. Di situ aku melihat ada pintu gerbang tua yang terbuat dari kayu ulin, tanpa penjaga. Agak lama aku mengawasi pintu gerang itu. Ada jalan cukup lebar namun bersemak. Sehingga jalan yang lebar itu berubah menjadi setapak. Dalam hati aku bertanya-tanya, tempat apa ini? Sepi sekali. Aku mulai memberanikan diri untuk lebih dekat lagi. Ada energi yang menarik-narikku untuk mendekat. Sisi kiri kanan pintu gerbang ada batu besar biasa seperti batu bukit. Namun karena ukurannya besar, membuat kayu ulin yang berdiri seakan bersender pada batu. Pahamlah aku, dulu wilayah ini adalah hutan belantara, ditumbuhi kayu-kayu berkualitas. Lalu di sini berdiri satu kerajaan gaib, yang dipimpin oleh seorang raja. Raja itu mempunyai seorang putra. Sayang putra raja ini tidak mewarisi sikap dan wibawa Bapaknya. Bapaknya raja yang bijak. Penganut hindu yang taat. Sedangkan anaknya hidup sesukanya, tidak pernah menjalankan ibadah. Bekas dupa dan sejen kering nampak tergeletak di dekat batu. Bahkan serupa sampah yang berserakan. Canang-canang kering. Artinya di sini ada kehidupan, aku membatin. Namun istana mereka mengapa tidak nampak? Seperti ditutup kain berlapis-lapis. Sehingga hanya terlihat pintu gerbang dan semak saja. Aku makin penasaran dan mulai hendak menguak apa sebenarnya yang terjadi di sini. Ketika aku tengah bersiap melakukan ritual, sudah mulai duduk dan fokus. Tiba-tiba Nenek Kam memanggil. “Kembali, Cung. Jangan lanjutkan dulu” Ujarnya. Akhirnya aku kembali membuka mata dan segera menemui Nenek Kam, dan rombongan. Mata Macan Kumbang menatapku penuh tanya. Demikian juga Kamang Depa. Aku melihat sekeliling. Mengapa nampaknya di sini bekas pertempuran? Rumput ilalang yang kulihat sebelumnya berdiri tegak dengan bunganya yang putih, anggun bergoyang ketika diterpa angin, sekarang nampak rebah dan kacau? “Apa yang terjadi di sini? Siapa yang melakukan ini?” Aku langsung marah. Kulihat Nenek Kam, Macan Kumbang, dan Kamang Depa sehat-sehat saja, membuatku sedikit lega. Mereka belum ada yang menjawab. Tapi dari ekspresi mereka bisa kutangkap, mereka masih menahan cemas. Huuf!!!Aku segera mengangkat tangan ke atas. Aku mencari tahu sendiri peristiwa apa yang terjadi di sini sehingga semua jadi berubah dari sebelumnya? Aku tidak sabar menunggu pejelasan mereka.

Aku sedikit tercengang ketika melihat Nenek Kam, Macan Kumbang, dan Kamang Depa, diserang mendadak. Anehnya, mereka diserang makhluk-makhluk berbentuk pohon ilalang. Aku sedikit bertanya dalam batin, apakah mereka makhluk yang menyamar? Atau memang jenis makhluk lain berbentuk seperti rumpun ilalang? Lalu mengapa mereka menyerang Nenek Kam, Macan Kumbang, dan Kamang Depa? Mereka berhenti menyerang ketika Nenek Kam memanggilku untuk segera kembali ke sini. Melihat kenyataan ini, bisa jadi pintu gerbang yang ditumbuhi semak-semak tadi, adalah wujud makhluk-makhluk ini. Aneh sekali. Aku tidak paham mereka ini makhluk astral golongan mana? Tapi ini bukan sihir? Aku setengah ragu untuk memastikan sihir atau bukan.Otakku segera berpikir. Aku harus tahu siapa mereka. Selama aku bergaul dengan makhluk-makhluk astral, dan dari sekian banyak guru yang mengajarkan aku, mwmbantuku pulang dan pergi ke alam gaib, belum pernah mereka menyeritakam ada jenis makhluk seperti ini. “Tajamkan mata batinmu kembali, Cu. Kau akan tahu siapa mereka dan dari golongan mana” Tiba-tiba Puyang Purwataka membisikiku. Aku bahagia sekali. Guruku satu itu mengawasi aku. Aku segera melakukan apa yang pernah kuperoleh dari Puyang Purwataka. “Apa guna sejata cermin dalam telapak tanganmu, Selasih. Kau bacalah mantra sedekap bayu dari Puyang Purwataka” Suara Eyang Putih. Duh aku semakin bahagia, ternyata banyak yang mengingatkan aku untuk mengungkap misteri ini. Tanpa pikir panjang, aku melakukan petunjuk dua guruku itu. Aku segera membaca mantra sedekap bayu, tak lama terlihatlah aktivitas di sini. Rumpun-rumpun ilalang itu bisa bergerak serupa manusia lalu menyerang Nenek Kam, Macan Kumbang, dan Kamang Depa. Setiap tangkai daun siap melilit lawan. Sementara Nenek Kam , Macan Kumbang, dan Kamang Depa tidak meyadari akan mendapatkan serangan yang sangat tiba-tiba itu. Apalagi serangan itu dari rumpun ilalang. Belum usai rasa terpukau mereka, beberapa rumpun telah melilit Nenek Kam, Macan Kumbang dan Kamang Depa. Kulihat ketiganya cukup kuwalahan. Lilitannya sangat erat dan tidak bisa diputuskan. Beberapa kali kaki, tangan, serta tubuh ketiganya terikat erat. Aku kaget melihatnya. Sungguh di luar nalarku. Kejadian ini mirip sebuah sihir. Aku sempat panik melihatnya meski kejadian itu baru saja terjadi. Semuanya beejalan cepat sekali.

Tak berapa lama kulihat rumpun ilalang ikut terbang. Nampaknya rumpun-rumpun itu hendak mengubur Nenek Kam, Macan Kumbang, dan Kamang Depa. Aku terbelalak melihatnya. Padahal perasaanku mereka kutinggal tidak lama untuk melihat pintu gerbang gaib itu. Aku menahan nafas. Ingin rasanya masuk dalam cermin, lalu kembali ke peristiwanya.Aku terus mengamati peristiwa itu dengan dada bergemuruh. Melihat energi mereka nampaknya ada yang mengerakkan. Pemandangan yang tidak masuk akal melihat rumpun ilalang namun bisa menyerang. Bahkan mereka hendak mengubur hidup-hidup lawan. Untung Macan Kumbang, Nenek Kam, dan Kamang Depa memiliki kemampuan yang tidak biasa. Mereka bertiga menyatukan kekuatan melawan rumpun ilalang yang bergerak hendak mengubur mereka. Rumpun-rumpun itu pandai pula menghindar lalu kembali menyerang. Tidak disangka, rumpun dekat kaki-kaki mereka bergerak. Rumpun ilalang itu dengan cepat melilit tubuh Nenek Kam, Macan Kumbang dan Kamang Depa dengan cepat. Saat itulah Nenek Kam memanggilku untuk kembali. Mengetahui aku kembali, seperti dikomando rumpun-rumpun itu kembali ke tempatnya berdesir bersama semilir angin. Aku segera menutup cermin di telapak tanganku. Apa yang kulihat memberikan pembelajaran yang berharga dan mwnuntunku untuk melakukan tindakan.

Hiiiiiaaaaat!!! Duk! Duk! Duk! Aku menghantamkan kaki ke bumi tiga kali. Darahku serasa mendidih. Nenek Kam, Macan Kumbang, dan Kamang Depa segera melompat karena bumi bergerak, bahkan ikut terhentak-hentak. “Kurang ajar! Kalian tidak bisa menipu aku. Keluar!!” Bentakku. Karena setelah kuamati, rumpun ilalang itu hanyalah sebuah tipuan. Kami sedang berhadapan dengan makhluk astral yang pandai sihir. Tapi mengapa dia berhenti menyerang setelah Nenek Kam memanggil? Aku segera memagari Nenek Kam, Macan Kumbang dan Kamang Depa. Aku khawatir ada serangan mendadak dari bawah tanah. Aku akan bongkar apa maksud makhluk astral yang menyerang Nenek Kam, Macan Kumbang, dan Kamang Depa ini. Kugerakkan tangan ke atas. Aku akan angkat rumpun ilalang yang ada di sini. Wusssss! Tiba-tiba angin kencang yang kukerahkan untuk mengangkat rumpun ilalang hingga akarnya seperti ribuan lebah mendengung. Aku bertekad akan lawan sihir mereka. Rumpun-rumpun ilalang yang kuangkat semuanya kugulung menjadi satu lalu kuubah menjadi tali. Maka jadilah rumpun ilalang itu tali yang sangat panjang. Lalu kulilitkan pada ilalang-ilalang yang masih tersisa. Kemudian kuputar ke arah langit. Tali yang terbuat dari ilalang, kuserahkan pada Macan Kumbang untuk menggenggamnya.

Kukerahkan energi membantu Macan Kumbang agar rumpun-rumpun ilalang jelmaan makhluk astral itu mendapatkan efeks panas dari zikir yang dilantunkan Macan Kumbang. Sreeeettt!!! Selendang kutarik dari leherku. Dengan cepat kuayunkan ke atas sehingga ujungnya berbentuk api. Beberapa kali kuayunkan untuk mematahkan sihir yang ada di sekitar kami. Rupanya sekitar ini aslinya bukan padang ilalang. Tapi perbukitan yang gersang, tanah liat berbatu. Aku yakin yang mengubah ini pasti berilmu tinggi dan pandai sihir. Tapi mengapa ketika Nenek Kam memanggilku dia langsung lenyap? Nenek Kam juga heran. Satu kesempatan, secepat kilat jilatan api selendangku kuubah menjadi ular naga. Selanjutnya kusuruh menghisap sosok-sosok rumpun ilalang dari jarak jauh. Seperti sebuah liang yang maha besar dan dasyat mulut naga mengangga. Makhluk astral yang menjelma kudorong ke mulut naga selendangku. Seperti debu, rumpun-rumpun itu berterbangan meluncur dengan cepat ke mulut naga. Suara mendesis seperti suara badai yang mengaduk-ngaduk isi bumi.

Sementara ular naga dari selendangku bekerja, aku terus melakukan zikir dalam batin untuk membantu Macan Kumbang. Tak lama Macan Kumbang mengeluarkan kekuatan barunya ketika melihat kekuatan lawan yang tak nampak itu terus menyerang. Ternyata memang tidak sampai di situ, ada kekuatan lain menyerang kami. Batu-batu yang menyembul karena rumpun ilalangnya yang tercabut, berubah menjadi sosok manusia. Lalu tanah-tanah berubah menjadi gundukan-gundukan seperti kuburan. Sosok-sosok manusia itu seperti hantu bangkit dari kubur. Mereka berjalan kaku mendekati kami. Melihat itu aku tidak tinggal diam. Kulihat Nenek Kam juga bersiap- siap untuk melawan. Kamang Depa pun bersiap-siap juga semampunya. “Nek, ini kekuatan sihir. Nenek akan kelelahan jika melawannya dengan energi batin. Biarlah aku ajak mereka main-main sejenak. Kita tetap diam di sini. Mereka tidak akan sampai ke mari. Ini hanya tipuan belaka seakan-akan mereka menyerang kita” Ujarku menghalangi Nenek Kam melakukan perlawanan. Akhirnya beliau duduk bersama Kamang Depa. Macan Kumbang telah mengakhiri perlawanannya. Makhluk-makhluk yang diikatnya dengan tali terbuat dari ilalang kini lenyap tanpa bekas. “Mau kau apakan daerah ini Selasih. Mereka hendak menyerang kita. Tapi tak nampak wujudnya” Macan Kumbang siap-siap dengan kuda-kudanya. Huuuuf! Sekali hentakan ular naga yang kulepas kembali menjadi selendang. “Aku akan ajak mereka bermain-main dulu Macan Kumbang. Semakin lama aku semakin paham ini ilmu dari mana” Ujarku berbisik.

Aku mengembangkan selendangku ke depan. Tak lama selendang kugetarkan sehingga menjadi irama musik yang lincah. Sosok-sosok seperti mayat hidup itu kupaksa bergoyang. Mereka bergerak ke sana kemari, bahkan kadang saling tindih dan saling tabrak. Melihat pemandangan itu Nenek Kam tertawa-tawa. Begitu juga Kamang Depa. Mayat-mayat hidup itu memang seperti tidak ada lelahnya. Meski terinjak-injak dan saling tabrak, mereka terus bergerak. Sesekali kujentikkan jari menyuruh mereka berjoged tapi saling serang. Irama gemerincing selendang kukencangkan. Nenek Kam terpingkal-pingkal makin jadi. “Lihatlah mereka berjoged tapi saling tinju, saling pukul, saling tendang” Teriak Nenek Kam. Tak lama kubuat mereka saling tampar. Dan terjadilah seperti lomba saling tampar yang membabibuta. Aku ikut tertawa melihatnya sambil terus mengendalikan mereka.Sudah bosan melihat mereka saling tampar dan sesekali terkapar lalu bangkit lagi, dengan cepat tubuh-tubuh palsu itu kuhembus dengan angin panas. Dalam sekejap, sosok dan kuburan hilang. Demikian juga ilalang yang seperti padang. Yang ada tanah gerang, berbatu, tidak ditumbuhi serumpun rumput pun.”Jadi, selama ini yang kulihat padang ilalang, pada dasarnya bukan ya Selasih?” Kamang Depa bertanya padaku. Matanya sedikit melotot pertanda heran. Bagaimana tidak menurutnya dia berulang kali pergi ke sini bahkan bermalam di padang ilalang. Tidak pernah dia menemukan dan merasakan hal aneh sedikit pun mengapa malam ini jadi berubah? “Memang itu dibuat semacam perangkat untuk menarik mangsa” Ujarku.

Kamang Depa mulai bercerita, jika apa yang kujelaskan benar adanya. Banyak sekali nenek gunung yang terjebak dan hilang di sini. Dan malam ini, Kamang Depa mengajak kami kemari tiada lain untuk minta tolong mencari jejak kedua orang tuanya yang hilang. Bagaimana mungkin dia akan menemukan jejak Umak dan Baknya jika jejak itu disihir oleh makhluk yang belum kutahu siapa dia. Belum sempat aku bertanya lagi perihal kejadian yang dia alami tiba-tiba angin basah menghembus ke arah kami. Aku segera membuat dinding pembatas agar tidak masuk ke pagar yang kubuat untuk melindungi Nenek Kam, Macan Kumbang dan Kamang Depa. Dinding yang kubuat berhasil menolak bahkan mengembalikan angin basah yang dikirimkan pada kami dengan hawa panas. Rupanya belum cukup sampai di situ. Kali ini kulihat ada semacam hujan jarum yang tak terlihat oleh mata telanjang. Bahkan Kamang Depa, dan Macam Kumbang pun tak bisa melihatnya. Suara desingnya sangat halus. Aku segera menyapukan selendangku menangkap jarum-jarum gaib itu. Lagi-lagi di alam gaib aku menemukan hal gaib. Jarum-jarum itu menancap di selendangku. Selendangku bergetar hebat. Aku seperti memegang gumpalan batu yang berguncang-guncang. Kekuatan jarum-jarum itu luar biasa. Macan Kumbang kaget menyadari jika yang berhasil kutangkap itu adalah senjata rahasia yang dikirim dari jauh. Aku tidak menyangka jika di tanahku ada yang memiliki ilmu begitu dasyat seperti ini. Puyang Pekik Nyaring dan Puyang Bukit Selepah tidak pernah bercerita jika di seputaran bukit barisan ini ada yang memiliki ilmu sihir yang dasyat seperti ini. Tapi siapa dia? Dari tadi kami seperti berhadapaan dengan angin? Rasa tidak sabarku mulai naik. Kali ini kuayunkan kedua tanganku ke atas, lalu dengan cepat sumber kekuatan itu kutarik dengan sosoknya. Aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menarik sosok dan kekuataannya itu. Energinya mengeluarkan suara gemuruh seperti guruh yang saling kejar di langit. Percikan-percikam kembang api pun memancar pertanda ada benturan keras dalam dua kekuatan yaitu kekuatanku dan kekuatan sosok itu.

Hiiiiiaaaat! Gerakkan menangkap sesuatu kukerahkan maksimal. Gedebuk! Buk!! Buk!!Seperti benda berat jatuh mental beberapa kali seperti bola. Tak lama kobaran api seperti peluru meluncur ke arahku. Aku terperanjat melihat serangan begitu cepat. Nyaris api itu membakarku yang masih terperangah. Tiba-tiba sabuk dipinggangku berubah menjadi tameng melawan kekuatan api. Beberapa kali kobaran api terpental dan terbang lagi. Tiba-tiba langit seperti bara. Kekuatan makhluk astral yang belum kuketahui sosoknya benar-benar hebat. Apakah benar pintu gerbang yang kulihat tadi adalah sebuah kerajaan besar yang menahan para nenek gunung, manusia harimau di seputaran dusun Merapi ini? Tapi apa pasal? Aku cukup kewalahan menghadapi kekuatan aneh ini. Tubuh yang kuseret ternyata bisa melepaskan diri malah berganti dengan cahaya merah yang membuat langit berwarna jingga tua. Belum lagi aku harus bertahan supaya Macan Kumbang, Nenek Kam dan Kamang Depa tidak terseret kekuatan yang berkali-kali hendak menarik kami. Aku kembali menghantamkan pukulan badai dan menghalangi kekuatan yang mendesak dengan tameng gunung. Al hasil kami aman. Tapi bukan sosok sakti namanya jika tidak banyak akal. Sekarang mereka melakukan kekuatan dari atas. Aku kaget bukan main ketika tiba-tiba hujan yang turun berupa cairan seperti bara. Masya Allah! Seumur hidup baru kali ini aku berhadapan dengan kemampuan luar biasa dasyatnya. Aku sudah mulai putus asa untuk bertahan, melindungi diri dan melindungi Nenek Kam, Kamang Depa, dan Macan Kumbang. Aku bukan meremehkan kemampuan mereka. Namun yang kami hadapi ini bukan main-main lagi. Bukan lagi sihir. Tapi ini adalah kekuatan dasyat ilmu yang dimiliki oleh sosok yang belum kuketahui wujudnya.

Akhirnya aku meraih tangan Nenek Kam, Macan Kumbang, dan Kamang Depa. Kami satukan kekuatan. Kupandu mereka bertiga untuk mengeluarkan dan menyatukan energi, sementara aku menyalurkan kekuatan gunung es untuk membuat beku udara yang menyelimuti kami. Aku tidak bisa bayangkan jika cairan bara itu menimpa kami, bisa meleleh langsung. Kulihat wajah Kamang Depa sudah bersemu merah mengerahkan semua kekuatannya. Macan Kumbang juga bergetar membuat rahangnya makin menonjol. Rambutnya yang disanggul tinggi lepas, tergerai, sebagian menutupi wajahnya yang tampan. Sementara Nenek Kam nampak tenang memejamkan mata. Beliau sedang fokus mengerahkan kekuatannya. Kami mulai diselimuti kabut tebal dan segera menjadi es. Kusalurkan kekuatan baru pada lapisan es agar tidak cair dan tembus tertimpa cairan bara yang terus menimpa. Efeknya luar biasa. Suara mendesis bara api terkena air seperti suara jutaan ular. Nenek Kam sempat pula menetralisir seputaran kami agar cuacanya tetap normal. Tak lama petir menyambar beberapa kali. Jilatan api itu berusaha membelah lapisan es yang menyelimuti kami. Dalam keadaan kalut, aku bingung, apa yang harus kulakukan selanjutnya? Tidak mungkin hanya bertahan seperti ini tanpa melakukan perlawanan. Aku tengah berpikir keras bagaimana untuk melawan kekuatan cairan bara di luar lingkaran es-ku. Mau ke luar dari lingkaran ini, aku tidak yakin. Nenek Kam langsung memecah dirinya menjadi enam. Lalu bayangan-bayangannya duduk melingkar dan berzikir. Aku melakukan hal yang sama. Enam bayanganku ikut duduk melingkar bergabung dengan bayangan Nenek Kam berzikir pula. Lawan kami kali ini tidak bisa dianggap enteng. Aku tidak bisa bayangkan jika tanpa dilindungi lingkaran es yang tebal. Dalam suasana seperti ini, aku khawatir pertahanan es kami akan hancur di sambar petir bertubi-tubi. Jika hancur maka tamatlah riwayat kami.

“Kumbang, segeralah azan sementara yang lain berzikir” Ujarku menyuruh Macan Kumbang segera mengumandangkan azan. Ini adalah cara terakhir setelah rasanya aku kewalahan tak tahu bagaimana caranya melawan hujan bara. Tak lama berselang, Macan Kumbang azan. Suara merdunya menggambarkan jiwanya yang tetap tenang. Macan Kumbang azan dengan suara mendayu-dayu. Indah sekali. Sementara bayanganku dan bayangan Nenek Kam terus berzikir meski tidak sekencang suara Macan Kumbang. Tiba-tiba kami mendengarkan suara gemuruh lebih kencang dari sebelumnya, begitu juga petir menyambar -nyambar seperti kacau. Cahaya seperti tembaga sampai tembus di balutan es yang tebal. Sementara aku masih terus bertahan agar bola es es yang membalut kami tetap kokoh ditambah energi Nenek Kam dan Kamang Depa. Cahaya biru, ungu, putih, kuning, seperti pelangi menaungi langit-langit yang membalut kami. Energi itu muncul dari aluan azan yang dikumandangkan Macan Kumbang. Ini adalah perlawanan terakhir kami setelah aku tidak mendapatkan sela untuk melawan serangan itu. Lambat laun cahaya yang serupa tembaga panas makin pudar. Begitu juga petir yang menyambar makin lama makin jarang. Akhirnya berhenti sama sekali seiring usai azan yang dikumandangkan Macan Kumbang.

Setelah terasa aman bayanganku dan bayanganku Nenek Kam menyatu kembali. Aku segera membuka dan balutan batu es segera. Masya Allah!Aku terkejut bukan main ketika balutan es-ku terbuka, di sekeliling kami berdiri Puyang Pekik Nyaring, Puyang Ulu Bukit Selepah, Eyang Kuda, Eyang Putih, Puyang Purwataka, Putri Bulan, Nenek Ceriwis, Kakek Ghabuk. Mereka berdiri dalam posisi melingkar. Sementara dataran dan tanah liat curam yang semula seperti padang ilalang, berubah menjadi tanah liat kering dan tandus. Langit berubah temaram, bulan sabit masih mengintip. Aku menyapa semuanya sembari menyimpan kekagetanku. “Alhamdulilah, kalian tidak cedera. Serangan Nogo Emas Segoro mampu kalian tepis. Kami datang ketika melihat serangan maut mereka begitu dasyat sementara kalian tidak dapat melakukan perlawanan selain bertahan” Ujar Puyang Purwaraka. Aku tak mau banyak tanya kecuali tak henti bersyukur. Ternyata kami baru saja lolos dari maut. Dari Puyang Pekik Nyaring kuketahui, jika Nogo Emas Segoro salah satu pegawal kepercayaan Nyi Roro Kidul. Beliau salah satu saudara seperguruan Nini Ratu. Makanya sangat menguasai ilmu sihir dari laut Selatan. “Mengapa beliau kemari, Puyang jika beliau hidup di dasar laut?” Tanyaku. Rupanya, kata Puyang kebetulan saja beliau sedang melancong ke mari melihat kerajaan muridnya di bukitan dusun Merapi. “Salah satu kesombongan mereka, kerap kali ingin menguji kemampuan seseorang, seperti yang beliau lakukan pada kalian. Sekarang beliau kabur, dan kembali ke Pantai Selatan. Tidak usah dikejar. Sebab dia tahu, kau murid adik seperguruannya Nini Ratu” Lanjut Puyang Purwataka.

Di tengah jantungku yang masih berdebur kencang, aku berusaha menelisik tujuan utama mencari jejak ke dua orang tua Kamang Depa. Aku segera pamit pada mereka meluncur ke lembah menuju sungai setela instingku mendorong untuk turun ke lembah. Aku terperanga ketika sudah berdiri di sisi sungai yang curam, melihat reruntuhan istana yang tinggal puing. Tidak satu pun kulihat penghuninya. Sejenak aku berpikir apakah ini sihir atau nyata? Oh ternyata efeks pertempuran tadi telah membuat kerajaan mereka hancur. Lalu mana orang tua Kamang Depa? Aku mencium aromanya di sini. Aku segera mengangkat tangan untuk mendeteksi lokasi orang tua Kamang Depa. Ternyata mereka disembunyikan di dalam gua batu di dinding cadas yang pintunya menghadap ke sungai. Gua bunga itu silamkan. Tidak bisa dilihat oleh makhluk astral biasa. Aku segera melakukan kekuatanku untuk menembus dinding gaibnya. Tiba-tiba aku mendengar suara adzan Macan Kumbang berkumandang di lembah. Suaranya menggema sepanjang sungai yang dalam. Ajaib! Perlahan pintu terkuak menghancurkan rantai gaib yang menguncinya termasuk menghancurkan ikatan-ikatan yang membelenggu nenek gunung yang berkurung. Ada enam nenek gunung yang terkurung Selebihnya makhluk-makhluk astral sebagai tahanan yang jumlahnya ratusan. Aku tak tahu, tahanan apa ini. Apa motif penahanan ini. Aku segera melempar seledangku menjadi jembatan menghubungkan dua sisi sungai. Makhluk-makhluk astral berhamburan ke luar, berlari cepat di atas jembatan buatanku. Kamang Depa menyongsong ke dua orang tuanya. Mereka menangis sambil berpelukan. Semua tersenyum menatapnya. Aku merasa lega setelah selendang kutarik kembali. Prok! Prok! Prok! Aku mendongak ke atas bukit di seberang. Kakek Njajau bertepuk tangan sembari tersenyum. Wah! Ternyata lengkap, semua hadir di sini. Setelah berbincang sejenak, dan merasa misi sudah selesai, Puyang Pekik Nyaring menyarankan kami segera pulang. Akhirnya kami semua pulang setelah mengobati beberapa nenek gunung yang kehilangan tenanga. Selanjutnya mereka disuruh pulang ke kampung mereka masing-masing. Dusun Merapi hening kembali. Tak ada lagi rumpun ilalang yang mendesah ketika diterpa angin. Yang ada adalah tanah perbukitan yang tandus, curam hingga ke lembah. Suara air sungai yang mengalir deras, dan bulan sabit menyembul malu di balik awan.

Bersambung…

Satu tanggapan untuk “HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT VI (97B)

  • 2 Mei 2021 pada 13 h 28 min
    Permalink

    Makasih Admin lama juga menunggu ya sampaikan sama penulis Semoga sehat jadi ceritanya selalu bisa kita nikmati.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *