HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT III (48B)

Karya RD. Kedum

Antara terasa dan tidak, ada sentuhan halus di pundak kananku. Aku masih merasa berada di alam yang luas dan tenang. Ada gelombang seperti awan kadang membalut tubuhku, kadang menjauh. Aku nikmati daya yang membawaku ke alam yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku pasrah terus mengalir pada zikir yang terlafas. Tak ada kekuatan lain yang kumiliki selain pasrah pada kenikmatan yang maha itu.

Angin berhembus sangat pelan. Aku sudah sangat biasa mendengar zikir, syalawat, tilawah, dan berbagai aktivitas religi di sini. Semua seperti khusuk dengan aktivitas masing-masing. “Assalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh Putri Selasih…Bukalah matamu sejenak.” Suara halus itu sangat lembut. Aku membuka mata sembari menjawab salamnya pelan-pelan. Oh, Siti Aliyah duduk manis persis di hadapanku. Wajahnya yang teduh terseyum lembut. Dan mata itu, Masya Allah sungguh indah. Aku membalas senyumnya tanpa berkata-kata. Sejak aku duduk di dekat tiang tengah ini, baru kali ini Siti Aliyah menemuiku. Biasanya dari jauh saja dia tersenyum jika kebetulan bertatapan wajah denganku ketika dia habis menunaikan salat wajib dan sunat. Aku juga tidak pernah menemuinya. “Nampaknya kamu semakin nyaman saja Selasih,” ujarnya membuka pembicaraan. “Iya, aku menikmatinya,” ujarku sembari mengubah posisi dudukku. Aroma harum dari tubuhnya sangat segar. Kuhirup dalam-dalam. Aku menunggu apa yang akan ia sampaikan. Adakah berita baik untukku? Dadaku sedikit bergetar kala ingat pertempuran di luar beberapa saat lalu. Apakah sudah usai atau belum aku tidak tahu. Tidak ada yang menemuiku. Kemana Puyang yang membawaku kemari. Entah sudah berapa lama sejak beliau mengantarku, aku tidak melihat wajahnya kembali. Sudah beberapa saat menunggu, tapi Siti Aliyah belum juga berbicara perihal mengapa dia membangunkan aku? Akhirnya aku tidak sabar, mencoba membuka pembicaraan.

“Adakah berita baik yang hendak disampaikan padaku, Siti Aliyah? Sudah usaikah peperangan di luar sana? Sudah berapa lama aku berada di sini?” Ujarku. Kutatap wajahnya dalam-dalam dan berharap berita baik yang kuterima, tidak terjadi hal buruk untuk puyang, kakek, nenek, Datuk, inyiak dan lain-lain yang telah banyak berjuang membela aku. “Waktu di alam nyata dengan di sini tentu berbeda, Selasih. Di alammu waktu lebih panjang di bandingkan dengan di sini. Satu jam di alam gaib, bisa enam hari di alam nyata.” Ujarnya. Aku terperanga. Begitu jauh rentang waktunya. Mengapa bisa demikian? Aku semakin bingung. Sudah berapa jam aku berada di rumah Allah ini? Perasaanku sudah berhari-hari. Jika siang dan malam di alam manusia 24 jam, sementara di sini entah berapa kali aku lewati salat maghrib berjamaah, Isya berjamaah, Subuh, Dzuhur, dan Ashar. Jika masing-masing dua kali saja artinya sudah 24 jam di alam nyata. Berapa harikah aku di alam gaib jika satu jam di sini enam hari di alam nyata? Aku pusing sendiri dibuatnya. Otakku jadi tak bisa berpikir menghitung perbedaan waktu yang rentangnya sangat jauh itu. Berarti jasadku sudah empat bulanan berada di Rumah Sakit Umum Palembang itu? Setahuku siang dan malam di alam gaib sama saja. Gelap di alam nyata tapi nampak terang jika di alam gaib meski langit tetap saja buram.

Melihat aku seperti jauh berpikir, Siti Aliyah tersenyum simpul. “Tidak penting hal waktu itu Selasih. Yang penting adalah pasukan Banyuwangi banyak yang tewas, dan sebagian lagi sudah kembali ke kampung mereka. Membawa kekalahn. Dan mereka tidak akan kembali lagi mengejarmu.” Mendengar itu aku langsung sujud syukur. Perasaanku langsung melambung tinggi jauh menembus langit. Ingin rasanya memeluk entah siapa saking bahagianya. “Yaa Allah…selamatkan puyang, kakek dan nenekku..” Aku mendesah haru. Artinya tak lama lagi aku akan berjumpa dengan mereka dan akan kembali bisa menemui jasadku lagi. Aku sangat ingin menghibur Bapak dan Ibuku. Tidak terbayang selama itu kedua orang tuaku bolak-balik merawatku? Padahal Pagaralam dengan Palembang waktu tempuh bisa lebih dari dua belas jam. Apalagi jalan lintas Pagaralam Palembang tidak terlalu jadi prioritas untuk dibangun. Tidak pernah mulus. Berbatu dan berlubang, becek, licin, dan banjir kala hujan. “Siap-siaplah, usai Isya Puyang akan menjemputmu,” ujar Siti Aliyah. “Puyang apa? Puyang yang mengantarku kemarikah? Kalau boleh tahu, siapa nama beliau Siti Aliyah?” Tanyaku pelan. Siti Aliyah membalas pertanyaanku dengan senyum. Lagi-lagi aku kagum melihat kelembutan dan kecantikannya. “Satu lagi pertanyaanku, Siti Aliyah. Aku ingin tahu siapa kamu?” Ujarku sembari meraih tangannya. Masya Allah, aku serasa memegang benda yang sangat lebut. Kulit Siti Aliyah halus sekali. Dan kulit ini setelah kusentuh mengeluarkan bau wangi yang luar biasa dan melekat di tanganku. Dalam hati aku bertanya terbuat dari apa makhluk satu ini. Yang jelas dia bukan manusia sepertiku. Lalu bibir tipisnya yang berwarna merah jambu menjawab jika lambat laun aku akan tahu siapa dirinya dan siapa puyang yang telah mengantarku ke rumah suci ini. Selanjutnya Siti Aliyah membimbingku bangkit dan kembali menyuruhku wudu. Kami berjalan bersamaan menuju tempat wudu. Aku merasa kikuk karena tanganku dibimbingnya. Sunguh sebuah perbedaan yang sangat mencolok. Tanganku tidak sehalus tangannya, dan tidak juga mengeluarkan aroma harum bunga. Gaun gamisnya melambai-lambai ketika kakinya berayun.

Untuk kesekian kalinya aku melalui jalan menuju tempat wudu ini. Pualam berwarna gading seperti pantulan cahaya bulan. Aku melihat banyak sekali perempuan memakai gaun sama berwarna putih bersih. Hanya Siti Aliyah saja yang kulihat agak berbeda. Gaun yang dipakainya warna putih tulang. Tak ada yang bersuara apalagi tegur sapa. Semua seperti sibuk dengan diri masing-masing. Bahkan langkah-langkah mereka seperti suara zikir. Menakjubkan! Aku berdiri sejenak. Di hadapanku sebuah keran berbentuk bulat mengeluarkan air seperti pancuran tidak ada hentinya. Aku baru menyadari jika air yang mengalir ini tidak memercik kemana-mana. Padahal dia jatuh di lantai sama rata dengan lantai tempat aku berdiri. Apalagi mengalir, memercik saja tidak. Kembali aku terkagum dan berpikir. Mengapa air yang tumpah dari pancuran ini tidak jatuh melimpah ke lantai? Atau minimal memercik kemana-mana. Padahal dia jatuh di lantai yang datar? Aneh. Tekhnologi mana yang bisa membuat air jatuh yang tak putus siang dan malam namun tidak terlihat mengalir di tempatnya melimpah. Ajaib! Kusimpan rasa kagumku. Tidak ada yang tidak mungkin juka sang Maha berkehendak.

Baru saja aku menjulurkan tangan hendak mencuci tiba-tiba ada anak kecil kira-kira berusia tujuh tahun langsung nyerobot di pancuran persis di hadapanku. Padahal puluhan pancuran yang sama kosong berderet sepanjang dinding. Tidak ada aktivitas orang atau makhluk lainnya berwudu atau sekadar cuci tangan. Akhirnya aku mundur dua langkah ke belakang. Kubiarkan anak kecil ini mendahuluiku. Aku tidak berniat bergeser ke pancuran yang lain. Melihat wajahnya yang polos dan menyenangkan serupa tontonan yang mengasyikan. Bagiku tingkahnya sangat lucu. Tidak peduli dengan orang lain lalu menyerobot tanpa merasa bersalah benar-benar polos seorang anak. Ketika ia menunduk. rambutnya yang tergerai pindah ke depan semua. Spontanitas aku mendekat lalu menarik rambutnya ke belakang agar tidak ikut basah. Selintas dia menoleh dan tersenyum padaku. Masya Allah matanya menghipnotis. Indah sekali. Kali ini kutahan rambutnya agar tetap ke belakang. Rambut yang lembut panjang dan lurus berwarna hitam pekat. Usai berwudu dia menegakkan badan, kembali mata indah itu menatapku. Gemas sekali aku melihatnya. Wajah ASIA yang menarik, bermata bulat dengan alis dan bulu mata lentik. Tidak kusangka, dia meraih kedua tanganku lalu mencium punggung tanganku bergantian tanpa berkata-kata. Dari bahasa tubuhnya cukup bagiku. Itu merupakan isyarat jika dia mengucapkan terimakasih. Bibirnya dan nafasnya masih terasa hangat di punggung tanganku. Ingin sekali aku memeluknya saat itu. Namun aku menahan diri selain tak henti-henti terpukau dengan apa yang kulihat dan kurasakan.

Siti Aliyah masih menungguku agak jauh di belakang. Akhirnya aku pelan-pelan berwudu, menikmati sentuhan air yang sejuk mulai dari menimpa tangan ketika berbasuh, Lalu membasuh wajah hingga mencuci kaki. Selanjutnya aku menghadap kiblat dan berdoa. Siti Aliyah kembali menggengam tanganku. Kami kembali berjalan menuju dalam masjid kembali. Tapi kali ini Siti Aliyah mengajakku melalui jalan lain. Bukan jalan yang kami lalui tadi. Kami berjalan bersamaan. Aku terpukau kala melihat di sebelah kiri pada para perempuam mengaji dengan mata terpejam, tanpa Al quran di tangan, namun mulut mereka terus berkumandang tanpa henti. Masya Allah mereka para penghafal Al Quran semua? Apa benar aku berada di perut bukit di tanah Besemah? Apakah mungkin di tanah yang jauh dikatakan bumi religi ada kehidupan lain yang sangat kental keagamaannya.

Aku terbayang sebelum aku di bawa kemari, aku bersama Puyang berada di atas bukit sisi kiri dan kanannya jurang teramat dalam yang dasarnya dua sungai yang mengalir. Lalu kami berjalan menyisir setapak, berbelok, bertemu dengan bibir sungai lalu di seberangnya ada air terjun, ada jembatan dari akar pohon, di balik air terjun pintu gerbang menuju rumah suci ini. Aku mencoba merangkai pertemuan singkat itu. Puyang yang berwajah teduh yang menyebut dirinya adalah leluhurku, berperawakan tinggi besar dan berwajah agak ketimuran. “Siti Aliyah, tolong jelaskan tempat apa ini? Apakah suara yang mendengung orang mengaji itu dari sini?” Tanyaku sedikit bergetar. Ingin rasanya aku berlama-lama di sini.

Tiba-tiba aku merasa memilih untuk hidup di sini saja. Enggan untuk pulang ke alam nyata. “Benar, mereka adalah penghafal Al Quran. Entah berapa kali mereka menghantamkan dalam sehari. Namun demikianlah terus berulang seperti putaran jarum jam.” Jawab Siti Aliyah. Lalu kembali kami melangkah. Kali ini yang kulihat banyak sekali perempuan duduk timpuh tanpa bergerak sedikitpun, duduk dengan mata terpejam. Meski mulut mereka tidak bergerak, namun aku mendengarkan suara zikir yang ke luar dari nafas mereka. “Apakah mereka ahli zikir, Siti Aliyah?” Tanyaku penasaran. Siti Aliyah mengangguk pelan. Sebenarnya aku hendak bertanya banyak hal pada apa yang kulihat. Wajah-wajah teduh yang mendamaikan ini benar-benar membuatku sangat nyaman. Aku merasakan semua darah yang mengalir adalah aliran darah suci menyisir tiap nadi hinggu ke kepala.

Kali ini aku dan Siti Aliyah berbelok ke kanan. Aku menoleh dan mencari-cari posisi tiang tempatku selama ini duduk timpuh menunggu Puyang. Ternyata cukup jauh meski masih tampak. Sekarang di hadapanku berderet cangkir berwarna emas. Semuanya berisi air. Lalu di piring kecil terdapat tiga buah mirip kurma.“Ambillah Putri Selasih, minumlah.” Aku baru sadar jika selama ini aku tidak merasakan lapar dan haus sama sekali. Seperti saat ini pun aku tidak merasakan haus dan lapar. Namun tawaran Siti Aliyah tidak bisa kutolak. Akhirnya kuambil satu piring kecil berisi tiga buah yang mirip kurma, dan satu cangkir berisi air bening. Aku memilih duduk di agak sudut ruangan, karena ada beberapa orang melakukan hal yang sama denganku. Mengambil satu piring kecil dan satu cangkir. Siti Aiyah hanya mengambil secangkir air. Dia ikut duduk di hadapanku.

Aku mulai minum dengan membaca doa terlebih dahulu. Setelah kuteguk, aku merasakan air itu meyerap ke seluruh tubuh. Bahkan aku dapat melihat air itu mengalir melalui pembuluh-pembuluh darahku. Kupungut sebutir buah di piring kecil lalu kugigit. Oh! Kurma. Aroma harum tanpa biji terasa nais dan kenyal. “Habiskan Selasih.” Ujar Siti Aliyah. Aku mengangguk. Aku tidak merasakan lapar atau kenyang di perut. Namun merasakan kenyamanan menikmati secangkir air putih dan tiga buah kurma tanpa biji. “Siti Aliyah, sesudah ini, ketika aku dijemput puyangku, lalu kembali ke jasadku, apakah aku masih diperkenankan untuk kembali ke sini? Untuk sekadar berkunjung melepas rindu. Sebab bagaimanapun tempat ini pasti akan membuatku terkenang dan ingin kembali. Bagaimana caranya jika aku hendak kembali ke mari? Apakah aku harus minta izin terlebih dahulu? Dengan siapa?” Pertanyaanku beruntun dan berharap Siti Aliyah menjawab bisa kapan saja aku mau. “Tentu saja boleh, namun bukan dengan fisikmu. Tempat ini tempat suci kerap dipakai oleh para leluhur untuk menempah diri seseorang yang memiliki aulia yang tinggi. Untuk itu, jagalah pribadi dan hatimu. Dekat dan dekatlah selalu pada Sang Maha, bahkan setiap hentak nafas ajaklah seluruh patikel tubuh kita untuk selalu menyebutnya.” Ujar Siti Auliyah lagi.

Aku mengangguk setelah menghabiskan buah yang ke tiga. Seorang perempuan separuh baya meminta izin mengambil cangkir dan piringku. Aku mengangguk sambil sekilas membalas senyumnya. Aku dan Siti Aliyah kembali bangkit. Kali ini aku dibimbingnya ke tempat agak jauh ke belakang. Aku kembali menoleh tiang penyanggah tempatku biasa duduk. Semakin jauh. Kali ini aku diajak masuk ke dalam ruangan yang luas tempat dipajangnya busana-busana dengan aneka warna lengkap dengan kerudung dan jilbab syar’inya. Aku seperti berjalan di sebuah galeri busana muslim. Aku terpukau melihatnya. Semuanya terlihat indah. “Pilihlah, ambillah salah satu Selasih yang mana engkau suka.” Aku tak dapat menahan rasa gembira. Mataku membelalak ketika mendapatkan tawaran tersebut. Aku segera menyapu semua ruangan. Semua warnanya lembut meski ada yang merah, kuning, hijau dan lain-lain. Aku segera mendekat pada bagian busana yang berwarna gading. Semua pakaian lengkap dengan jilbabnya. Namun yang berwarna gading ini aku melihat dilengkapi dengan tas kecil terselempang di dadanya. Kusentuh tas kecil itu. Berat. Ada isinya. Lalu pelan-pelan kubuka. Masya Allah sebuah andarun berwarna emas ada di dalam tas kecil itu. Aku menatap Siti Aliyah. “Bolehkah aku mengambil busana ini yang lengkap dengan tas berisi andarunnya?” Ujarku penuh harap. Mata teduh Siti Aliyah tersenyum pertanda setuju. Siti Aliyah membantuku menurunkan busana itu. “Pakailah sekarang juga. Inilah pakaianmu selamanya. Ternyata pikiran kita sama. Aku memang berharap kau memilih busana warna ini. Ternyata benakmu sepikiran dengan apa yang kupikirkan.” Ujarnya lagi. Aku hanya jatuh cinta dengan warna lembutnya. Aku tidak paham mengapa harus warna ini. Apakah setiap warna punya kelebihan masing-masing walahu alam. Aku segera memakainya. Dan ternyata sangat pas di tubuhku. Aku merasakan kenyamanan yang luar biasa. Siri Aliyah membantuku memakai kerudungnya yang panjang.

Tak lama aku merasakan diriku berubah menjadi seorang perempuan yang anggun. Aku tersenyum lebar pada Siti Aliyah. “Pantaskah aku memakai busana ini Siti Aliyah?” Ujarku sembari memegang-megang bahannya yang halus. Aku tidak tahu busana ini terbuat dari bahan apa. Yang jelas nyaman, dan tidak merasakan risih meski seumur hidup baru kali ini memakai busana seperti ini. Sambil masih tersenyum-senyum kami kembali berjalan bersamaan. Wangi Siti Aliyah seakan berpindah padaku. Aku merasakan tubuhku ikut wangi. Dan aroma wangi itu tidak membosankan. Yang membuat aku lebih bahagia adalah aku seakan-akan ikut bergerak anggun. Setiap gerakan, maka busana yang kupakai akan bergerak seakan menujukan kamulah perempuan sejati. Tak berapa lama aku sudah sampai di tiang tempatku biasa berzikir. Siti Aliyah mohon diri sejenak menurutnya dia mau mempersiapkan beberapa belak yang harus kubawa pulang. “Apa yang harus kubawa pulang Siti Aliyah. Aku sudah berterimakasih banyak dengan apa yang sudah kuterima saat ini. Kebaikanmu sungguh tidak akan pernah kulupakan.” Ujarku terharu. Siti Aliyah memetikan jemarinya sembari tersenyum dan berlalu di hadapanku.

Aku kembali duduk timpuh lalu memajamkan mata, kembali larut pada satu kerinduan, zikir dan terus berzikir. Entah berapa lama aku duduk timpuh dan larut dalam zikir itu, tiba-tiba aku merasakan langit berubah menjadi merah jingga. Ada desiran angin lembut menerpa wajahku. Aku merasakan akan nada yang datang menemuiku. Tapi aku tidak tahu siapa. Oh, ramai sekali. Tapi entah dari arah mana. Aku ragu membuka mata. Sebab aku takut kehilangan rasa yang dapat membawaku sangat nyaman ini. “Bukalah matamu Selasih, sekarang mari kita temui leluhurmu yang sudah menunggumu di sana,” Siti Aliyah menggamit lenganku. Aku segera membuka mata dan langsung berdiri. Rasa antusias ingin bertemu dengan leluhurku membuat semangatku seperti bara. Siti Aliyah tersenyum melihat gerakanku cepat sekali. Sebenarnya aku ingin berlari menuju tempat yang disampaikan Siti Aliyah. Namun kembali aku harus menahan diri. Jika aku terburu-buru tentu akan hilang penampilan anggunku dan itu tidak cocok dengan pakaian yang kukenakan. Tapi dorongan rasa rindu membuat tanganku sedikit bergerak menggangkat gaun hingga melebihi batas mata kaki. Aku ingin berlari!

Akhirnya aku dan Siti Aliyah sampai di depan pintu sebuah ruangan. Ada dua perempuan dan dua lelaki berdiri berseberangan dan mempersilakan kami masuk dengan sopan. Busana warna kuning yang dikenakan mereka, membuat ruang yang ditujuk terkesan sangat agung. Aku mengucapkan salam sebelum masuk. Baru satu langkah di pintu, aku melihat semua berdiri menatap pada kami berdua. Aku berhenti sejenak dangan tatapan kagum dan sulit untuk kulukiskan. Pelan-pelan aku melempar pandang dalam ruangan yang dengan interior yang serbah mewah itu. Puyang Pekik Nyaring berjalan menghampiriku. Diikuti puyang Ulu Bukit Selepah, Kakek Andun, ada kakek Njajau, Nenek Kam, Nenek Ceriwis Kakek Rabuk, Macan Kumbang, semuanya lengkap.

“Puyang!” Aku tercekat. Aku tak dapat menahan haru. Puyang Pekik Nyaring mengembangkan kedua belah tangannya siap memelukku. Aku berlari ke dalam pelukannya. Aku tak mampu menggambarkan perasaanku saat itu. Rasa gembira, rindu, sedih, dan semuanya bercampur aduk jadi satu. Lalu puyang Ulu Bukit Selepah pun demikian, memeluk erat tubuhku. Bergantian mereka menghampiri dan memelukku. Terakhir nenek Kam. “Kau bukan anak kecil kemarin yang manja dan cengeng, tapi sekarang sudah menjadi seorang gadis manis, anggun, dan menyejukkan.” Ujar Nenek Kam sambil membelai wajahku. Aku membenankam kepala dalam pelukannya berkali-kali. “Kapan aku pulang, Nek. Nenek tahu jasadku terkapar di rumah sakit dengan kaki patah?” Ujarku sedikit menangis. Nenek Kam memeluk dan mengelus kepalaku. “Iya, nenek tahu. Itu adalah bagian takdir yang harus kau jalani. Maka jangan berkecil hati ketika mendapati keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Jalani saja apa yang terjadi dengan tetap berbesar hati. Kami sengaja menjemputmu. Malam ini akan kami antar dirimu.” Ujar Nek Kam lagi. Tak ada yang paling bahagia yang pernah kualami seperti saat ini. Terakhir aku mendekat pada puyang yang menyambarku ketika terjadi pertempuran dengan peri Rara dan Ratih. Senyum sumringah beliau menyambutku dengan suka cita. Aku bermaksud mencium tangannya. Rupanya beliau meraihku lalu memelukku erat sekali. “Puyang bangga padamu. Angkatlah derajad tanah Besemah dengan penuh tanggungjawab. Engkau adalah salah satu pewaris tanah Besemah ini. Laksanakan amanah sebaik-baiknya, Cung. Suatu saat Puyang akan menjemputmu kembali.” Aku hanya bisa mengangguk terharu. Meski aku tidak tahu Puyang apa nama beliau namun aku yakin darah beliau mengalir di darahku. Aku merasakan kedekatan batin padanya. Sejak pertama bertemu, aku merasakan beliau tidak merasa asing.

Pertemuan hari ini benar-benar membuatku terharu. Aku berada di antara orang-otang yang mencintaiku, menjagaku, dan berkorban untukku. “Selasih, kenalkan ini Datuk Ratu Agung dari Gunung Bungkuk. Menurut beliau, dia sering melihat dan mengiringimu. Ini Puyang dari Selatan, tepat di belakang gunung Dempo yang menghadap ke laut Hindia. Ini datuk Raden Pagar Alam, dari bukit Sebelat, ini datuk Raden Empek Puluh Pintu dari Gunung Kerinci, Inyiak Panglimo Sutan Basah dari Gunung Talang” Puyang mengenalkan satu persatu datuk, inyiak, nenek gunung dari berbagai tempat sepanjang Bukit Barisan di Sumatera. Ada yang memakai gamis putih panjang, sebagaian lagi memakai pakaian adat masing-masing daerah. Aku tersenyum kala melihat Putri Bulan melambaikan tangan agak jauh ke belakang. Perempuan wangi bunga itu juga hadir di sini. Lalu puyang menujuk ke arah Selatan ruangan. Di sana ada berderet lelaki dan perempuan dengan senyum. “Mereka adalah sebagian sesepuh-sesepuh Besemah Libagh, Puyang-puyangmu yang telah membangun cikal bakal tanah Besemah ini, Selasih. Sebagaian lagi tidak bisa hadir mereka tegah melaksanakan ibadah di tanah suci Mekkah” Lanjut Puyang lagi.

Sementara beliau belum mengenalkan diri siapa beliau sebenarnya. Aku hanya mampu mendekapkan tangan dari jauh pertanda hormat dan salamku pada mereka yang dikatakan para sesepuh Besemah Libagh. Selebihnya Puyang menyampaikan ucapan terimakasih pada sesepuh-sesepuh yang hadir dan telah banyak membantu menyelamatkan tanah Besemah dan menyelamatkan aku sebagai salah satu darah besemah dari peri dan kerajaan Banyuwangi. Pendek cerita pertemuan itu intinya silaturahmi atas kemenangan yang telah mereka peroleh. Aku bahagia sekali melihat orang-orang yang kukenal ini dalam keadaan baik-baik saja. Aku mencari-cari apakah dikeramaian ada Gundak? Tapi jika dia ada pasti dia akan minta duduk paling depan agar terlihat olehku. Ah aku jadi rindu pada Gundak, anak kepala suku Bukit Selapah yang manja itu.

Akhirnya malam itu aku seperti ratu diantar sekian banyak orang menuju jasadku. Sukmaku melintas di jalan terang dan lurus. Senyum dan aroma wangi bunga dari para sesepuh membuatku seperti di taman bunga. Pelan-pelan, aku menyusup dalam jasadku diiringi zikir para Puyang, kakek, dan nenekku. Dalam sekejap aku telah utuh menyatu dengan tubuhku. Tiba-tiba peluh mengucur sangat deras. Jasadku yang tengah terbaring basah kuyup. Aku menjadi gelisah. Apalagi kala menyadari para sesepuhku akan pulang meninggalkan aku di sini dalam keadaan terbaring dengan kaki patah. Aku menangis sesegukan.“Puyang, izinkan aku ikut kembali,” pintaku memegang tangan Puyang Pekik Nyaring. Sudah tergambar aku akan menunggu dalam keadaan sepi tanpa bisa beraktivitas apa-apa. Aku menangis sembari merengek minta ikut. Puyang memelukku sembari mengelus-ngelus kepalaku. Kulihat tak sedikit yang menitikkan air mata. “Cung, saat ini hiburlah dulu kedua orang tuamu. Selama ini mereka hanya melihat fisikmu yang tak berdaya, tanpa senyum, kehilangan keceriaan, tanpa suara. Lihatlah wajah mereka, betapa mereka sebenarnya tengah menyimpan duka yang teramat dalam. Mereka kehilangan harta benda belumlah seberapa perih jika dibandingkan dengan menghadapi jasadmu yang diam tak bergeming seperti mayat hidup. Bantu keadaan mereka dulu ya, Cung. Kita baru menghadapi masalah besar, dan saat ini tengah bersyukur dan bergembira karena lepas dari masalah besar itu. Secara fisik dirimu saat ini memeng terbaring tak berdaya. Tapi jangan khawatir, kapan saja dirimu bisa melancong ke Uluan, tanpa harus membawa besi yang tergantung di ujung kakimu ini. Bersabar dan bersyukurlah, Cung,” Puyang Pekik Nyaring mengusap air mataku.

Nenek Kam sibuk mengelus-ngelus kakiku. “Kam, biarkan kesembuhan Selasih berproses sesuai dengan alam manusia. Ada saatnya kita harus turun tangan membantunya. Biarkan Selasih menjalani takdirnya sebagai anak manusia. Dia tengah ditempah untuk menjadi pribadi tangguh tidak hanya di alam gaib, namun di alam juga nyata. Dia bisa memperbaiki dirinya sendiri, Insya Allah. Tapi proses ini memang harus dia jalani. Ingat Cung, jangan dilawan.” Kembali Puyang Pekik Nyaring mengingatkan aku.

Tak lama satu persatu aku mencium tangan mereka. Para sesepuh akan pulang. Aku melihat mereka kian menjauh. Aku kembali manangis sesegukan. Aku tak mampu menahan diri. Ibu yang tengah tertidur akhirnya terbangun mendengar tangisku. “Nak, Nak, ada apa? Sakit? Ada yang sakit, Nak. Bilang sama Ibu?” Nada suara ibu bergetar dengan ekspresi cemasnya. Namun aku belum bisa mengendalikan diri. Rasa sedih ditinggalkan oleh para sesepuhku membuat air mataku mengalir tak terkendali. Aku tersedan-sedan menahan tangis, tak mampu untuk berbicara. Ibu sibuk mengambil handuk kecil lalu mengusap wajah dan tubuhku. Bapak-bapak yang tengah menjaga anaknya satu ruangan denganku ikut mendekat dan bertanya ada apa. “Mengapa Dedek, Bu? Ada apa dengannya? Selama ini dia diam saja, tidak ada keluhan. Mengapa tiba-tiba dia menangis?” Ujar Bapak itu ikut cemas. Si Bapak memegang tangan dan kepalaku sembari membaca-baca ayat-ayat Al quran. Mungkin beliau kira aku tengah kesurupan atau digangggu makhluk halus. Ibu sibuk mengambil air lalu memberiku minum. Beberapa perawat datang ke ruangan lalu memeriksa detak jantung, suhu badan, dan lain-lain. Mereka tidak tahu kalau aku sedih karena berpisah dengan sesepuhku setelah beberapa hari berada di alam mereka. Oh, beberapa bulan. Akhirnya aku tertidur juga dengan mata bengkak.

Waktu sudah menunjukan pukul 03.00 dini hari. Hanya bunyi pintu dibuka dan langkah kaki perawat saja yang terdengar mengisi lorong rumah sakit yang sesekali memeriksa pasien sambil membawa botol infus dan jarum injeksi. Selebihnya hanya suara erangan halus dari pasien dan makhluk asral yang iseng.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *