HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT VI (86A)

Karya RD. Kedum

Usai solat magrib berjamaah, aku dan rombongan sudah berada di luar area istana. Aku belum membuka pagar gaib yang dibangun Nini Ratu. Aku masih menunggu sesepuh yang lain. Kami berkumpul di atas tanah berpasir.

Langit nampak terang dan bersih. Cahaya remang sepanjang pantai, dihiasi lampu-lampu rumah kayu penduduk nelayan dan sebagian lagi pedagang-pedagang makanan kecil dan minuman. Ada juga tempat hiburan mirip cafe, masih sore seperti ini sudah memutar musik-musik yang memekakkan telinga. Kulihat rumah yang kuhancurkan tadi malam masih rata dengan tanah.

Di alam nyata, ada beberapa pasang anak manusia duduk santai berpasang-pasangan menghadap ke laut. Mereka duduk persis di tengah-tengah istana jika di alam gaib. Aku yakin mereka bukan pasangan suami istri. Tawa kecil dan saling peluk dan berciuman di alam terbuka membuat aku muak melihatnya.
“Kanjeng…” Nyi Ratih menegurku. Aku tahu beliau tengah membaca perasaanku.
“Izinkan hamba menyingkirkan anak itu, Kanjeng” Kata Nyi Ratih. Dengan hanya meniup pasangan-pasangan anak manusia itu terbang dipindahkan Nyi Ratu ke tempat lain. Aku tidak bisa bayangkan perasaan takut anak manusia itu. Pasti mereka mengatakan area pantai ini angker setelah mereka menyadari terlempar jauh. Sukur-sukur mereka kuat, kalau batinnya tidak kuat maka anak itu akan stress merasa dihantui peristiwa ini.
“Biarlah, Kanjeng. Mereka akan jadi contoh yang lain dan menjadi pelajaran agar tidak berbuat tidak baik di alam ini” ujar Paman Gola berdiri di hadapanku. Aku mengangguk setuju. Aku tidak suka area istana dikotori dengan perbuatan mesum anak manusia.

Kunikmati beberapa bintang terang. Alam seakan mendukung pekerjaan malam ini. Angin berhembus pelan, ombak berdebur lembut seakan tahu perasaanku. Dadaku sedikit bergetar ketika angin berhembus mulai kencang lalu datang mahluk berduyun-duyun dengan warna putih semua. Aku segera duduk di depan bersama Eyang Putih, Nyi Ratih, Eyang Gola, dan sesepuh lainnya. Eyang Putih bersama Eyang Kuda dan Puyang Purwataka nampak tersenyum lebar menyambut para Kyai bersama santrinya. Tak lama satu gelombang lagi pasukan makhluk asral yang datang dengan pakaian putih lelaki dan perempuan. Kali ini lebih banyak. Mereka rombongan dari Puyang Purwataka. Dalam sekejap area ini telah penuh dengan pasukan berbaju putih.

Malam ini pembangunan istana akan segera dimulai. Ketika pelan terdengar azan isya, semua pasukan bergegas ke masjid. Area istana sepi kembali. Kami pun ikut bergegas ke masjid terdekat.

Ketika kami kembali ternyata Puyang Pekik Nyaring bersama rombongan telah datang dan duduk. Aku segera menghampiri dan memeluk mereka. Nenek Kam nampak tersenyum bahagia. Tak henti-henti beliau mengelus pipiku. Demikian juga Macan Kumbang, senyumnya selalu tersungging membuat jangutnya yang mulai panjang bergerak-gerak.
“Baginda Ratu dari Besemah” Bisik Macan Kumbang. Tanganku langsung mendarat di lengannya.
“Kalau sudah jadi pemimpin, harus pandai jaga wibawa. Tidak bisa seenaknya. Tidak boleh bermanja-manja depan umum. Paham Ratu? Aku siap menjadi penasehat baginda Ratu” Lanjut Macan Kumbang lagi. Kami tertawa berderai. Yang lain pun ikut tertawa mendengar candaan itu.

Setelah semua sudah berkumpul, akhirnya Eyang Kuda berbicara dalam bahasa Jawa halus sekali. Eyang menyampaikan terimakasih atas kehadiran para Kyai dan santri yang siap membantu pembangunan istana. Selanjutnya beliau menyuruhku berdiri di sampingnya, diapit oleh Eyang Putih dan Nyi Ratih. Aku mengucapkan terimakasih pada tetamu dan menyampaikan beberapa hal sesuai tujuan malam ini. Terakhir Eyang Putih yang berbicara, dan langsung membagi kelompok sesuai dengan rencana. Pendek kata, meski dihadiri ribuan makhluk asral dan manusia pantai ini tetap hening. Cahaya putih yang terpancar dari tubuh para Kyai, santri, dan jamaat Hindu Dharma membuat area pantai terang benderang.

Melihat semakin banyak yang berdatangan, aku diperintah Eyang Putih untuk mengganti busanaku dengan pakaian kebesaran kerajaan segera. Seketika aku nampak lebih mencolok dari yang lainnya. Pernak-pernik pakaian kebesaran, ditambah mahkota bertengger di kepala, membuatku seperti ratu agung yang memancarkan aura karismatik seketika. Apalagi ketika tongkat kebesaran kerajaan kukeluarkan. Aku kaget sendiri dengan pengaruh busana yang kupakai dan atribut kerajaan yang kupegang. Mahkota kecil dari emas dihiasi permata yang berkilau membuat batinku begitu yakin jika aku mampu memimpin negeri ini. Sekejap aku bercermin pada telapak tanganku. Masya Allah, aku sendiri tidak kenal dengan wajahku.
“Kau cantik sekali Cung” Mata Kakek Njajau tak berkedip menatapku. Demikian juga kakek Andun dan Nenek Ceriwis. Bahkan Nenek Ceriwis membantu merapikan busana yang kupakai. Ada rasa bangga, ada juga rasa malu menyusup dalam batin. Malam ini aku menjadi orang nomor satu di antara ribuan orang soleh dan soleha, di antara puluhan Kyai dan Pandita, di antara puyang, kakek, nenek, dan guru-guruku.

Entah darimana asalnya tiba-tiba angin berhembus kencang ke arahku. Aku segera mengalihkan hembusan angin ke luar dari kerumunan massa yang dihadirkan untuk membantu pembangunan. Rupanya mereka rakyat Timur Laut Banyuwangi. Mereka spontanitas kembali ketika aku menggenakan atribut kerajaan ini. Semua di luar dugaanku.

Di luar arena mereka berteriak-teriak menyebut-nyebut “Kanjeng Ratu junjungan hamba, izinkan kami kembali. Izinkan kami pulang ke kampung halaman kami!” Aku meminta Nyi Ratih menemui dan memberi penjelasan pada mereka agar duduk diam dan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing. Aku segaja membatasi mereka dengan pagar, agar mereka yang baru hadir seperti gelombang tidak segera menyatu dengan tamu-tamuku. Aku takut kehadiran mereka mengacau jalannya rencana pembangunan.

“Mereka rakyat kita, Kanjeng Ratu. Ada ratusan kepala keluarga yang kembali. Mereka sudah hamba amankan dan hamba anjurkan berdoa membantu memberikan energi untuk pembangunan ini. Mereka ingin turut andil, Kanjeng” Nyi Ratih membawa ekspresi bahagia. Beliau sangat senang karena ratusan warga telah kembali.

Dalam batin aku bersyukur karena sudah ada rakyat yang pulang. Mereka akan kuarahkan kelak dengam tegas. Semoga mereka bisa mejadi rakyat yang sepenuhnya menyatakan cinta pada kerajaan. Aku kembali semangat, artinya usai pembangunan istana tidak kosong. Namun akan kembali diisi oleh rakyat kerajaan ini sendiri.
“Kanjeng Ratu, hamba Pendita Siwa Sri Satya. Izinkan hamba ikut membantu menjadi tenaga sukarela pembangunan pure, Kanjeng,” interaksi batin terjadi. Aku memandang Nyi Ratih sekaligus bertanya siapa Pandita Siwa Sri Satya itu? Nyi Ratih menjelaskan jika beliau adalah Dewanagari, guru hindu kerajaan ketika itu. Ketika kerajaan runtuh beliau memilih bertapa di gunung Lawu” Lanjut Nyi Ratih. Mendengar itu tanpa pikir panjang kutarik beliau, lalu bergabung dengan para Sulinggih, pedanda, bhagavan, Mpu, Bujangga, Maharsi, dukuh dan lain-lain yang lebih dulu berada di lokasi. Mereka adalah dwijati, orang-orang suci yang telah mengalami kelahiran ke dua.

Eyang Putih menyerahkan pimimpin pembangunan pada seorang Kyai. Beliau pimpinan salah satu pondok pesantren di Jawa Timur ini. Beliu dibantu oleh sepuluh orang Kyai dan rekan-rekannya dalam mengarahkan posisi para santri dan pekerja, baik dari bangsa jin maupun dari bangsa manusia. Beliaulah yang mengatur strategi pembangunan istana. Dengan singkat, beliau menyampaikan langkah-langkah awal yang harus mereka kerjakan. Termasuk juga membagi beberapa kelompok besar sesuai dengan tugas masing-masing.

Di bagian utara sekelompok makhluk asral dari golongan Hindu Dharma, berpakaian berbeda dengan kaum santri, sudah berkumpul di pimpin oleh seorang Sulinggih. Sebagian mereka memakai pakaian putih dengan kain kotak-kotak dan ikat kepala. Sebagian lagi hanya memakai celana berlapis kain tanpa baju. Ada juga yang perempuan memakai kebaya dan tenun Bali. Rambut mereka disanggul rapi ke samping. Ada juga yang diikat sekenanya atau dibiarkan panjang terurai. Sekuntum kamboja terselip di telinga. Mereka adalah dara Bali yang berwajah ayu, tersenyum manis dengan lesung pipi.

Sejak awal sang Pandita sudah memimpin ritual keagamaan. Banten (sajen), janur, bunga warna, aneka buah dan jajanan sudah berjejer sejak tadi. Mereka sudah duduk (asana) dengan posisi tangan diletakkan ke lutut dengan mudra. Beliau menarik nafas sembari mengucapkan Om prasaan sthiti satira diva suci nirma yan amasvaha (Om Sang Hyang Widhi Wasa, yang maha suci, pelihara kehidupan hamba, hamba puja Dikau dengan sikap yang tenang). Asap dupa meliuk-liuk seirama gita.

Di hadapan jamaat dharma, sesajen yang ditata sedemikian rupa tersusun rapi. Canang-canang berderet di hadapan berisi irisan pisang, sekerat tebu, kembang-kembang lambang para Dewa. Ada kembang berwarna putih, dipersembahkan pada Sang Hyang Iswara dari Timur. Ada bunga berwarna kuning dipersembahkan untuk Sang Hyang Maheswara dari Barat. Selanjutnya, bunga berwarna merah untuk Dewa dari Selatan yaitu Sang Hyang Brahma. Dari Utara ada Sang Hyang Wisnu yang dilambangkan dengan bunga yang berwarna gelap. Selanjutnya di tengah-tengah canang ada bunga rampai atau pancawarna dipersembahkan pada Sang Hyang Panca Dewata. Semuanya dipersembahkan pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam waktu singkat, gema gita berkumandang nuansa sakral menghiasi sisi utara istana.

Aroma kembang dan gaharu menguap mengisi ruang sisi utara. Asap dupa menari-nari kembali ketika seorang Pandita menyapukan asap ke atas canang sari yang tesedia. Para Pendada, Bujangga, Maharsi, Bhagawan, Mpu, dan Dukuh memegang canang satu-satu. Mereka melakukan ritual sesuai rangkaian keagamaan mereka.

Mereka terbagi beberapa kelompok, ada yang khusus membangun pure dengan desain tetap memperhatikan nilai budaya, ada yang bertugas mengukir dinding pagar dan istana bersama santri yang pandai membuat kaligrafi. Rupanya desain istana sudah disiapkan oleh Kyai yang memimpin pembangunan. Perpaduan dua budaya akan jadi satu, yaitu islami dan hindu sebagai ciri khas kerajaan.

Aku tidak bisa bayangkan pekerjaan malam ini. Lautan sosok manusia dan makhluk asral yang menyebar di area istana menggambarkan betapa besarnya keagungan Allah. Aku segera membuka pagar gaib yang menyelubungi area istana. Kudengar Eyang Gola terisak melihat puing-puing istana. Lelaki tua itu tak mampu menahan haru batinnya.

Kami diminta Kyai membentuk formasi terlebih dahulu. Ribuan yang bertugas bekerja, sudah duduk di persis di batas area rencana istana. beberap orang dengan cepat memberi tanda posisi duduk. Demikian juga pekerja yang bertugas membangun masjid dan pure. Mereka juga sudah duduk di hadapan lahan yang akan dibangun.

Sepuluh ribu santri makhluk asral yang berasal dari seluru penjuru, ditambah dengan santri golongan manusia, menyebar mengelilingi area istana. Ternyata sepuluh ribu santri itu belum cukup memenuhi area istana. Masih ada bagian yang putus belum terisi. Sang Kyai kembali memanggil lima ribu pasukan santri baru. Mereka adalah pasukan yang bertugas berzikir dipimpin oleh beberapa orang Kyai pula.

Inilah bedanya alam manusia dengan alam tak kasat mata. Mengumpulkan puluhan ribu makhluk tidaklah susah. Cukup dengan sekali hembusan nafas, mereka sudah hadir di hadapan mata.

Aku bersama sesepuh yang lain berdiri di belakang para santri yang bertugas berzikir. Sejak siang aku sudah merasakan akan muncul kekuatan-kekuatan batin maha dasyat dalam pembangunan ini. Bagaimana tidak jika kekuatan batin puluhan ribu makhluk, ditambah dengan kekuatan Sang Khalik bisa diremehkan? Membayangkannya saja aku sudah merinding.

Tak lama, bumi seperti bergetar ketika Seorang Kyai membuka awal pengerjaan dengan bersama-sama membaca umul kitab terlebih dulu. Lalu dilanjutkan dengan syalawat, tasbih, tahmid, dan tahlil. Rangkaian doa pun menggema serentak. Satu jam kemudian diimami oleh seorang Kyai, zikir pun berkumandang. Gema zikir seperti cahaya menerangi langit yang gelap. Pelan-pelan, kekuatan zikir mendorong pasukan santri dan tokoh-tokoh agama Hindu Dharma bergerak serentak. Dalam waktu sekejap mata, tanah bangunan istana bersih dan datar.

Sementara ribuan pasukan hindu pun di sisi utara melakukan hal yang sama. Mereka menyendandungkan gita memohon pada Sang Hyang Widhi Wasa. Aku melihat keajaiban terjadi di depan mata. Bagaimana kekuatan-kekuatan doa masing-masing agama ini tidak berbenturan. Kekuatan doa itu seperti ada batasan dinding sehingga bisa bekerja sendiri-sendiri.

Benar saja, apa yang kuperkirakan terjadi. Suara zikir penuh semangat dari ribuan santri justru merupakan energi para pekerja. Aku tak mampu melihat pekerja dengan awas. Yang kutatap adalah deru angin mendengung seperti dengungan jutaan lebah. Area istana seperti pusaran angin yang melambungkan daun dan ranting.

Eyang Putih, dibantu Puyang Pekik Nyaring, Puyang Ulu Bukit Selepah, dan, Puyang Purwaraka dan beberapa orang sesepuh lainnya duduk bersila khusuk mengamalkan sesuatu. Entah dari mana, kulihat di tengah seleweran makhluk asral seperti lebah terbang itu, berdatanganlah tiang-tiang besar dan langsung berdiri.

Aku tidak mampu lagi melihat keajaiban-keajaiban itu meski lewat mata batin. Semuanya berjalan sangat cepat. Dalam hitungan menit di sisi bangunan istana sudah berdiri masjid dan pura. Entah bagaimana awal pembuatan pondasinya aku tidak tahu. Mulutku tidak henti mengucap kebesaran Sang Maha Agung. Dadaku seperti turut berpacu pada gema zikir yang makin lama semakin kencang, kompak dan semangat. Demikian juga para Sulinggih dan jamaatnya, mereka pun tak kalah semangatnya melantunkan gita.

Rasanya belum lama degup jantungku ikut berpacu bersama zikir yang menghentak-hentak. Tiba-tiba aku sudah melihat wujud istana di hadapanku.
“Allahu Akbar’ Aku takjub bukan main. Air mata haru meleleh. Deras sekali. Tiba-tiba aku teringat Bapak dan Ibuku. Mereka tidak tahu sama sekali jika aku berada jauh di pulau seberang. Demikian juga kakek Haji Majani dan Kakek Haji Yasir. Siapa yang memperkirakan jika Putri Selasih berada di sebuah kerajaan kecil, tengah berjuang dengan makhluk-makhluk pilihan, membangun sebuah kerajaan, dan Putri Selasih adalah Ratunya?

Dengungan seperti ribuan lebah di antara zikir dan gita masih menderu. Meski istana, masjid, dan pure sudah berdiri di depan mata nampaknya pekerjaan belum selesai. Aku tidak melihat alat berat yang bekerja di sini seperti di alam nyata. Aku hanya melihat keajaiban-keajaiban yang tiba-tiba ada.

Tiba-tiba aku mendengar suara gemuruh lebih kencang. Bahkan kurasakan bumi sedikit bergetar. Dari langit aku melihat beberapa bubungan atap yang sangat besar dan megah, seperti terbang rendah pelan-pelan merapat menutupi istana. Beberapa kali aku mengusap air mata. Berapa kali pula aku meyakinkan diri jika aku tidak bermimpi?

Sementara yang berzikir seperti orang tidak sadar dengan mata terpejam dan tubuh yang berguncang-guncang. Energi yang terhimpun memang luar biasa dasyat. Aku sangat sulit untuk berkata kecuali lafas takbir yang terus mengalir. Ternyata benar adanya, tidak ada yang tidak mungkin di alam ini ketika Sang Maha berkehendak. Jika bukan kehendak Sang Maha, mustahil semua ini terjadi.

Pemandangan di depan mataku kali ini bukan ilusi. Tapi nyata adanya. Aku sangat bersyukur diberi kesempatan menjadi saksi mata keajaiban ini. Jika dibandingkan dengan alam nyata, dihadapanku kali ini persis seperti melihat tangan terampil yang sedang melukis. Bedanya jika di alam nyata pelukis akan menuangkan idenya di atas kanvas, di sini aku melihat lukisan itu wujud dalam bentuk nyata.

Aku tidak tahu waktu sudah menunjukkan pukul berapa. Tepat tengah malam aku sudah melihat bangunan-bangunan sudah berdiri megah. Beberapa pohon entah dari mana asalnya, tumbuh subur menjulang. Satu di depan masjid, satu lagi di depan Pure. Belum lagi taman-taman baik di depan istana maupun di depan rumah ibadah juga sudah selesai. Aku masih melihat para pekerja seperti lebah, lalu tiba-tiba semua yang mereka kerjakan wujud. Beberapa bagian dinding istana seperti relief berisi peristiwa pekerjaan pembangunan istana ini. Reliefnya benar-benar hidup. Ada pancuran, kolam dan taman dialiri sungai kecil yang gemericik. Mengalir di samping istana langsung ke laut.

Melihat keajaiban-keajaiban ini membuatku semakin kagum pada kebesaran Sang Maha. Dalam sejarah, legenda, mitos di tanah air kerap aku dengar kisah-kisah menarik di luar nalar. Misalnya bagaimana masjid Demak yang dibangun oleh Sunan Kalijaga dengan tiang terbuat dari tatal, hingga kini tetap berdiri kokoh. Ada bangunan masjid kuno di Kota Bau Bau, yaitu Masjid Agung Walio. Konon ada pintu menuju Makkah di belakang mighrapnya. Masjid Nurul Yakin atau Masjid seribu pintu, ada juga misteri pintu di bawah tanahnya bisa menuju Makkah. Ada candi Borobudur, candi Prambanan, candi Mendut, dan puluhan candi yang tersebar di tanah air baik yang masih utuh mau pun yang belum sempat di pugar, tidak terlepas campur tangan makhluk asral. Tanpa izin Sang Maha Khalik, mustahil semuanya bisa berdiri. Aku berdecak kagum tiada henti.

Aku mendongak ketika langit terlihat makin terang. Di atas banyak sekali makhluk-makhluk asral seperti cahaya mengitari area istana, sesuai arah jam. Sementara di bawah seperti lebah kadang-kadang kelap-kelip seperti kunang-kunang. Mereka yang berkeliling, mirip seperti orang yang tengah tawab.

Secara batin sebenarnya aku sangat ingin bisa lebih dekat dengan istana. Rasanya tidak sabar ingin melihat proses pembangunan lebih dekat. Namun hal itu tidak mungkin aku lakukan. Aku menahan diri meski rasanya sangat ingin terlibat langsung di area.

Pelan-pelan suara zikir tidak sesanter sebelumnya. Tapi sudah mulai agak lembut. Dengungan seperti lebah pun mulai reda. Aku melihat semua makhluk kembali ke formasi sebelumnya. Masya Allah! Sungguh di luar dugaan. Ternyata setelah terang yang terlihat bukan hanya istana, tapi satu kota, lengkap dengan area perkotaan, jalan, taman dan alun-alun. Demi melihat istana megah dan area kota dominan berwarna biru laut, kakiku jadi gemetar. Aku tak bisa menahan rasa takjubku. Nenek Kam menggenggam erat telapak tanganku. Beliau juga sama sepertiku, tak mampu berkata-kata. Tak lama salah satu santri melantunkan adzan. Suaranya yang syahdu membuat air mataku meleleh. Usai adzan sebagai rasa syukur karena pembangunan selesai, ditutup doa oleh salah satu Kyai.

Di sisi utara, Pandita masih memimpin gita. Bangunan pure membawa anganku jauh ke pulau Dewata. Di sebelahnya, berdiri masjid dengan atap dan kubah berwarna biru senada dengan istana. Desain bangunan betul-betul indah. Nuansa islami tertuang di ornamen atas pintu, jendela, dinding dan sisi-sisi semua bangunan. Sementara nuansa hindu, tertuang di ukiran-ukiran pada tiang serta ujung atap dan bubungan, beberapa dinding, dan pintu masuk. Penggabungan dua agama itu sangat ketara dan kental sekali.

Aku memandang sisi selatan istana. Di sana dipersiapkan untuk pusat keramaian. Jalan-jalan dan taman sudah tertatah rapi. Demikian juga bangunan-bangunan semacam rumah hunian berjajar sama besar. Posisi istana persis di tengah-tengah, mudah dijangkau dari seluruh penjuru. Yang lebih membuatku takjub adalah area luas kerajaan semuanya sudah dipangar tinggi. Pada bagian pintu gerbang sisi kiri dan kanan seperti dijaga dua ekor naga berhadapan. Sejenak aku mengamati dua patung naga berhadapan itu. Kedua patung naga tampak hidup. Apalagi warna emas dan hijau yang menghiasi setiap bagian tubuhnya. Sekilas aku tercengang. Dua naga itu mirip naga tunggangan Nini Ratu. Masya Allah!

Beberapa waktu lagi, fajar tiba. Pembangunan istana sudah selesai. Para santri telah berkumpul kembali. Sebelum mereka pulang, mereka masuk istana, menikmati keindahan karya mereka. Demikian juga para sesepuhku, tidak ada yang ketinggalan. Mereka berkeliling istana bahkan kota, sembari tersenyum puas dan berdecak kagum. Sementara aku tak bisa berkata-kata ketika menuju singgasana. Ruangan besar dan megah ini lengkap dengan perabot, berwarna emas dan biru. Lalu tiang-tiang besar dihiasi dengan ukiran-ukiran berwarna biru dan emas. Lurus dengan singgasana ada jalan luas sekali lurus menuju pintu ke luar istana. Masya Allah semuanya tampak sempurna.

“Semoga kerajaan Timur Laut Banyuwangi ini menjadi kerajaan yang aman, jelas kepemimpinannya, sejahtera semua penghuninya. Kanjeng bisa bekerjasama dengan kami untuk misi dakwah. Kami siap membantu kapan saja” Ujar seorang Kiayi padaku. Aku mengaturkan terimakasih sedalam-dalamnya mendapatkan tawaran itu. Ini adalah sinyal hijau untuk membuat rakyatku lebih maju, dan belajar agama pada beliau.

Usai berkeliling, menikmati semua sisi istana, para tetamu izin pulang. Sebelymnya bersama sesepuh dan Kyai aku kembali memagari kerajaan ini agar terhindar dari gangguan-gangguan makhluk kerajaan lain. Sebab di sekeliling kerajaan banyak berdiri kerajaan-kerajaan kecil, tidak menutup kemungkinan mereka cemburu atau hendak menggangu melihat kerajaan Timur Laut Banyuwangi ini kembali berdiri.

Dalam waktu singkat, kerajaan Timur Laut Banyuwangi sepi. Beberapa saat lagi waktu subuh tiba. Para sesepuh, tokoh agama, berserta santri dan jamaah, baik dari golongan muslim mau pun hindu telah meninggalkan kerajaan. Aku bersama Nyi Ratih, Eyang Gola, dan Pandita Siwa Sri Satya kembali ke luar istana menemui kelompok yang mengaku rakyat Timur Laut Banyuwangi. Melihat kehadiranku, ratusan makhluk asral ini serentak memberi hormat.
“Om Swastyastu. Sembah sujud kami, Kanjeng Ratu. Izinkan kami kembali ke kerajaan. Negeri yang membuat kami rindu” Satu sosok mewakili kelompok besar itu menundukan kepala dan memberi hormat berkali-kali padaku diikuti yang lain.
“Angkatlah kepala, Paman. Terimakasih Paman dan semua masih setia dengan kerajaan. Saya berharap, kita semua dapat bekerjasama membangun kerajaan kita lebih baik bersama-sama. Satu hal yang perlu saya tegaskan, saya tidak ingin rakyatku mengadakan perjanjian, persengkokolan dengan bangsa manusia, terutama para dukun. Apalagi jika kalian menggantungkan hidup pada mereka, membantu mereka merusak sesama makhluk hidup. Saya juga tidak mau jika ada rakyatku mengusik negeri lain. Jika kalian sepakat, maka saya ijinkan untuk kembali ke kerajaan. Tapi setelah kembali ke kerajaan, kalian berkhianat, ingat! Saya tidak pandang bulu. Akan kukejar dan akan kubunuh dengan tanganku sendiri” Ujarku. Suasana hening. Aku tahu beberapa sosok tidak bisa menerima syarat yang kuajukan. Hal ini terlihat dari aura yang terpancar pada tubuh dan raut mereka.

Huf…huf…huf!
Tiba-tiba tangan Eyang Gola berayun ke atas, lalu entah darimana asalnya, tangan beliau telah memegang selembar kulit lembu di dalamnya tertera tulisan Sansekerta.
“Ucapan kanjeng ratu telah hamba tulis di sini agar bisa dibaca oleh rakyat Timur Laut Banyuwangi, baik yang sudah kembali mau pun yang belum, Kanjeng” Paman Gola menyerahkan galungan kulit berukuran besar itu padaku. Selanjutnya beliau gantung di luar pintu istana.

“Kami sepakat dengan syarat itu, Kanjeng. Kami berjanji akan selalu setia pada kerajaan hingga akhir hayat kami” Kembali wakil salah satu mereka berbicara.
“Baik jika demikian Paman. Saya akan buka pintu untuk kalian. Namun sebelumnya, mohon maaf, sebelum kalian masuk izinkan kami untuk membersihkan kalian terlebih dahulu” Ujarku. Selanjutnya aku dan Nyi Ratih serentak membasuh seluruh tubuh mereka dengan air doa. Selanjutnya mereka yang masih terikat perjanjian dengan makhluk lain kuputuskan. Raungan dan jerit pemutusan itu seperti suara petir menyambar berkali-kali. Setelah semuanya kuyakini bersih, Nyi Ratih memberikan busana yang sama pada mereka.
“Tidak ada lagi rakyat Timur Laut Banyuwangi yang tidak berbusana. Kita bangun kerajaan kita menjadi kerajaan yang berbudaya” Lanjut Nyi Ratih tegas. Ratusan sosok di hadapanku telah berpakain semua. Tidak ada lagi yang telanjang bulat dengan perut dan lidah terjulur, rambut kusut masai hingga tanah, tubuh seperti lumut, mata melotot dan wajah berdarah-darah. Ada yang bersisik seperti ular dan lain sebagainya. Mereka diberi kekuatan untuk mengubah fisik mereka lebih baik, tidak menampakkan sosok aslinya. Semua kekuatan negatif mereka telah kukunci. Bahkan sebagian kumusnakan terutama kekuatan sihir sebagai ilmu warisan.

Aku memeluk Nyi Ratih ketika melihat wajah rakyatku berubah menjadi sosok yang rapi, tidak menyeramkan lagi. Kekuatan yang dimiliki Nyi Ratih turut membantu mereka mengubah diri sesuai yang mereka inginkan.

Mereka berhamburan penuh haru ketika pintu gerbang istana kubuka. Istana masih terlalu sepi meski sudah berisi ratusan makhluk. Pandita Siwa Sri Satu menggiring mereka semua menuju pure. Beliau membimbing mereka untuk ibadah terlebih dahulu.

Di alam nyata suara azan telah berkumandang. Aku dan Nyi Ratih segera menuju masjid megah yang baru berdiri. Sejenak kami saling tatap, siapa yang akan azan dan menjadi imam? Kami tertawa bersamaan. Bagaimana mungkin masjid sebesar ini hanya kami berdua? Siapa muazin dan siapa imamnya? Akhirnya aku memanggil seorang kiayi salah satu pondok pesantren gaib di Banyuwangi.

“Baiklah Kanjeng Ratu. Hamba bersama murid hamba siap berjamaah di masjid kanjeng Ratu,” jawab beliau. Rupanya Kyai berasal dari sebuah pondok pesantren gaib di perbukitan sekitar Banyuwangi itu sangat memaklumi. Padahal baru saja beliau bersama santrinya pulang usai membantu pembangunan istanaku. Akhirnya mereka kuizinkan masuk istana dan berkativitas di masjid. Tak lama suara azan berkumandang dari masjid agung kerajaan yang belum sempat diberi nama.

Allahu Akbar!
Ketika takbir dimulai, kupasrahkan jiwa ragaku demi mengalahkan segenap nafsu duniawi yang menjejal tak ada habisnya.

Bersambung…

Satu tanggapan untuk “HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT VI (86A)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *